
Palembang - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan kegiatan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila kepada Eks Narapidana Terorisme (Napiter) dan Bedah Buku Islamikasi Indonesia pada Senin, 22 Desember 2025, di Palembang.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen BPIP dalam menghadirkan Pancasila secara inklusif dan membumi, khususnya melalui pendekatan keluarga sebagai basis utama pembentukan karakter, nilai, dan cara pandang kebangsaan.
Keluarga Eks Napiter Dirangkul, Bukan Distigmatisasi
Dalam laporan kegiatan, Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Dr. Ir. Prakoso, M.M., menegaskan bahwa keluarga eks Napiter bukan kelompok yang harus dijauhi atau distigmatisasi. Sebaliknya, mereka perlu dirangkul, diberdayakan, dan diperkuat nilai-nilai kebangsaannya sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. BPIP meyakini setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berubah, dan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Kepala BPIP Tegaskan Pentingnya Nilai Pancasila
Kepala BPIP, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya strategis negara dalam memulihkan jati diri kebangsaan dan kemanusiaan.
“Pancasila bukan hanya dasar negara atau simbol formal, melainkan jalan hidup bersama yang mempersatukan lebih dari 270 juta jiwa dalam keberagaman. Di dalamnya terkandung nilai ketuhanan yang inklusif, kemanusiaan yang adil, persatuan, demokrasi yang berkeadaban, serta keadilan sosial. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita hidupkan, terutama dalam proses reintegrasi sosial eks Napiter. Kami menyadari setiap manusia memiliki masa lalu, namun masa depan selalu terbuka bagi mereka yang ingin berubah. Pemerintah melalui BPIP hadir untuk merangkul, memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang setara untuk kembali berperan aktif, menebar kedamaian, dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama apa pun,” tegas Kepala BPIP.
Menurut Kepala BPIP, pembudayaan nilai-nilai Pancasila merupakan jalan moderasi yang relevan untuk membangun kehidupan damai dan sejahtera.
Jalan tersebut harus dimulai dari keluarga, diperkuat di masyarakat, dan dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agar tidak ada ruang bagi narasi ekstremisme dan kekerasan.
Mewakili Gubernur Sumatera Selatan, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H, menyampaikan dukungan penuh atas pelaksanaan kegiatan ini. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan ruang, kesempatan, serta dukungan kepada eks Napiter agar dapat membuktikan komitmennya dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Selain pembudayaan nilai-nilai Pancasila, kegiatan ini menghadirkan sesi bedah buku Islamikasi Indonesia karya Anggota Dewan Pengarah BPIP, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah. Diskusi bersama penulis dan narasumber memperkuat pemahaman peserta mengenai integrasi etika Islam dan Pancasila dalam kebangsaan, dengan pendekatan dialogis, rasional, dan inklusif. Kepala BPIP menjelaskan bahwa buku tersebut menghadirkan pemikiran tentang membumikan etika Islam secara beradab ke dalam ruh kebangsaan Indonesia, dengan Pancasila sebagai landasan etis-filosofis.
Dalam rangkaian kegiatan ini, BPIP juga menyerahkan bantuan melalui program BPIP Peduli kepada eks Napiter sebagai bentuk dukungan terhadap proses pemulihan dan reintegrasi sosial. BPIP berharap, melalui pembudayaan nilai-nilai Pancasila dan bedah buku ini, para eks Napiter dapat kembali berperan positif di masyarakat serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Kegiatan ini dihadiri oleh Anggota Dewan Pengarah BPIP, Dewan Pakar BPIP, Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP, Sekda Provinsi Sumatera Selatan, Sekda Kota Palembang, serta jajaran Forkopimda Provinsi dan Kota Palembang.