AHY Soroti Perang Dagang AS-China, Ancam Stabilitas Ekonomi Global

FAZ • Sunday, 13 Apr 2025 - 09:44 WIB

JAKARTA - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti meningkatnya ketegangan dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Menurutnya, kebijakan saling balas tarif antara dua kekuatan ekonomi dunia itu dapat membawa dampak serius terhadap stabilitas ekonomi global.

AHY menjelaskan bahwa ketegangan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut kini mencapai titik baru setelah AS menetapkan tarif 145 persen terhadap seluruh produk asal China. Sebagai balasan, China pun menerapkan tarif sebesar 125 persen terhadap produk impor dari AS.

“Eskalasi baru ini, yang dipicu kebijakan pemerintahan Presiden Trump, berdampak lebih luas dan jauh lebih signifikan dibandingkan perang dagang yang terjadi pada 2018–2020,” ujar AHY dalam acara Panel Discussion The Yudhoyono Institute (TYI) di Grand Sahid, Jakarta Pusat, Minggu (13/4/2025).

Ia mengutip data dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang mencatat bahwa perang dagang pada periode tersebut telah menurunkan volume perdagangan global sebesar 3% dan berkontribusi pada penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia sebesar 0,8%.

AHY menyebut bahwa eskalasi terbaru yang dipicu kebijakan tarif oleh mantan Presiden AS Donald Trump, berpotensi menimbulkan tekanan besar terhadap pasar keuangan dan sektor riil global.

“Risiko resesi global pada tahun ini meningkat tajam. Kenaikan tarif ini jelas berdampak luas, baik di sisi ekonomi maupun geopolitik,” katanya.

Ia juga menilai, langkah sepihak AS dalam mengenakan tarif terhadap berbagai negara bisa membawa dunia ke dua arah ekstrem. Pertama, mendorong perlawanan kolektif dari negara-negara lain yang menjauhi dominasi AS dan membentuk tatanan ekonomi global baru. Kedua, jika kebijakan ini terbukti efektif, maka kekuatan hegemonik AS justru akan semakin kuat.

“Apapun skenarionya, kita dihadapkan pada risiko fragmentasi, bukan hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga politik dan keamanan. Aliansi-aliansi baru akan terbentuk, polarisasi menguat, dan konflik lama berpotensi membesar, terutama di kawasan Asia Pasifik,” tegasnya.

Terkait Indonesia, AHY juga menyoroti potensi dampak dari rencana AS yang akan menerapkan tarif impor sebesar 32% terhadap produk asal Indonesia. Meski saat ini kebijakan tersebut masih ditangguhkan oleh Presiden Trump, AHY menyebut hal itu tetap menjadi ancaman serius bagi daya saing ekspor nasional.

“Tarif impor 32 persen bukan angka yang kecil. Meskipun masih dalam status penangguhan, potensi dampaknya sangat nyata bagi perekonomian kita,” pungkasnya.