
Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah tetap dilaksanakan secara tatap muka (luring) dan berjalan normal, meskipun pemerintah tengah menerapkan kebijakan transformasi budaya kerja nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyampaikan bahwa sektor pendidikan memiliki karakteristik layanan yang mengutamakan interaksi langsung antara guru dan peserta didik.
“Transformasi budaya kerja yang tengah dijalankan pemerintah merupakan langkah strategis untuk membangun sistem kerja yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan. Namun demikian, sektor pendidikan dasar dan menengah memiliki karakteristik layanan yang menempatkan interaksi langsung sebagai elemen utama dalam proses pembelajaran,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Rabu (1/4).
Ia menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka tetap menjadi prioritas, meskipun pemerintah menerapkan pola kerja fleksibel, termasuk skema *work from home* (WFH) bagi aparatur sipil negara.
“Oleh karena itu, pembelajaran tatap muka tetap menjadi prioritas. Di saat yang sama, kami mendorong satuan pendidikan untuk turut berperan aktif dalam mendukung kebijakan efisiensi energi,” lanjutnya.
Menurut Abdul Mu'ti. keberlangsungan pembelajaran langsung di sekolah merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas layanan pendidikan sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul.
"Selain kegiatan akademik, aktivitas non-akademik seperti olahraga, ekstrakurikuler, dan pengembangan prestasi siswa juga tetap berjalan tanpa pembatasan sebagai bagian dari pembelajaran yang menyeluruh," tuturnya
Di sisi lain, kementerian juga mendukung kebijakan efisiensi energi nasional melalui penerapan budaya hemat energi di lingkungan sekolah. Satuan pendidikan didorong untuk mengoptimalkan penggunaan listrik, memanfaatkan cahaya alami, serta membiasakan perilaku ramah lingkungan.
Upaya tersebut diperkuat melalui penerapan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bersih, dan berkelanjutan.
Melalui gerakan ini, sekolah diharapkan mampu membangun kebiasaan positif, seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, melakukan penghijauan, serta menggunakan sumber daya secara efisien.
Kemendikdasmen juga mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pemerintah daerah, kepala sekolah, guru, hingga orang tua, untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan pembelajaran sekaligus mendukung kebijakan nasional terkait efisiensi energi.
Dengan sinergi berbagai pihak, pemerintah berharap layanan pendidikan tetap berjalan optimal dan mampu berkontribusi dalam upaya nasional mewujudkan keberlanjutan serta ketahanan energi.