
Jakarta – Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta, Fahira Idris, menyampaikan ucapan selamat Milad ke-51 kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) seraya mengapresiasi peran strategis lembaga tersebut dalam menjaga nilai-nilai keislaman, memperkuat persatuan umat, dan menjadi rujukan moral bangsa selama lebih dari lima dekade. Menurut Fahira, MUI telah membuktikan eksistensinya sebagai mitra umat dan bangsa di tengah berbagai dinamika sosial yang terus berkembang.
"Selamat Milad ke-51 Majelis Ulama Indonesia. Terima kasih kepada para ulama, zu'ama, cendekiawan Muslim, dan seluruh jajaran MUI yang selama ini terus membersamai umat, menjaga ukhuwah, menuntun umat, dan memberi arah bagi bangsa. Selama 51 tahun, MUI telah menjadi pelita moral yang sangat penting bagi Indonesia," ujar Fahira Idris dalam keterangan tertulisnya, Ahad (26/7).
Fahira menilai, sejak berdiri pada 26 Juli 1975, MUI konsisten menjalankan fungsi sebagai pelayan umat, penjaga akhlak bangsa, sekaligus penguat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Menurutnya, MUI tidak hanya berperan dalam memberikan panduan keagamaan, tetapi juga menjadi perekat harmoni sosial melalui berbagai fatwa dan pandangan yang menyejukkan dalam menyikapi persoalan kebangsaan.
Ia mengungkapkan, kontribusi MUI juga terlihat dalam berbagai isu strategis, mulai dari ibadah, keluarga, ekonomi syariah, sertifikasi halal, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, hingga lingkungan hidup. "MUI memiliki peran yang sangat strategis karena berada di titik temu antara tuntunan agama, kebutuhan umat, dan kepentingan bangsa. Di sinilah pentingnya MUI terus menjadi penyejuk, perekat, sekaligus penuntun agar umat memiliki pegangan yang kokoh di tengah perubahan zaman," katanya.
Sebagai cucu almarhum Prof. KH. Hasan Basri yang pernah menjabat Ketua Umum MUI periode 1984–1998, Fahira menyampaikan bahwa perjalanan panjang MUI dibangun atas keikhlasan, ilmu, dan pengabdian para ulama terdahulu. Fondasi tersebut, menurutnya, menjadikan MUI tetap kokoh sebagai rumah besar umat Islam Indonesia yang mampu menjaga keseimbangan antara nilai-nilai agama dan kepentingan kebangsaan.
Semakin Kompleks
Di sisi lain, Fahira menilai tantangan yang dihadapi MUI ke depan semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), derasnya arus informasi, persoalan keluarga, perlindungan anak, hingga ketahanan moral generasi muda membutuhkan panduan keagamaan yang relevan dan mudah dipahami masyarakat.
"Tantangan umat hari ini semakin luas, dan alhamdulillah MUI terus hadir dengan bahasa dakwah yang menyejukkan, argumentasi keilmuan yang kuat, serta pendekatan yang mampu menjangkau generasi muda. Saat ini dan ke depan, generasi digital membutuhkan panduan agama yang kokoh, tetapi juga komunikatif dan relevan dengan kehidupan mereka," ujarnya.
Fahira juga berharap MUI terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan umat melalui pengembangan ekonomi syariah, produk halal, zakat, infak, sedekah, wakaf, pemberdayaan UMKM, penguatan ketahanan keluarga, pendidikan karakter, hingga pembinaan akhlak publik. Menurutnya, dakwah harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan agar umat semakin mandiri secara spiritual, sosial, dan ekonomi.
"MUI memiliki posisi penting untuk terus menggerakkan kemandirian umat. Umat yang kuat akidahnya, baik akhlaknya, rukun persaudaraannya, dan mandiri ekonominya akan menjadi kekuatan besar bagi Indonesia," tutur Fahira.
Menutup pernyataannya, Fahira mendoakan agar MUI terus diberikan kekuatan dan hikmah dalam menjalankan amanahnya bagi umat dan bangsa.
"Semoga MUI terus menjadi pelita bagi umat, penjaga akhlak bangsa, penguat persaudaraan, dan pemberi arah dalam membangun Indonesia yang religius, damai, adil, dan bermartabat. Ulama membimbing umat, umat menguatkan bangsa," pungkasnya.