
JAKARTA — Dalam menyambut penerapan Kurikulum AI secara nasional pada tahun ajaran mendatang, School of AI resmi meluncurkan program “Sekolah Siap AI” sebagai bentuk transformasi digital pendidikan Indonesia. Program ini ditujukan untuk membantu sekolah, guru, dan siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan era kecerdasan buatan.
School of AI merupakan mitra transformasi teknologi digital dan artificial intelligence (AI) yang hadir untuk mendampingi sekolah dalam meningkatkan literasi dan pemanfaatan teknologi secara bertahap, inklusif, dan etis.
“Kami hadir untuk mendampingi sekolah agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman melalui literasi AI dan digitalisasi operasional yang berkelanjutan,” ujar Anggi Harsono, inisiator program School of AI.
Tiga Pilar Transformasi: Guru, Sekolah, dan Siswa Siap AI. Program Sekolah Siap AI terdiri dari tiga fase utama:
• Guru Siap AI
Pelatihan intensif bagi guru dan staf sekolah mengenai pengenalan AI, etika digital, prompt engineering, serta coding dasar untuk anak. Program ini diselenggarakan selama dua hari dan mencakup materi praktis seperti pembuatan media pembelajaran berbasis AI dan keamanan siber.
• Sekolah Siap AI
Fase ini melibatkan workshop kolaboratif (join planning session) bersama stakeholder sekolah untuk menyusun kurikulum dan silabus tahunan berbasis AI yang selaras dengan kebutuhan institusi.
• Siswa Siap AI
Fokus pada pengenalan literasi AI sejak dini, agar siswa memiliki keterampilan dan pola pikir yang relevan dengan masa depan dunia kerja. Fasilitas pendukung seperti perangkat digital, materi pembelajaran, hingga sistem infrastruktur juga disiapkan pada tahap ini.
Program juga mencakup digitalisasi proses administrasi sekolah untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan akurasi data.
Menurut School of AI, sejumlah tantangan mendesak menjadikan transformasi digital sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi:
• Kurikulum AI akan diberlakukan secara nasional dalam waktu dekat.
• Persaingan teknologi global menuntut kesiapan institusi pendidikan.
• Tugas administratif guru yang belum terdigitalisasi menghambat inovasi pembelajaran.
• Waktu adaptasi yang terbatas memerlukan strategi dan pendampingan yang tepat.
“Sekolah yang tidak segera beradaptasi berisiko tertinggal dan kehilangan relevansi dalam menyiapkan siswa menghadapi dunia nyata,” tambah Anggi.
Sementara itu, Bussines Development, Bambang Pangestu menjelaskan, sebagai bagian dari strategi branding, School of AI juga menggandeng media dan agency untuk mempromosikan sekolah-sekolah yang telah mengikuti program “Sekolah Siap AI” melalui publikasi digital dan event seremonial di tingkat daerah.
"Program ini diyakini tidak hanya akan meningkatkan daya saing sekolah, tetapi juga menciptakan generasi muda Indonesia yang tangguh, cakap teknologi, dan siap menghadapi disrupsi digital secara etis dan inovatif." tutur Bambang Pangestu.
Untuk informasi lebih lanjut, publik dapat menghubungi Bussines Development, Bambang Pangestu melalui WhatsApp ++62 816-105-954.