GMPD Jakarta Dorong Kebangkitan Nasional Lewat FGD Refleksi Reformasi dan Visi Indonesia Emas 2045

ANP • Sunday, 25 May 2025 - 15:33 WIB

Jakarta — Dalam rangka menandai lebih dari dua dekade perjalanan reformasi di Indonesia, Gerakan Mahasiswa Peduli Demokrasi (GMPD) Jakarta menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Refleksi Reformasi: Menuju Kebangkitan Nasional di Era Demokrasi” pada Minggu (25/5), bertempat di Restoran Putra Sriwijaya, Graha IJW, Jakarta Pusat.

Diskusi ini mempertemukan mahasiswa dan pemuda dari berbagai kampus serta organisasi kepemudaan di Jakarta, sebagai wadah lintas generasi dalam membahas arah demokrasi nasional ke depan. Turut hadir sebagai pembicara utama antara lain Azuhri Ar-Rauf (Pj Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara), Deodatus Sunda (Ketua GMNI Jakarta Selatan), M. Daud Loilatu (Praktisi Hukum), serta aktivis muda Amiruddin Emon.

Dalam pengantarnya, M. Daud menekankan urgensi untuk melanjutkan semangat reformasi dengan cara yang lebih substansial. “Kita bicara keberlanjutan dari reformasi, berarti kita juga harus bicara sistem yang peduli dan pro rakyat. Kenapa itu yang paling penting, karena per hari ini reformasi (tidak sepenuhnya). Kita harus mereformasi pola fikir dan sistem pemerintahan yang mengedepankan keadilan rakyat. Teman teman harus peka pada situasi sulit seperti hari ini, sebagai calon penerus bangsa. (Khususnya dalam) menyikapi berbagai tantangan dan perubahan global.”

FGD ini menjadi ajang strategis untuk meninjau ulang capaian reformasi sejak 1998 serta merumuskan arah peran pemuda dalam menyongsong masa depan bangsa. Isu ketimpangan sosial, kualitas demokrasi yang fluktuatif, hingga dominasi kekuatan ekonomi dalam ranah politik, mengemuka dalam pembahasan forum tersebut.

Azuhri Ar-Rauf menegaskan bahwa pemuda tak boleh hanya menjadi saksi sejarah. “Reformasi adalah proses panjang yang membutuhkan stamina sejarah. Kini saatnya generasi muda berdiri paling depan, bukan hanya sebagai pengamat, tapi sebagai penentu arah bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Deodatus Sunda menggarisbawahi pentingnya keberanian moral dalam menggerakkan demokrasi yang partisipatif. “Kebangkitan nasional tidak bisa berhenti di tataran simbolik. Ia harus mewujud dalam tindakan nyata, terutama dari kalangan muda yang berani menyuarakan nilai-nilai keadilan dan kebenaran,” tegasnya.

Selain menjadi ruang refleksi terhadap masa lalu, FGD juga mengarahkan pandangan peserta ke masa depan, khususnya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Peserta sepakat bahwa visi tersebut hanya akan terwujud jika demokrasi dibangun di atas nilai-nilai keadilan, transparansi, dan keterlibatan semua pihak.

Amiruddin Emon yang menjadi moderator sekaligus penanggung jawab kegiatan ini, menegaskan bahwa forum ini merupakan langkah awal konsolidasi pemikiran pemuda. “Kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa demokrasi bukanlah ruang eksklusif elit politik, melainkan ruang terbuka yang wajib dijaga bersama oleh seluruh elemen bangsa, terutama mahasiswa,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, GMPD Jakarta menunjukkan komitmennya untuk memperkuat gerakan moral mahasiswa dan membangun sinergi lintas organisasi dalam menjawab tantangan demokrasi Indonesia ke depan.