Siloam Oncology Summit 2025: Kolaborasi Global untuk Masa Depan Penanganan Kanker di Indonesia

MUS • Sunday, 18 May 2025 - 09:38 WIB

Jakarta - Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) Siloam Hospitals Semanggi untuk kelima kalinya menggelar Siloam Oncology Summit (SOS) 2025, memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi dalam penanganan kanker. 

Sebagai forum ilmiah berskala internasional, SOS 2025 menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin dengan pendekatan yang lebih personal, efektif, dan berkeadilan bagi pasien dan keluarganya sebagai kunci utama mengembangkan inovasi penanganan kanker.

SOS 2025 berlangsung pada 16-18 Mei 2025 di Hotel Shangri-La, Jakarta, menghadirkan 4 Workshop, 6 Sesi Pleno, dan 24 Simposium, serta kompetisi poster onkologi, dengan menghadirkan 10 pembicara internasional serta lebih dari 80 pakar onkologi nasional terkemuka.

CEO MRCCC Siloam Hospitals Semanggi sekaligus Ketua Panitia SOS 2025, dr. Edy Gunawan, MARS, mengatakan, “Siloam Oncology Summit telah rutin diadakan setiap tahun sejak tahun 2021 dan telah menjadi salah satu platform kolaboratif terbesar yang mempertemukan pakar medis dari berbagai bidang ilmu onkologi untuk membangun strategi inovatif dalam meningkatkan deteksi dini serta kualitas perawatan kanker.”

Lebih lanjut, dr. Edy Gunawan, MARS juga menyampaikan bahwa tema SOS 2025 mengadopsi kampanye global Union for International Cancer Control (UICC) 2025-2027, yakni “United by Unique”. Pendekatan ini menekankan pentingnya personalisasi dalam perawatan kanker, memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan terapi yang sesuai dengan kebutuhan unik mereka. Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan pemanfaatan teknologi canggih guna meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan.

Menurut Global Cancer Observatory (Globocan), pada tahun 2022 Indonesia mencatat 408.661 kasus kanker baru dan 242.099 kematian akibat kanker, dengan jenis kanker paling umum adalah payudara, leher rahim, paru-paru, dan kolorektal. 

Lebih dari 60-70% pasien kanker di Indonesia terdeteksi pada stadium lanjut, jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju yang hanya berkisar 10-20%. Rendahnya kesadaran masyarakat dan lambatnya sistem rujukan medis menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.

"Saat pertama kali muncul keluhan kesehatan, pasien pasti tidak langsung datang ke rumah sakit besar, mungkin ke klinik atau puskesmas. Maka edukasi tenaga kesehatan mengenai diagnosis kanker lebih dini sangat penting, agar pasien bisa langsung mendapat rujukan medis yang tepat hingga bisa meningkatkan taraf hidup pasien. Karena banyak pasien yang datang ke MRCC sudah terlambat penanganan karena terlalu banyak tahapan rujukan yang mereka lakukan." ungkap dr. Edy Gunawan, MARS.

Bergabung dalam Gerakan Perubahan untuk Masa Depan Perawatan Kanker

Siloam Oncology Summit (SOS) 2025 mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan terbesar ini dan menjadi bagian dari solusi inovatif dalam perawatan kanker. Konferensi ini tidak hanya memberikan wawasan terbaru tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem kesehatan yang lebih baik, inklusif, dan berkelanjutan.

Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dr. Dwi Oktavia TLH, M.EPID menyambut baik acara seperti Siloam Oncology Summit yang menyatukan berbagai keahlian dalam menangani penyakit kanker, mulai dari pencegahan hingga terapi. Hal ini karena kanker masih menjadi penyakit yang mengancam dengan angka kematian tinggi, 

“Siloam MRCCC adalah salah satu rumah sakit yang melayani pasien BPJS sehingga ikut berkontribusi memberikan harapan dan kesempatan hidup untuk pasien kanker.” ujar dr. Dwi memperjelas peran MRCC Siloam Hospitals Semanggi dalam penanganan pasien kanker secara merata untuk semua kalangan.

Dengan diselenggarakannya Siloam Oncology Summit 2025, MRCCC Siloam Hospitals Semanggi tidak hanya memperkuat jejaring global dalam pengobatan kanker, tetapi juga menegaskan pentingnya perubahan paradigma menuju perawatan yang berpusat pada manusia. Inovasi teknologi, pendekatan multidisipliner, dan kolaborasi lintas institusi harus bermuara pada satu tujuan utama yaitu memberikan perawatan yang menghargai martabat, kebutuhan, dan pengalaman hidup setiap pasien.