Hadapi AI dan Quantum Computing, Mendiktisaintek Dorong Indonesia Perkuat Talenta Sains

AKM • Friday, 25 Sep 2026 - 17:53 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto

JAKARTA — Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi komputasi yang semakin cepat mendorong pemerintah memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) di bidang sains dan teknologi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai penguasaan sains dasar menjadi fondasi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu ikut mengembangkan teknologi strategis.

Brian mengatakan perkembangan teknologi seperti AI dan quantum computing akan membutuhkan talenta dengan kemampuan yang semakin spesifik. Karena itu, pendidikan tinggi perlu diarahkan untuk membangun kemampuan generasi muda dalam memahami sekaligus menciptakan teknologi.

“Perkembangan teknologi ke depan ini sangat cepat. Pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah talenta-talenta, SDM-SDM yang siap masuk ke wilayah itu,” ujar Brian saat memberikan sambutan pada Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDIxIFSE) 2026, Jumat (25/9/2026).

Menurut Brian, penguatan talenta tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi digital. Generasi muda juga perlu dibekali kemampuan matematika, MIPA, teknik, basic science, hard science, hingga hard engineering.

Ia menilai bidang-bidang tersebut merupakan dasar bagi pengembangan teknologi yang lebih maju. Penguasaan terhadap sains fundamental juga dinilai penting untuk membangun kapasitas teknologi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi yang dikembangkan dari luar negeri.

“Padahal justru kemajuan science-technology itu backbone-nya adalah basic science, hard science, hard engineering,” kata Brian.

Brian mencontohkan keberadaan talenta asal Indonesia yang telah mengambil peran dalam industri teknologi global. Ia menyebut seorang talenta Indonesia yang menduduki posisi Chip Architect Lead di NVIDIA sebagai salah satu contoh bahwa SDM Indonesia memiliki peluang untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi tingkat dunia.

Selain pengembangan SDM, pemerintah juga mulai mendorong penguasaan teknologi strategis di dalam negeri. Brian menyebut Indonesia bersama sejumlah mitra, termasuk Danantara, BUMN, dan Peruri, mendapat tugas mengembangkan teknologi chip yang antara lain dibutuhkan untuk mendukung identitas digital seperti paspor, SIM, dan KTP.

Menurut dia, kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tidak dapat dilepaskan dari kesiapan talenta nasional. Pendidikan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam menyediakan sumber daya manusia yang dapat mengisi kebutuhan industri sekaligus mendukung pengembangan teknologi strategis.

Dorong Kolaborasi Kampus dan Industri

Brian juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri. Menurutnya, kolaborasi diperlukan agar riset dan pengembangan teknologi di kampus semakin dekat dengan persoalan yang dihadapi masyarakat dan kebutuhan industri.

Ia mengajak mahasiswa dan talenta digital untuk tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi berani mengembangkan gagasan dari persoalan nyata. Kolaborasi lintas disiplin juga dinilai diperlukan karena perkembangan teknologi semakin mempertemukan berbagai bidang keilmuan.

“Kepada para mahasiswa dan talenta digital yang hadir hari ini, saya ingin berpesan: teruslah belajar, teruslah mencoba, teruslah berusaha,” ujarnya.

Brian mengatakan kegagalan dalam mengembangkan sebuah gagasan merupakan bagian dari proses inovasi. Karena itu, generasi muda didorong untuk terus menguji gagasan dan mencari solusi berdasarkan pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi.

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam kesempatan yang sama turut menyoroti kebutuhan terhadap talenta dengan kemampuan teknologi. Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi terus berkembang, sementara ketersediaan talenta menjadi salah satu tantangan.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan SDM yang dilakukan secara lintas sektor. Perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dinilai perlu memperluas ruang kerja sama agar kebutuhan talenta dapat diantisipasi sejalan dengan perubahan teknologi.

Penguatan sains dasar dan teknologi pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tenaga kerja digital, tetapi juga dengan kemampuan Indonesia membangun teknologi sendiri. Pemerintah mendorong ekosistem pendidikan tinggi, riset, industri, dan inovasi semakin terhubung agar talenta nasional dapat mengambil peran dalam perkembangan teknologi yang terus berubah.