Tantangan Dunia Kerja, Wamendiktisaintek Dorong Kesiapbekerjaan Lulusan Pendidikan Vokasi

AKM • Monday, 3 Aug 2026 - 15:13 WIB
Grand Final Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026 dan Kongres X Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Surabaya–Transformasi dunia kerja yang dipengaruhi perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri menuntut pendidikan vokasi untuk terus meningkatkan relevansi pembelajaran. Perguruan tinggi vokasi dituntut menghasilkan lulusan yang berkarakter, berintegritas, serta mampu menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,68% atau sebanyak 7,24 juta orang. Sementara itu, berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) pada Statistik Pendidikan Tinggi 2025, Indonesia memiliki 755 perguruan tinggi vokasi yang terdiri atas 283 politeknik, 443 akademi, dan 29 akademi komunitas. Jumlah ini merupakan kekuatan strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia terampil. Tantangan transformasi dunia kerja menunjukkan pentingnya memperkuat keterkaitan antara pendidikan vokasi, kebutuhan industri, dan pembangunan nasional agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan bahwa penguatan karakter dan relevansi, menjadi salah satu agenda utama transformasi pendidikan vokasi. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Grand Final Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026 dan Kongres X Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (2/8).

"Ada tiga hal yang selalu menuntut adanya solusi dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan vokasi, yaitu mutu, akses, dan relevansi. Saya ingin mengajak kita semua melakukan introspeksi terhadap tata kelola penyelenggaraan pendidikan vokasi, khususnya terkait relevansi," tegas Wamen Fauzan.

Wamendiktisaintek menjelaskan bahwa perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan lulusan tidak hanya menguasai keterampilan praktis, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Berdasarkan data BPS 2025, terdapat 1.050.764 angkatan kerja berpendidikan tinggi yang masih menganggur. Wamendiktisaintek menyoroti kondisi ini, menekankan bahwa perguruan tinggi termasuk vokasi harus mampu memberikan kepastian bahwa mahasiswa memperoleh kompetensi yang dibutuhkan industri sekaligus memiliki peluang yang lebih baik setelah lulus. Hal ini dipandang krusial terutama mengingat Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) kini bergerak dinamis untuk mengikuti perkembangan teknologi.

“Kalau kita melihat data BPS tentang pengangguran, angka pengangguran yang berlatar belakang pendidikan vokasi masih tinggi. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya dalam rangka memperkuat relevansi di dunia industri yang dinamis. Pendidikan vokasi bertanggung jawab untuk memberikan kepastian kepada mahasiswa bahwa setelah lulus mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan dan peluang untuk memperoleh pekerjaan,” tegas Wamen Fauzan. 

Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui Asta Cita yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045, termasuk melalui penguatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk meningkatkan daya saing bangsa. Dalam konteks tersebut, pendidikan vokasi berperan strategis untuk menerjemahkan penguasaan sains dan teknologi menjadi kompetensi terapan. Menindaklanjuti arahan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto terus mendorong implementasi Diktisaintek Berdampak agar pendidikan tinggi menghasilkan lulusan, inovasi, dan kolaborasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha dan dunia industri.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menegaskan bahwa pendidikan vokasi harus mampu menjadi penggerak inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Perguruan tinggi tidak boleh berdiri sebagai menara gading, tetapi harus menjadi menara air yang memberikan kehidupan bagi masyarakat, bangsa, dan negara," jelas Martadi.

Ketua Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI), Muhammad Restu, menyampaikan bahwa OLIVIA menjadi ruang strategis bagi mahasiswa vokasi untuk menunjukkan kemampuan inovasi sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia unggul yang siap mendukung pembangunan nasional.

"Mahasiswa vokasi memiliki peran strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, terampil, inovatif, dan siap kerja untuk menopang akselerasi pembangunan nasional," kata Ketua FPTVI.

Kemdiktisaintek akan terus memperkuat transformasi pendidikan vokasi melalui peningkatan relevansi pembelajaran, penguatan karakter lulusan, serta kolaborasi yang erat dengan dunia usaha dan dunia industri. Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, perguruan tinggi vokasi diharapkan mampu melahirkan talenta yang adaptif dan siap memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.