Dari Pekanbaru untuk Indonesia: Menjawab Tantangan Geopolitik Melalui Regenerasi Keummatan

MUS • Monday, 24 Aug 2026 - 21:50 WIB

Pekanbaru — Perubahan peta geopolitik dunia yang semakin dinamis, perlu dibaca lebih serius oleh umat, bukan hanya sebagai rangkaian konflik antarnegara, tetapi sebagai perubahan yang dapat menentukan arah ekonomi, energi, pangan, teknologi hingga masa depan Indonesia. 

Perspektif itu menjadi benang merah Silaturahmi Keummatan di Gen Z Hub, Pekanbaru, Minggu (23/8/2026), yang mengangkat gagasan “Menemukan Relevansi Baru”. 

Hadir sejumlah aktivis Riau, di antaranya Hasyim Aliwa, Nurdin, Iskandar, Amin Triawan, serta aktivis dari berbagai kabupaten dan kota se-Riau, bersama Ustaz Ahmad Zairofi, Ustaz Ahmad Zainuddin, Ustaz Akhmad Faradis dan Najmu Fuadi dari Jakarta.

Ahmad Zairofi menilai perubahan zaman menuntut gerakan keummatan tidak hanya mengulang pengalaman masa lalu, tetapi mampu membaca realitas baru yang sedang berlangsung. 

“Kalau kita tidak menemukan relevansi baru, yang tersisa hanya romantisme. Kita mengingat apa yang pernah dilakukan, tetapi belum tentu menjawab apa yang harus dilakukan hari ini,” kata Ahmad Zairofi. 

Menurutnya, relevansi baru dapat dimulai dari kegelisahan umat, termasuk kegelisahan tentang keberlanjutan perjuangan ketika generasi yang memulainya terus bertambah usia.

Kegelisahan itu, tambah Zairofi, perlu dijawab dengan menyiapkan generasi baru yang tidak hanya meneruskan perjuangan, tetapi juga mampu membaca dunia yang berbeda. Regenerasi dengan demikian bukan sekadar pergantian orang, melainkan regenerasi cara berpikir agar nilai dan gagasan yang diperjuangkan tetap memiliki hubungan dengan persoalan zaman. 

Dari titik ini, pembahasan kemudian diarahkan pada pentingnya memahami perubahan geopolitik dunia.

Konflik di berbagai kawasan, persaingan kekuatan besar, perubahan jalur perdagangan, perebutan sumber energi, perkembangan teknologi strategis dan perubahan hubungan antarnegara tidak berhenti di batas negara. Dampaknya dapat dirasakan masyarakat melalui harga energi, pangan, perdagangan, lapangan pekerjaan, teknologi hingga arah pembangunan nasional. 

Karena itu, memahami geopolitik bukan sekadar mengetahui siapa berkonflik dengan siapa, tetapi memahami ke mana dunia bergerak, kepentingan apa yang sedang bertarung dan bagaimana posisi Indonesia.

Ahmad Zainuddin menekankan bahwa Indonesia memiliki modal strategis besar, mulai dari posisi geografis, jumlah penduduk, sumber daya alam, pasar domestik hingga potensi ekonomi. 

BACA JUGA: Bahas Pacu Jalur Hingga Aktivasi Gen Z, Gelora Riau Matangkan Strategi di Kuansing

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Tetapi potensi tanpa visi akan sulit diarahkan, sementara visi membutuhkan ideologi agar pengelolaannya memiliki arah dan tujuan yang jelas,” kata Ahmad Zainuddin. 

Menurutnya, Indonesia membutuhkan visi agar potensi tersebut dapat diarahkan dan tidak sekadar menjadikan Indonesia sebagai objek dalam percaturan global.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi objek dalam percaturan global. Umat harus menjadi pelaku sejarah dan menjadi bagian dari aktor utama yang ikut menentukan nasib bangsa ini,” kata dia. 

Karena itu, umat dinilai perlu memiliki cara pandang strategis terhadap perubahan dunia dan tidak berhenti sebagai pihak yang merespons berbagai peristiwa. Perubahan geopolitik perlu diterjemahkan menjadi gagasan dan tindakan yang relevan bagi Indonesia.

Pembahasan tersebut kemudian ditarik ke konteks Riau yang memiliki posisi strategis di kawasan Asia Tenggara. Kedekatannya dengan Selat Malaka, kekayaan sumber daya alam serta aktivitas perdagangan dan energi membuat Riau tidak terlepas dari dinamika kawasan. 

Perubahan harga komoditas, energi, kebijakan perdagangan, investasi, teknologi dan rantai pasok global dapat menciptakan peluang sekaligus tekanan bagi masyarakat Riau.

Karena itu, persoalan Riau tidak cukup dibaca semata sebagai persoalan lokal. Riau perlu dilihat sebagai bagian dari peta strategis Indonesia dan Asia Tenggara, sehingga perubahan geopolitik dunia dapat diterjemahkan menjadi pertanyaan konkret mengenai energi, pangan, ekonomi, teknologi dan masa depan generasi muda. Dari sinilah geopolitik menjadi pintu untuk menemukan relevansi baru gerakan keummatan.

Relevansi baru tidak dimaknai sekadar mengganti cara lama dengan cara baru, tetapi menemukan hubungan antara nilai yang diyakini, perubahan realitas dan tindakan yang dibutuhkan. 

Jika energi menjadi arena kompetisi global, apa peluang Indonesia; jika pangan menjadi isu strategis, bagaimana ketahanan dibangun; dan jika teknologi menjadi sumber kekuatan baru, bagaimana generasi muda mengambil posisi. Pertanyaan tersebut membawa geopolitik dari isu yang terasa jauh menjadi persoalan yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Silaturahmi keummatan tersebut pada akhirnya menempatkan geopolitik sebagai salah satu pintu untuk membaca masa depan gerakan keummatan. Dunia berubah, peta kekuatan berubah, teknologi mengubah kehidupan dan generasi baru tumbuh dengan pengalaman berbeda. 

Membaca dunia, memahami pertarungan geopolitik, melihat posisi Indonesia, membaca peluang Riau, menyiapkan generasi, lalu mengubah kegelisahan menjadi aksi menjadi rangkaian gagasan dalam pencarian relevansi baru tersebut.