
Kuantan Singingi – Malam di Kuantan Singingi terasa lebih hidup dari biasanya ketika jajaran Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gelora Riau berkumpul dalam agenda konsolidasi organisasi dan verifikasi politik, Senin malam, 17 Agustus 2026.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi (Rakor) DPP Partai Gelora Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dengan rapat KWSB (Ketua, Wakil, Sekretaris, Bendahara) di Tanjung Pinang, sebelum seluruh jajaran bergerak langsung ke Kuantan Singingi untuk memperkuat konsolidasi di lapangan.
Di sebuah sudut Kafe Balu Arti, Taluk Kuantan, suasana hangat perbincangan politik dan masa depan daerah mengalir hingga larut malam. Ketua DPW Partai Gelora Riau, Iskandar, hadir langsung memimpin diskusi bersama Herri Arwandi yang akrab disapa Herri Taluk, selaku pimpinan Partai Gelora Kuansing. Di antara secangkir kopi dan suasana santai, keduanya membedah arah gerak organisasi sekaligus peluang besar yang dimiliki Kuansing.
Iskandar menegaskan hasil Rakor DPP menjadi penanda penting bagi seluruh struktur partai di daerah untuk bergerak lebih cepat dan lebih dekat dengan masyarakat. Ia melihat Kuansing bukan sekadar wilayah administratif, tetapi ruang yang menyimpan energi besar, terutama dari generasi mudanya.
“Kuansing itu seperti api yang belum sepenuhnya menyala. Potensinya besar, budayanya kuat, dan anak-anak mudanya punya semangat yang kalau diarahkan dengan tepat bisa menjadi motor perubahan,” ujar Iskandar kepada wartawan, Selasa, 18 Agustus 2026.
Di tengah pembahasan serius itu, percakapan juga mengalir ke arah potensi daerah yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing, salah satunya Pacu Jalur. Tradisi yang telah menembus panggung nasional bahkan internasional itu dinilai bukan hanya warisan budaya, tetapi juga pintu masuk bagi masa depan ekonomi daerah.
Iskandar menggambarkan Pacu Jalur sebagai denyut kehidupan masyarakat yang bisa berkembang lebih jauh jika dikelola dengan visi yang lebih luas. Bukan hanya sebagai tontonan tahunan, tetapi sebagai penggerak ekonomi kreatif, pariwisata, hingga pemberdayaan masyarakat lokal.
“Pacu Jalur sudah dikenal dunia. Sekarang tantangannya adalah bagaimana kita memastikan gema itu tidak berhenti di tepuk tangan penonton, tapi berubah menjadi kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat Kuansing,” katanya.
Seiring malam yang semakin larut, pembahasan beralih pada agenda yang tak kalah penting: verifikasi politik. DPW Partai Gelora Riau menegaskan komitmennya untuk memperkuat DPD Gelora Kuansing dalam menghadapi tahapan yang ditetapkan DPP. Bagi mereka, verifikasi bukan sekadar urusan administrasi, melainkan pembuktian eksistensi partai di tengah masyarakat.
Iskandar menekankan bahwa partai harus hadir sebagai bagian dari kehidupan warga, bukan hanya struktur di atas kertas.
“Verifikasi itu bukan sekadar checklist dokumen. Ini tentang memastikan bahwa Gelora benar-benar hidup di tengah masyarakat, bekerja, dan memberi dampak nyata,” tegasnya.
Di sela diskusi strategis itu, muncul pula langkah baru yang menyasar masa depan: pembentukan dan aktivasi Gen Z Gelora Chapter Kuansing. Inisiatif ini menjadi jembatan untuk merangkul anak muda agar tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi ikut menjadi pelaku utama perubahan daerah.
Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Ketua DPW Partai Gelora Riau Amin Triawan, Sekretaris DPW Firmansyah Putra, Bendahara DPW Tholhah Muhammad Syahid, pimpinan Gen Z Gelora Riau Habib Rabbani Alhafiz, Muhammad Faisal, serta sejumlah pengurus dan anggota Gen Z Gelora Riau lainnya.
Sejak Senin malam hingga Selasa dini hari, 18 Agustus 2026, Kafe Balu Arti menjadi saksi bagaimana gagasan, strategi, dan harapan dirajut bersama. Lebih dari sekadar konsolidasi politik, pertemuan itu menjadi ruang pertemuan antara pengalaman dan semangat muda—yang diharapkan kelak tumbuh menjadi kekuatan baru bagi Kuantan Singingi.