
JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang mencapai 5,52 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta, Fahira Idris. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi ibu kota di tengah ketidakpastian ekonomi global sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pertumbuhan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
Fahira menilai pertumbuhan ekonomi Jakarta yang berada di atas rata-rata nasional sebesar 5,29 persen tidak terlepas dari kontribusi masyarakat, pelaku usaha, serta berbagai sektor ekonomi yang tetap bergerak di tengah tantangan global.
"Pertumbuhan 5,52 persen adalah kabar positif dan patut kita syukuri. Apresiasi kepada warga, pekerja, UMKM, dunia usaha, investor, dan Pemprov DKI Jakarta. Mereka adalah penggerak utama yang membuat ekonomi Jakarta tetap tangguh di tengah tekanan global," ujar Fahira Idris di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5/8).
Ia mengungkapkan, struktur perekonomian Jakarta masih ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga yang memberikan kontribusi sebesar 63,24 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB). Di sisi lain, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,52 persen, sementara sektor perdagangan besar dan eceran tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap aktivitas ekonomi ibu kota.
Menurut Fahira, capaian tersebut harus menjadi pijakan bagi pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan agar lebih merata dan berkelanjutan.
Salah satu hal yang dinilai perlu menjadi perhatian adalah menjaga stabilitas keamanan, kepastian kebijakan, serta kenyamanan berusaha. Ia menilai iklim investasi yang kondusif akan memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan mendorong aktivitas ekonomi tetap tumbuh.
"Modal utama dunia usaha adalah kepercayaan. Jakarta harus terus dijaga sebagai kota yang aman, nyaman, terbuka, dan memiliki kepastian kebijakan. Stabilitas bukan hanya urusan keamanan, tetapi juga kepastian bahwa kegiatan warga dan dunia usaha dapat berjalan tanpa gangguan," katanya.
Fahira juga menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi, stabilitas harga kebutuhan pokok, kelancaran distribusi pangan, serta penguatan program perlindungan sosial. Mengingat konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Jakarta, menurutnya daya beli masyarakat harus tetap terjaga, terutama bagi kelompok berpendapatan menengah ke bawah.
Selain itu, ia mendorong pemerintah memperluas penciptaan lapangan kerja yang berkualitas melalui penguatan pelatihan vokasi, sertifikasi keterampilan, serta kemitraan antara dunia usaha, perguruan tinggi, dan pemerintah. Pertumbuhan sektor kuliner, perdagangan, ekonomi digital, industri kreatif, dan jasa dinilai harus mampu menghasilkan lebih banyak kesempatan kerja.
Di sektor usaha, Fahira meminta perhatian lebih besar terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, akses pembiayaan, digitalisasi usaha, peningkatan kualitas produk, hingga kemudahan perizinan perlu terus diperluas agar pelaku usaha kecil mampu meningkatkan daya saing.
"Ekonomi Jakarta jangan hanya tumbuh di kawasan bisnis besar. Pertumbuhan harus terasa di pasar rakyat, warung, sentra kuliner, industri rumahan, dan usaha anak muda. Ekonomi warga yang kuat akan membuat Jakarta lebih tangguh menghadapi tekanan global," ujarnya.
Lebih lanjut, Fahira menilai investasi yang masuk ke Jakarta harus memberikan dampak nyata terhadap perekonomian, termasuk menciptakan lapangan kerja, mendorong alih teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperkuat peran UMKM dalam rantai ekonomi.
Ia juga berharap belanja pemerintah diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi, seperti transportasi publik, pendidikan, kesehatan, ekonomi digital, dan pembangunan infrastruktur.
"Momentum positif ini harus terus dijaga. Jakarta bukan hanya harus tumbuh lebih tinggi, tetapi juga tumbuh lebih berkualitas, inklusif, dan tahan terhadap tekanan. Iklim investasi harus semakin kondusif, kegiatan ekonomi semakin produktif, dan manfaat pertumbuhan harus semakin nyata dirasakan warga," pungkas Fahira.