Wamentrans: Indonesia Siap Jadi Lumbung Pangan Dunia

FAZ • Friday, 31 Jan 2025 - 19:53 WIB

JAKARTA – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans), Viva Yoga Mauladi mengungkapkan bahwa mencapai swasembada pangan dalam rangka membangun kedaulatan bangsa bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, hal tersebut membutuhkan dukungan semua pihak, pengesampingan ego sektoral, serta pemprioritaskan kepentingan umum di atas kepentingan golongan dan pribadi.

Ungkapan tersebut disampaikan Viva Yoga Mauladi dalam keynote speech pada seminar bertema “Swasembada Pangan Dalam Rangka Kemandirian Ekonomi Menuju Indonesia Maju” yang berlangsung di KAHMI Center, Jakarta, pada 30 Januari 2025. Seminar ini juga diselenggarakan secara daring, dengan peserta yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia.

Viva Yoga mengungkapkan optimisme bahwa swasembada pangan akan terwujud karena Indonesia masih memiliki banyak lahan yang subur dan luas. Bahkan, menurutnya, banyak wilayah yang masih memiliki potensi besar yang belum digarap secara maksimal untuk meningkatkan produktivitasnya.

"Kita mendorong masyarakat bersama dengan pemerintah untuk berjuang membangun swasembada pangan sekaligus meningkatkan taraf hidup petani," ujar Viva Yoga dalam keterangannya, Kamis (30/1/25).

Lebih lanjut, Viva Yoga menyampaikan bahwa kerja keras bersama tidak hanya akan mewujudkan swasembada pangan, tetapi dalam beberapa tahun ke depan Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia. 

"Ini bukan suatu mimpi, dengan kerja keras Saya yakin bangsa Indonesia mampu menjadi lumbung pangan dunia”, tuturnya.

“Yakusa, yakin usaha sampai”, tambahnya.

Selain itu, Viva Yoga juga memaparkan beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan untuk mencapai swasembada pangan, antara lain dengan meningkatkan produktivitas lahan pertanian melalui lumbung pangan di tingkat desa, daerah, dan nasional. Selain itu, ia menekankan pentingnya tersedianya lahan pangan secara berkelanjutan dan memperbaiki tata kelola sistem pangan, konsumsi, serta produktivitas pertanian.

Untuk meningkatkan produksi pangan, Viva Yoga menekankan dua pendekatan utama: intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi melibatkan tiga hal utama, yaitu meningkatkan produktivitas melalui sarana produksi pertanian yang memadai, mengurangi susut panen dengan alat pascapanen, serta meningkatkan indeks pertanaman melalui optimalisasi eksisting (air irigasi dan pengolahan lahan).

“Sedang ekstensifikasi ditempuh lewat menambah lahan baku sawah dan mencetak lahan atau sawah baru”, ujarnya.      

Namun, untuk mencapai swasembada pangan, Viva Yoga menyadari bahwa Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, stagnasi produksi pangan yang tercatat pada padi mengalami penurunan sekitar 1,1 persen pada periode 2019-2023, serta rendahnya produktivitas lahan budidaya ikan. Kedua, ketergantungan tinggi pada impor pangan, seperti beras, daging sapi, susu, dan garam. Ketiga, adanya daerah rawan pangan yang masih menjadi masalah, dengan sekitar 16 persen kabupaten/kota mengalami kerawanan pangan.

Tantangan lainnya termasuk alih fungsi lahan yang massif, terutama di Pulau Jawa, serta penurunan kualitas lahan yang mencapai 89,5 persen dan kurangnya regenerasi petani. Sekitar 70 persen petani dan nelayan berusia di atas 43 tahun.

"Meski demikian, tantangan tersebut harus dihadapi dan dikelola sehingga tidak menjadi rintangan. Tantangan yang ada bila dikelola dengan baik bisa menjadi potensi baru dengan memanfaatkan lahan yang masih luas di Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua," ujarnya.

Sebagai informasi, dalam seminar tersebut turut hadir juga sebagai pembicara Presidium Majelis Nasional KAHMI Prof. Dr. Ir. Abdullah Puteh, Mantan Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan Prof. Dr. Ir. M. Jafar Hafsah, anggota Komisi IV DPR Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof. Dr. Sofyan Sjaf, dan Direksi BNI Munadi Herlambang