Gedung Parlemen Indonesia, Simbol Semangat Perlawanan Ketidakadilan Global

AKM • Sunday, 27 Jul 2025 - 16:40 WIB
Dialektika Demokrasi bertajuk 'Spirit CONEFO dan Relevansinya dengan Masa Kini' (Istimewa)

Jakarta - Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana mengatakan gedung parlemem DPR/MPR RI Senayan, Jakarta bukan sekadar bangunan tempat legislasi berlangsung, tetapi simbol dari semangat perlawanan terhadap ketidakadilan global.

Dalam paparannya, Bonnie yang juga dikenal sebagai sejarawan, mengajak publik untuk memahami kembali makna historis di balik pembangunan Gedung MPR/DPR/DPD RI.

“ Gedung tersebut awalnya dirancang sebagai lokasi penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO), bukan sebagai gedung parlemen,” ujar Bonnie dalam forum Dialektika Demokrasi bertajuk 'Spirit CONEFO dan Relevansinya dengan Masa Kini', Gedung Parlemen, Jakarta,  Kamis (24/7).

Menurut Bonnie, gagasan CONEFO sendiri merupakan kelanjutan dari semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang berkomitmen membangun solidaritas antineokolonialisme dan antikapitalisme.

"Gedung ini adalah perwujudan dari spirit anti-penindasan dan gagasan besar tentang tata dunia baru yang lebih adil," imbuhnya Bonnie.

Bonnie juga menekankan bahwa semangat kebangsaan Indonesia sejak awal tidak terlepas dari dialog lintas bangsa dan pertukaran pemikiran dengan tokoh-tokoh dari Asia dan Afrika.

Ia menyebut nama-nama seperti Arnold Mononutu, Bung Hatta, dan Sam Ratulangi sebagai tokoh yang memiliki jejaring internasional dan memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan global.

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa gerakan Asia-Afrika juga berkembang dalam bentuk solidaritas lintas profesi, termasuk jurnalis, pengacara, mahasiswa, dan aktivis.

Salah satu contoh penting adalah Lahdar Brahimi dari Aljazair, yang pernah hadir di Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika di Bandung dan kelak menjadi Menteri Luar Negeri Aljazair serta utusan khusus PBB.

"Peran Indonesia tidak hanya dalam diplomasi, tetapi juga bantuan nyata berupa pelatihan militer dan dukungan logistik bagi negara-negara yang tengah memperjuangkan kemerdekaan, termasuk Aljazair dan Afrika Selatan," kata Bonnie.

Menurutnya CONEFO adalah Sebuah gagasan yang penuh ambisi dan obsesi Soekarno di tengah kegalauan para pemimpin dunia kala itu.

“Keberanian Indonesia untuk memutuskan keluar dari PBB waktu itu adalah sebuah hal yang sangat mencolok, yang menunjukkan bahwa bangsa kita mempunyai wibawa, tidak sekedar hanya gertak,” tandasnya.