
Jakarta - Momen Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025 menjadi bagian terpenting untuk terus melakukan perbaikan dan penguatan bagi bangsa Indonesia. Langkah yang bisa dilakukan salah satunya demgan menjadikan masyarakat sebagai objek politik bukan subjek politik sekaligus memperkuat Indonesia harus berjaya.
“ Menjadikan masyarakat menjadi subjek politik. Bukan menjadi objek politik. Sehingga dari komunitas itu akan menghasilkan sumber mealului pelatihan dan pendidikan,” ujar Ketua Umum Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) Tuntas Subagyo disela -sela peringatan 3 Tahun PKR di Jakarta, Selasa (28/10).
Tuntas menjelaskan pihaknya ingin menjadikan Indonesia besar kembali dengan kekuatan rakyat. Atau kekuatan akar rumput. Sehingga kita punya tagline MIGA.
“Insya Allah seperti itu. Dan kita ingin menjadikan Indonesia besar kembali dengan kekuatan rakyat. Atau kekuatan akar rumput. Sehingga kita punya tagline MIGA. MIGA Make Indonesia Great Again,” jelas Tuntas.
Dalam acara yang dihadiri 38 Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai LKR ini, Tuntas mengungkapkan hal yang akan dilakukan dengan membangun dari sesuatu yang menjadi komunitas.
“Jadi pemuda-pemuda ataupun anak-anak muda di Indonesia akan kita berikan pelatihan, pendidikan dan lain sebagainya. Sehingga tidak ada anak-anak yang akan tertinggal di dalam mengikuti persaingan global,” imbuh Tuntas.
Tuntas menambahkan Jadi Indonesia dari komunitas partai kedaulatan rakyat akan membuat sebuah skema bagaimana bangsa ini tidak tertinggal jauh dengan bangsa lain.
“Dan semua butuh proses. Dari tentang anak-anak, pendidikan, kemudian tentang globalisasi dan lain-lain. Teknologi, itu yang akan kita mulai latih,” katanya.
Peran Pemuda
Menanggapi fenomena pemuda alergi terhadap partai, Tuntas menuturkan kalau anak muda, generasi ke generasi itu akan sama. Tinggal bagaimana men-trigger mereka, mengarahkan, menjelaskan dan bersosialisasi kepada mereka.
“Kalau generasi ke generasi akan sama saja. Tinggal bagaimana kita mengolahnya dan memberikan satu sentuhan-sentuhan tentang kemajuan. Globalisasi, kemudian penataan-penataan yang tepat. Seperti tadi di visi yang awal. Bahwa menjadikan masyarakat menjadi subyek politik. Bukan menjadi obyek politik 5 tahunan,” pungkasnya.