Waduk Cilangkap Batu Licin Jakarta Dirsemikan, Fahira Idris Dorong Penanganan Banjir Terpadu

AKM • Wednesday, 14 Jan 2026 - 16:10 WIB
Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta, Fahira Idris (Istimewa)

Jakarta— Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta, Fahira Idris, menilai peresmian Waduk Cilangkap Batu Licin di Jakarta Timur sebagai langkah positif dalam upaya pengendalian banjir ibu kota. Namun, ia menegaskan bahwa keberadaan waduk baru tidak akan optimal jika tidak didukung kebijakan penanganan banjir yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Waduk Cilangkap Batu Licin diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Senin (12/1). Infrastruktur tersebut dibangun sebagai bagian dari strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menekan risiko banjir, seiring meningkatnya curah hujan ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

“Pembangunan waduk ini patut diapresiasi karena menunjukkan keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam menyiapkan solusi jangka menengah dan panjang. Namun banjir di Jakarta adalah persoalan sistemik, sehingga tidak bisa diselesaikan dengan satu infrastruktur saja,” ujar Fahira Idris di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/1).

Fahira menilai, hujan deras yang kembali menyebabkan genangan dan banjir di sejumlah wilayah Jakarta dalam beberapa hari terakhir menjadi pengingat bahwa pengendalian banjir membutuhkan pendekatan menyeluruh.

"Waduk harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan air terpadu yang melibatkan sungai, saluran drainase, pompa, hingga tata ruang kota," imbuhnya.

Empat Harapan

Ia menyampaikan empat hal yang dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah daerah agar fungsi waduk dapat berjalan optimal. Pertama, pembangunan dan revitalisasi infrastruktur pengendali air harus dilakukan secara berkelanjutan dan saling terhubung. 

“Waduk baru perlu diintegrasikan dengan jaringan sungai dan drainase yang ada, sementara waduk lama harus dijaga kapasitas tampungnya melalui pengerukan rutin,” pinta Fahira.

Kedua, penataan sungai dan sistem drainase kota perlu dipercepat dengan pendekatan yang adil bagi masyarakat. Normalisasi dan naturalisasi sungai, menurut Fahira, harus disertai perlindungan bagi warga terdampak serta peningkatan kapasitas pompa di titik-titik rawan genangan.

“Kita tidak bisa terus bersikap reaktif setiap kali banjir terjadi. Pengelolaan air harus bersifat preventif dan direncanakan secara matang,” katanya.

Ketiga, Fahira menekankan pentingnya pendekatan ekologis dalam pengendalian banjir. Perluasan ruang terbuka hijau dan biru, pembangunan sumur resapan, serta penerapan solusi berbasis alam dinilai penting untuk meningkatkan daya serap air hujan dan mengurangi limpasan permukaan.

Keempat, ia mendorong penguatan kerja sama regional di wilayah Jabodetabek dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Menurutnya, banjir Jakarta tidak hanya dipengaruhi curah hujan lokal, tetapi juga aliran air dari daerah penyangga serta ancaman rob di wilayah pesisir.

“Pengendalian banjir Jakarta tidak bisa dilepaskan dari koordinasi lintas daerah. Diperlukan peta jalan bersama yang berbasis data dan risiko,” ujarnya.

Fahira juga mengingatkan agar setiap kebijakan penanggulangan banjir tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat, khususnya kelompok rentan yang paling terdampak ketika banjir terjadi.

Ia berharap Waduk Cilangkap Batu Licin dapat menjadi bagian dari strategi besar penanganan banjir Jakarta

“ Menjadi strategi besar penanganan banjir Jakarta yang mengombinasikan pembangunan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, serta kolaborasi lintas wilayah secara konsisten,” pungkasnya.