Dukung Riset dan Pendidikan, Menkeu Perkuat Penggunaan Dana Abadi

AKM • Thursday, 7 Aug 2025 - 12:55 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam acara  konvensi sains, teknologi, dan industri Indonesia (KSTI) 2025

Bandung - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyatakan dana pendidikan belum dimanfaatkan optimal dan seringkali tidak terserap. Hal ini membuat pemerintah mengalihkan sebagian anggaran tersebut ke dana abadi untuk mendukung riset dan pendidikan berkelanjutan.

“Banyak sekolah dan lembaga pendidikan tidak mampu menyerap anggaran secara efektif dalam tahun berjalan. Kami buat dana abadi supaya anggaran tetap produktif, tidak hilang, dan memberi manfaat jangka panjang,” ujar Sri Mulyani dalam acara  konvensi sains, teknologi, dan industri Indonesia (KSTI) 2025, Bandung, Kamis (7/8/2025).

Menkeu menjelaskan, dana abadi pendidikan kini mencapai Rp154,1 triliun dengan alokasi untuk beasiswa, riset, dan infrastruktur pendidikan tinggi. Pemerintah mendorong pemanfaatan dana ini melalui skema LPDP yang fleksibel dan tidak bergantung tahun anggaran.

“Peneliti sering mengeluh risetnya terhenti karena sistem anggaran tahunan pemerintah. Dengan LPDP multi years, proyek bisa berlanjut meski belum selesai dalam satu periode fiskal,” ucapnya.

Peran Penting Indonesia

Sri Mulyani mengingatkan bahwa posisi Indonesia sangat strategis. dengan  geografi, demografi, lokasi, dan ukuran ekonomi yang besar, Indonesia berpotensi menjadi salah satu aktor penting dalam dinamika global.  Indonesia harus memilih untuk menjadi pelaku aktif, bukan sekadar medan perebutan kepentingan.

“Kalau kita hanya menjadi ajang, berarti ini adalah tempat pertempuran dari pengaruh-pengaruh dunia. Kalau kita ingin menjadi pelaku, berarti kita sendiri yang harus menyiapkan,” tegas Sri Mulyani.

Persiapan itu, lanjutnya, tidak hanya terbatas pada pengembangan sumber daya manusia, tetapi juga pembangunan institusi yang kuat. 

“Yang di ruangan ini adalah the elite intellectual yang punya tanggung jawab besar terhadap posisi Indonesia agar tidak hanya sebagai ajang tapi juga menjadi pelaku dalam perjalanan dunia,” sebutnya.

Ia juga menekankan bahwa selain SDM dan institusi, dukungan sumber daya, termasuk anggaran, menjadi faktor penting. 

“Kita juga punya tantangan, homework yang luar biasa penting yaitu institutional building dan tentu semuanya membutuhkan resources,” tandasnya.