Menteri Haji Tegaskan PPIH Utamakan Jemaah, Siap Korbankan Kepentingan Pribadi

AKM • Thursday, 23 Apr 2026 - 09:31 WIB
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf Pimpin Upacara pelepasan PPIH Daerah Kerja (Daker) Mekah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta (Istimewa)

Jakarta,— Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) harus menempatkan kepentingan jemaah di atas kepentingan pribadi selama menjalankan tugas di Arab Saudi. Penegasan ini disampaikan saat pelepasan PPIH Daerah Kerja (Daker) Mekah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (23/4).

Dalam arahannya, Irfan yang akrab disapa Gus Irfan menekankan bahwa setiap tindakan petugas akan mencerminkan citra Indonesia di mata dunia. Oleh karena itu, profesionalisme dan dedikasi menjadi hal mutlak yang tidak bisa ditawar.

“Petugas harus memenuhi SOP untuk mendahulukan kepentingan jemaah. Bahkan jika itu membuat petugas tidak bisa menjalankan ritual hajinya sendiri, tetap utamakan pelayanan. Positif petugas berarti positif negara, dan negatif petugas berarti negatif negara,” tegasnya.

Tugas Berat di Puncak Ibadah Haji

Gus Irfan mengingatkan bahwa Daker Mekah merupakan titik paling krusial dalam penyelenggaraan haji. Di wilayah ini, seluruh jemaah berkumpul untuk menjalani rangkaian puncak ibadah seperti di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kesiapan fisik dan mental para petugas, mengingat tingginya intensitas pelayanan serta potensi kendala di lapangan.

“Tugas ini bukan ringan. Di sinilah puncak ibadah berlangsung. Pastikan seluruh jemaah Indonesia dapat beribadah dengan aman dan nyaman tanpa gangguan berarti,” ujarnya.

Respons Cepat dan Koordinasi dengan Syarikah

Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen menyelesaikan setiap persoalan di lapangan secara cepat dan terkoordinasi, termasuk yang melibatkan pihak ketiga (syarikah) di Arab Saudi.

Ia mencontohkan persoalan yang kerap muncul di Mina, yang merupakan domain penyedia layanan lokal. Dalam situasi tersebut, PPIH diminta tidak ragu mengambil langkah tegas.

“Jika ada masalah di Mina, kita akan panggil syarikah dan minta segera diselesaikan. Jangan biarkan jemaah menunggu tanpa kepastian,” katanya.

PPIH sebagai Representasi Negara

Lebih jauh, Gus Irfan menekankan bahwa PPIH bukan sekadar petugas teknis, melainkan representasi langsung negara di hadapan jemaah internasional.

Ia mengingatkan bahwa kesalahan sekecil apa pun dapat berdampak pada citra Indonesia secara keseluruhan. Sebaliknya, pelayanan yang baik akan memperkuat reputasi positif jemaah Indonesia.

“PPIH harus hadir dengan semangat melayani, bukan minta dilayani. Sikap saudara akan menentukan kenyamanan dan kekhusyukan ibadah jemaah,” tegasnya.

Utamakan Etika, Layani Lansia dengan Sabar

Mengingat mayoritas jemaah haji Indonesia merupakan kelompok lanjut usia (lansia) dan berlatar belakang pendidikan dasar, petugas diminta mengedepankan kesabaran serta komunikasi yang santun.

Ia secara khusus mengingatkan beberapa hal yang harus dijaga oleh petugas, antara lain tidak menggunakan nada tinggi, menghindari ucapan kasar, tidak merokok di hadapan jemaah, serta menghindari candaan yang tidak pantas.

“Layani mereka dengan hati. Jangan sampai ada ucapan atau sikap yang melukai perasaan jemaah, terutama lansia,” pesannya.

Larangan Pulang Lebih Awal

Di akhir arahannya, Gus Irfan memberikan peringatan tegas terkait disiplin penugasan. Ia menegaskan bahwa tidak akan ada toleransi bagi petugas yang ingin mengakhiri tugas lebih awal.

“Tidak ada izin pulang sebelum masa tugas selesai. Kalau dari awal sudah berpikir pulang lebih cepat, lebih baik tidak berangkat,” ujarnya.

Ia pun berharap seluruh petugas menjalankan tugas dengan niat ibadah, sekaligus menjaga reputasi jemaah Indonesia yang selama ini dikenal tertib, sopan, dan disiplin oleh otoritas Arab Saudi.

“Semoga seluruh pengabdian ini menjadi amal saleh dan menghadirkan penyelenggaraan haji yang aman, bersih, dan bermartabat,” pungkasnya.