
JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong pemerataan akses pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi, terutama di wilayah yang masih kekurangan tenaga medis dan belum memiliki program studi terkait.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek, Khairul Munadi, mengatakan pengembangan pendidikan kedokteran membutuhkan inisiatif perguruan tinggi serta dukungan berbagai pihak agar dapat menjawab kebutuhan tenaga dokter di Indonesia.
Hal itu disampaikan Khairul dalam kegiatan Program Akselerasi Peningkatan Akses serta Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Kedokteran Gigi di Jakarta, Kamis (22/10).
Menurut Khairul, upaya perguruan tinggi dalam membuka akses pendidikan kedokteran dapat menjadi praktik baik yang diterapkan oleh institusi pendidikan lainnya. Ia berharap program yang sedang dikembangkan dapat segera beroperasi dengan tetap memperhatikan standar mutu pendidikan.
“Kami dari kementerian tentu saja mengapresiasi upaya dan inisiatif yang luar biasa. Ini menjadi praktik baik yang bisa kita tularkan kepada yang lain,” ujar Khairul.
Ia menjelaskan, pemerataan program pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, khususnya di daerah yang belum memiliki fakultas atau program studi tersebut.
Ketersediaan tenaga dokter, lanjutnya, berkaitan dengan kemampuan institusi pendidikan dalam menyiapkan calon tenaga medis yang kompeten. Karena itu, pengembangan program baru perlu diikuti kesiapan sarana, sumber daya manusia, dan kualitas pembelajaran.
Apresiasi
Dalam kesempatan yang sama, anggota DPR RI sekaligus Ketua Fraksi PKB DPR RI, Jazilul Fawaid, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemendiktisaintek terhadap pengembangan pendidikan kedokteran di perguruan tinggi berbasis pesantren.
Jazilul mengatakan, pihaknya menyiapkan beasiswa bagi 25 santri sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan melanjutkan pendidikan kedokteran. Komitmen tersebut disampaikannya bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober.
“Kami sudah tanda tangan pernyataan akan memberikan beasiswa untuk 25 santri sebagai kado program Hari Santri,” kata Jazilul.
Ia menjelaskan, penerima beasiswa direncanakan berasal dari wilayah Pantura Jawa Timur dan daerah-daerah tertinggal. Meski demikian, calon penerima tetap akan melalui proses seleksi.
Menurut Jazilul, pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi memiliki persyaratan yang cukup ketat, mulai dari penyediaan fasilitas, kesiapan tenaga pengajar, hingga pemenuhan rekomendasi dari kementerian terkait.
Ia menegaskan, perguruan tinggi yang memperoleh dukungan untuk mengembangkan pendidikan kedokteran harus memastikan kesiapan penyelenggaraan program, baik dari sisi kualitas maupun hasil pendidikan.
“Kami tidak ingin mengecewakan amanat yang diberikan kementerian kepada kita. Jadi, kita harus benar-benar siap dari sisi kualitas, mutu, dan sasaran hasilnya,” ujarnya.
Program akselerasi pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan belajar bagi calon dokter sekaligus mendukung pemerataan distribusi tenaga medis. Pelaksanaannya tetap memerlukan pemenuhan standar akademik dan fasilitas agar peningkatan akses berjalan seiring dengan kualitas lulusan.
Dukungan beasiswa bagi santri juga menjadi salah satu langkah untuk membuka kesempatan pendidikan profesi bagi kelompok masyarakat yang lebih luas, dengan tetap mempertimbangkan persyaratan akademik dan kesiapan calon mahasiswa.