Sosiologi FISIP UNAS Soroti Krisis Nalar Kritis di Kampus, Akademisi Bahas Masa Depan Pendidikan Indonesia

ANP • Tuesday, 19 May 2026 - 12:42 WIB
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNAS, Prof. Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si.

 

Jakarta – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (FISIP UNAS) menghadirkan ruang diskusi intelektual melalui Round Table Discussion bertajuk “Bersama Merawat Ilmu Pengetahuan: Menggugat Birokratisasi Pengetahuan dan Pendidikan Indonesia” pada Rabu, (13/05/2026), di Exhibition Room UNAS Pejaten.

Kegiatan ini menjadi forum yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan para guru besar untuk membahas tantangan pendidikan tinggi Indonesia di tengah meningkatnya birokratisasi kampus, logika pasar dalam pendidikan, hingga memudarnya budaya berpikir kritis di lingkungan akademik.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNAS Prof. Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si., bersama para panelis diskusi, yakni Prof. Dr. Sigit Rochadi, M.Si., Prof. Dr. Paisal Halim, M.Hum., Prof. Dr. Aris Munandar, M.Si., dan Prof. Dr. Syamsiah Badrudin, M.Si.

Dekan FISIP UNAS, Dr. Aos Yuli Firdaus, S.I.P., M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh kehilangan nilai kritis dan kemanusiaannya di tengah tuntutan administratif yang semakin kompleks.

“Tema ini bukan sekadar diskusi akademik biasa. Dunia pendidikan tidak boleh kehilangan ruh kritis dan nilai kemahasiswaannya. Hari ini kampus sering kali dituntut menjadi serba terukur, penuh laporan, capaian, dan birokrasi. Padahal ilmu sosial memiliki tugas menjaga akal sehat publik dan merawat kepekaan sosial masyarakat,” ujarnya.

Sambutan oleh Dekan FISIP UNAS, Dr. Aos Yuli Firdaus, S.I.P., M.Si.

Menurutnya, perguruan tinggi harus tetap hadir sebagai ruang pembentukan kesadaran sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat.

“Saya mengapresiasi Prodi Sosiologi yang menghadirkan forum ini. Saya juga senang melihat mahasiswa terlibat aktif, berani bertanya, dan menunjukkan cara berpikir yang kritis,” tambah Aos.

Sementara itu, Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UNAS, Dr. Andi Achdian, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh panelis yang hadir dan menilai diskusi ini sebagai momentum penting dalam memperkuat tradisi intelektual di lingkungan kampus.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran para panelis. Prodi Sosiologi memiliki kekuatan akademik yang luar biasa dengan hadirnya empat profesor yang terus mendorong tradisi berpikir kritis di lingkungan akademik,” katanya.

Dalam sesi diskusi, Prof. Dr. Sigit Rochadi, M.Si., menegaskan bahwa sikap kritis merupakan identitas utama ilmu sosiologi.

“Kritik dan sikap kritis adalah DNA-nya sosiologi. Karena itu ruang-ruang diskusi seperti ini penting untuk terus dirawat,” ungkapnya.

Pandangan kritis juga disampaikan Prof. Dr. Aris Munandar, M.Si., yang menyoroti fenomena pendidikan tinggi yang mulai bergerak mengikuti logika pasar dan kepentingan ekonomi.

“Kita tidak hanya sedang berbicara tentang persoalan personal, tetapi tentang masa depan ilmu pengetahuan di Indonesia. Hari ini muncul wacana pemecahan program studi karena dianggap tidak diminati dan dinilai dari sisi efisiensi finansial. Ini menunjukkan bahwa pendidikan mulai dilihat dengan logika pasar, sementara ilmu pengetahuan dinilai berdasarkan aspek ekonominya,” jelasnya.

Menurut Aris, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia akademik untuk mempertahankan esensi pendidikan sebagai ruang pencarian pengetahuan dan pembentukan peradaban.

Sementara itu, Prof. Dr. Syamsiah Badrufdin, M.Si., menegaskan pentingnya mahasiswa memiliki kepercayaan diri untuk terus maju dan berkembang di tengah perubahan dunia yang semakin kompetitif. Menurutnya, keberanian untuk tampil, berpikir, dan mengambil peluang merupakan bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja maupun kehidupan sosial di masa depan.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNAS, Prof. Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si., menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan pilar utama dalam membangun peradaban bangsa.

“Orientasi perguruan tinggi bukan sekadar menciptakan lulusan, tetapi membangun peradaban bangsa melalui pengetahuan. Manusia tidak diciptakan karena teknologi, melainkan karena mental dan nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya

Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara dalam menjamin keberlangsungan pendidikan sebagai amanat konstitusi, sekaligus mendorong perguruan tinggi untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia.

Sementara itu, Prof. Dr. Paisal Halim, M.Hum., mengajak mahasiswa untuk memiliki keberanian menciptakan perubahan dan peluang di tengah tantangan dunia kerja saat ini.

“Jadikan diri Anda sebagai nilai. Bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan perubahan bagi masyarakat, dan tidak mungkin ada perubahan tanpa perubahan,” tambahnya.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif dengan antusiasme mahasiswa yang aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan kritis terkait masa depan pendidikan Indonesia. Melalui forum ini, FISIP UNAS menegaskan komitmennya untuk terus menjaga tradisi intelektual, memperkuat budaya berpikir kritis, dan merawat ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan bangsa.