
BOGOR — EIGER mengubah nama destinasi wisata yang dikembangkannya di Bogor, Jawa Barat, dari EIGER Adventure Land menjadi EIGER Nature. Perubahan tersebut dilakukan menjelang destinasi itu dibuka untuk publik dan disebut sebagai bagian dari penajaman konsep pengembangan kawasan.
Direktur Utama EIGER Nature, Imanuel Wirajaya, mengatakan perubahan nama tersebut tidak hanya berkaitan dengan identitas, tetapi juga arah pengelolaan kawasan yang mengedepankan prinsip ekowisata.
Menurut Imanuel, pengembangan kawasan diarahkan agar aktivitas wisata dapat berjalan beriringan dengan perhatian terhadap lingkungan, budaya, dan masyarakat sekitar.
“EIGER Nature merupakan bagian dari perjalanan panjang EIGER untuk terus belajar dari alam, budaya, dan manusia. Perubahan ini bukan sekadar tentang nama, tetapi tentang komitmen kami untuk membangun ekowisata yang dapat menjadi berkat bagi pengunjung, alam, budaya, dan masyarakat,” ujar Imanuel dalam keterangan tertulis kepada Media, Jakarta, Senin (7/9).
Dalam konsep yang dikembangkan, EIGER Nature menggunakan pendekatan yang sebelumnya disebut 3E, yakni ekologi, etnologi, dan ekonomi. Konsep tersebut kemudian diperluas menjadi 7E dengan menambahkan unsur edukasi, estetika, etika, dan hiburan.
Pendekatan itu menjadi dasar dalam perencanaan kawasan dan kegiatan yang akan dijalankan. Pengelola menyatakan aspek konservasi, pelestarian budaya, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari pengembangan destinasi.
Dari sisi lingkungan, sejumlah kegiatan disebut telah dilakukan selama proses pengembangan. Di antaranya penanaman lebih dari 120.000 pohon dan sekitar 8 juta semak serta tanaman penutup tanah.
Pengelola juga menyebut telah melakukan pemulihan lahan, pendataan keanekaragaman hayati, pengelolaan air dan hidrologi, serta pengelolaan sampah di kawasan tersebut.
“Bagi kami, ekowisata bukan sekadar membawa orang ke alam. Ekowisata harus mampu membangun hubungan yang lebih baik antara manusia, alam, budaya, dan masyarakat, sekaligus memberikan manfaat yang berkelanjutan,” kata Imanuel.
Selain aspek lingkungan, pengembangan kawasan juga dikaitkan dengan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. EIGER Nature menyebut telah melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja dalam proses pengembangannya, termasuk sekitar 300 orang dari masyarakat sekitar.