
BEKASI – Jauh dari orang tua bukan penghalang bagi Libo Rius Konayap untuk mengejar cita-cita. Siswa kelas VII Sekolah Rakyat di Bekasi yang berasal dari Papua Selatan ini menyimpan impian besar: menjadi tentara agar kelak bisa membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Cita-cita itu disampaikan Libo saat berbincang mengenai kehidupan dan harapannya di masa depan. Ketika ditanya ingin menjadi apa setelah menyelesaikan pendidikan, ia menjawab ingin menjadi tentara.
Alasannya sederhana, tetapi penuh makna. “Mau membela negara,” ujar Libo, di Bekasi Minggu (18/10/2026)
Keinginan tersebut menjadi gambaran semangat seorang anak dari Papua Selatan yang tengah menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. Di tengah pengalaman baru dan kerinduan kepada keluarga, Libo berusaha menjalani hari-harinya di sekolah sembari menyimpan harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Libo mengaku berada di Sekolah Rakyat setelah diajak oleh abang angkatnya. Awalnya, ia tidak mengetahui banyak tentang program pendidikan tersebut. Namun, setelah menjalani kegiatan belajar, ia mulai merasakan manfaatnya.
Menurut Libo, fasilitas yang tersedia di sekolahnya saat ini lebih baik dibandingkan dengan yang ia rasakan sebelumnya di Papua. Ia pun mengaku nyaman belajar bersama teman-teman yang berasal dari berbagai daerah.
“Di sini lebih bagus. Fasilitasnya bagus,” tuturnya.
Salah satu mata pelajaran yang paling disukai Libo adalah matematika. Ketertarikannya terhadap pelajaran tersebut menjadi bagian dari aktivitas belajar yang ia jalani setiap hari. Di luar kegiatan akademik, ia juga mengikuti rutinitas bersama siswa lain, termasuk kerja bakti untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Kehidupan Libo kini berpusat di lingkungan asrama. Ia tinggal di asrama putra bersama sekitar sembilan siswa lainnya dalam satu kamar. Berbagai kegiatan dijalani secara teratur, mulai dari bangun pagi, mandi, menggosok gigi, menyiapkan perlengkapan, hingga berangkat mengikuti pembelajaran.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para siswa memperoleh makan tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan malam. Libo menyebut menu yang disediakan cukup beragam, di antaranya ayam dan ikan.
Sebagai siswa beragama Kristen, Libo juga mendapatkan pendampingan dari guru agama Kristen di sekolah. Ia mengatakan tersedia guru yang membimbing siswa dalam pendidikan agama, meskipun tempat ibadah berupa gereja di lingkungan sekolah belum selesai dibangun.
Berada di lingkungan dengan siswa dari berbagai latar belakang daerah tidak membuat Libo merasa tersisih. Ia mengaku tidak pernah mengalami ejekan dari teman-temannya. Kehidupan bersama di asrama memberinya kesempatan untuk beradaptasi, belajar mandiri, dan membangun pertemanan.

Meski demikian, tinggal jauh dari orang tua yang berada di Papua Selatan bukan perkara mudah. Dalam percakapan tersebut, Libo mengakui sempat menangis karena harus berjauhan dari keluarga. Kerinduan itu menjadi bagian dari pengalaman yang harus ia hadapi selama menempuh pendidikan di Bekasi.
Libo mulai tinggal di Sekolah Rakyat sejak Agustus 2026. Dengan dukungan abang angkatnya dan fasilitas pendidikan yang tersedia, ia terus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru serta menjalani kegiatan belajar dengan baik.
Di balik rutinitas sebagai siswa kelas VII, Libo memiliki tujuan yang ingin diwujudkan pada masa mendatang. Ia ingin menjadi tentara, profesi yang baginya merupakan jalan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
Keinginan membela NKRI menjadi pesan paling kuat dari cita-cita Libo. Impian itu masih panjang perjalanannya, tetapi pendidikan yang tengah ia tempuh menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan masa depannya.
Dari Papua Selatan, Libo kini belajar dan tumbuh di Bekasi. Dengan semangat belajar serta cita-cita menjadi tentara, ia membawa harapan untuk suatu hari nanti mengenakan seragam prajurit dan ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.