
Jakarta – Masuknya Indonesia sebagai anggota BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) menuai perhatian berbagai kalangan. Guru Besar Keamanan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (UKI), Angel Damayanti, menyebut langkah ini sebagai peluang besar sekaligus tantangan bagi Indonesia di kancah internasional.
Menurut Angel, kehadiran Indonesia di BRICS menjadi kesempatan emas untuk memperkuat peran negara dalam politik global.
"Ini adalah peluang besar jika Indonesia mampu memainkan peran strategisnya, tidak hanya sebagai anggota, tetapi juga sebagai pemimpin negara-negara berkembang," ujarnya dalam Seminar Nasional BRICS dan Indonesia: Peluang Tantangan dan Strategi Kolaborasi Global di Kampus Universitas Nasional Jakarta, Kamis (21/1/2025).
Menurutnya, dengan semangat Bandung Spirit yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA), Indonesia berpotensi menjadi penggerak perubahan sistem internasional yang selama ini dinilai merugikan negara-negara berkembang.
Peluang sebagai Pemimpin Negara Berkembang
Angel menilai bahwa BRICS dapat menjadi wadah bagi Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara global selatan. "Indonesia bisa menunjukkan bahwa dirinya adalah negara yang berpengaruh dan berkomitmen terhadap kesejahteraan negara-negara berkembang. Namun, ini hanya bisa terwujud jika Indonesia tidak sekadar 'ikut-ikutan', tetapi aktif memperjuangkan kepentingan bersama," jelasnya.
Ancaman jika Salah Melangkah
Namun, Angel juga memperingatkan potensi ancaman jika langkah Indonesia tidak dikelola dengan baik. Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Cina dan Amerika Serikat.
"Jika Indonesia terlihat terlalu condong ke Cina, ini dapat memicu respons negatif dari Amerika Serikat. Hubungan bilateral yang sudah terjalin dengan baik bisa terganggu," kata Angel.
Ia juga menyoroti sikap Amerika yang cenderung kritis terhadap negara-negara yang mendukung dedolarisasi, agenda yang menjadi salah satu fokus BRICS. "Amerika bisa saja menutup peluang investasi atau kerja sama lainnya jika Indonesia dianggap terlalu dekat dengan Cina," tambahnya.
Politik Luar Negeri Bebas Aktif sebagai Kunci
Angel menegaskan bahwa politik luar negeri bebas aktif harus menjadi pegangan Indonesia dalam BRICS. "Indonesia harus mampu menunjukkan bahwa kehadirannya di BRICS bukan semata-mata mendukung Cina, tetapi sebagai bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang. Indonesia harus menjadi pengimbang, bukan pengikut," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki forum internasional lainnya seperti G20, PBB, dan kerja sama bilateral untuk memperluas pengaruh. "Kunci keberhasilan ada pada diplomasi yang kuat, cermat, dan fleksibel," katanya.
Tantangan Diplomasi di Tengah Persaingan Global
Angel menutup dengan menyatakan bahwa tantangan utama bagi Indonesia adalah kemampuan untuk menjalankan diplomasi yang efektif di tengah persaingan geopolitik yang semakin tajam. "Indonesia harus memainkan peran dengan cerdas, tidak terlalu agresif, tetapi juga tidak terkesan hanya ingin menyenangkan semua pihak. Keanggotaan di BRICS harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional," pungkasnya.
Keputusan bergabung dengan BRICS diharapkan membawa dampak positif bagi posisi Indonesia di panggung global, asalkan langkah-langkah yang diambil mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan semua mitra strategis.