Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Menentukan Masa Depan Bangsa

AKM • Friday, 18 Oct 2024 - 12:20 WIB
Ilustrasi anak usia dini sedang belajar. Dok. Tanoto Foundation

Jakarta - Tumbuh kembang anak di masa awal kehidupan merupakan fase krusial yang tidak hanya berdampak pada individu anak, tetapi juga bagi generasi mendatang. Indonesia yang memproyeksikan "Indonesia Emas 2045" harus memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD). Semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat luas, harus berkolaborasi untuk mendukung perkembangan anak usia dini.

Dalam program “Unlocking Potential” yang dipersembahkan oleh Tanoto Foundation, Maniza Zaman, UNICEF Indonesia Country Representative, menekankan bahwa perkembangan anak usia dini sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa. 

“Tahun-tahun pertama kehidupan membentuk masa depan anak dan masyarakat. Periode ini menentukan pendidikan, kemampuan kerja, dan produktivitas individu,” ungkap Maniza, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Mariza , Otak anak pada usia dini berkembang dengan sangat cepat, dan tahun-tahun pertama kehidupannya menjadi momen emas. Pada usia lima tahun, perkembangan otak telah mencapai 90 persen. 

“Riset menunjukkan bahwa anak yang mengikuti PAUD memiliki peluang lebih baik untuk berprestasi di sekolah dan menjadi individu produktif di masa depan. Sebaliknya, anak yang tidak mengikuti PAUD berpotensi memiliki hasil belajar yang buruk dan berisiko putus sekolah,” ungkap Mariza.

Maniza juga menyoroti bahwa satu tahun pembelajaran pra-sekolah menjadi landasan penting untuk numerasi, literasi, dan pembentukan karakter. Menurutnya, investasi di PAUD adalah investasi masa depan yang sangat menguntungkan. Setiap Rp 1 yang diinvestasikan untuk PAUD menghasilkan keuntungan empat kali lipat. 

“Ini adalah investasi yang sangat menguntungkan, terutama mengingat cita-cita Indonesia mencapai ‘Indonesia Emas 2045’,” tambahnya.

Indonesia saat ini tengah mengembangkan model PAUD Holistik Integratif, yang tidak hanya memberikan pembelajaran kepada anak, tetapi juga mencakup layanan kesehatan dan gizi. Pemerintah juga sedang mempertimbangkan kebijakan wajib belajar 13 tahun, yang mencakup pendidikan pra-sekolah. Maniza menilai kebijakan ini akan menjadi terobosan penting dalam perkembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengembangan PAUD. Hanya 35 persen anak usia 3-6 tahun yang memiliki akses ke layanan PAUD. Akses ke PAUD di daerah-daerah terpencil masih terbatas, dan alokasi anggaran untuk PAUD hanya 0,8 persen dari total anggaran pendidikan nasional, jauh di bawah standar internasional sebesar 10 persen.

Selain itu, kualitas guru PAUD juga masih menjadi masalah. Hanya 60 persen guru PAUD yang memiliki gelar sarjana, jauh di bawah tingkat pendidikan guru pada jenjang pendidikan lainnya. Maniza menekankan bahwa diperlukan pengakuan yang lebih besar terhadap profesi guru PAUD. 

“Guru PAUD adalah profesi mulia dan penting untuk masa depan bangsa,” katanya.

Selain infrastruktur dan kualitas guru, kesadaran orang tua tentang pentingnya PAUD juga menjadi tantangan. Banyak orang tua yang masih meremehkan pentingnya pendidikan anak usia dini, terutama karena kebanyakan layanan PAUD dikelola oleh swasta dan membutuhkan biaya tambahan dari keluarga.

Kolaborasi Semua Pihak untuk Masa Depan Bangsa

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, UNICEF mendorong agar semua pemangku kepentingan bekerja sama dalam mendukung pengembangan PAUD. Maniza menjelaskan bahwa pengembangan PAUD membutuhkan pendekatan yang holistik, termasuk dukungan terhadap kesehatan ibu sejak masa kehamilan, layanan parenting yang efektif, serta pendanaan yang memadai.

Koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga tingkat desa juga menjadi kunci sukses dalam memastikan semua anak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan anak usia dini. Selain itu, dukungan dari sektor swasta, lembaga non-pemerintah, dan filantropi juga sangat diperlukan. Maniza mengajak perusahaan untuk menerapkan kebijakan ramah keluarga yang mendukung orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka.

“Perusahaan tidak hanya mengambil keuntungan, tetapi juga harus melakukan investasi pada karyawan mereka. Jika karyawan bahagia, bisnis pun akan sukses,” jelas Maniza.

Teknologi digital dan media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi dan praktik baik terkait pendidikan anak usia dini. Dengan populasi Indonesia yang besar, teknologi bisa menjadi alat yang efektif dalam menyampaikan pesan tentang pentingnya PAUD dan pola pengasuhan yang baik.

Maniza menegaskan bahwa peran semua pihak sangat penting dalam memastikan PAUD menjadi prioritas bersama. Pemerintah, sektor swasta, lembaga non-pemerintah, hingga tokoh masyarakat dan pemimpin agama harus bersinergi dalam mendorong kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini. 

“Ini adalah tanggung jawab bersama untuk masa depan bangsa,” tutupnya.