Mencari Sinyal hingga Menentukan Harga Panen, Internet Mulai Mengubah Kehidupan Warga 3T

AKM • Thursday, 13 Aug 2026 - 07:40 WIB
Direktur Strategis Bisnis Indonesia Group Maria Yuliana Benyamin (dari kiri), Kepala Dinas Kominfo Kab. Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen, Kepala Sekolan SMAN 1 Titehena Konrardus Kudarto, dan Kepala UPTD Puskesmas Ilebura Yohanes Noda Kwuta member

JAKARTA — Kehadiran jaringan telekomunikasi di wilayah terpencil mulai mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika sebelumnya warga harus berjalan kaki, menggunakan sepeda motor, bahkan memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal, kini konektivitas mulai dimanfaatkan untuk pendidikan, pelayanan publik hingga kegiatan ekonomi.

Salah satu gambaran perubahan tersebut terlihat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah kepulauan yang memiliki kawasan pegunungan dan sejumlah daerah rawan bencana itu sebelumnya menghadapi keterbatasan akses komunikasi.

Kepala Dinas Kominfo Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen mengatakan, kondisi tersebut membuat masyarakat, aparatur pemerintah, sekolah hingga fasilitas kesehatan harus menempuh jarak cukup jauh untuk memperoleh akses komunikasi.

“Masyarakat kami atau teman-teman di sekolah, bahkan fasilitas kesehatan, Puskesmas, Pustu, harus menjangkau berkilometer-kilometer jarak untuk mendapatkan tempat bersinyal,” ujar Silvester.

Dalam kondisi tertentu, masyarakat harus mencari lokasi yang lebih tinggi agar perangkat dapat menangkap sinyal. Bahkan, menurut Silvester, sebagian warga pernah memanjat pohon karena tidak mendapatkan jaringan di permukaan tanah.

“Kadang naik pohon karena di bawah tidak ada sinyal, jadi harus naik pohon,” katanya.

Kondisi tersebut mulai berubah setelah pembangunan infrastruktur telekomunikasi dilakukan. Di Flores Timur, BAKTI telah membangun enam BTS serta mendukung sekitar 262 akses internet yang dimanfaatkan untuk kebutuhan pemerintahan, desa, sekolah dan fasilitas kesehatan.

Perubahan juga dirasakan sektor pendidikan. Kepala SMAN 1 Titehena Konradus Kudarto mengatakan keberadaan internet membuat sejumlah aktivitas sekolah beralih ke sistem digital. Pemanfaatannya mencakup kegiatan administrasi hingga pelaksanaan asesmen.

Namun, meningkatnya penggunaan internet menghadirkan tantangan baru bagi sekolah. Kapasitas jaringan menjadi persoalan ketika banyak pengguna mengakses layanan secara bersamaan.

Dalam pelaksanaan asesmen, misalnya, sekitar 450 siswa dan 50 guru serta pengawas dapat menggunakan jaringan pada waktu yang sama. Kondisi itu membuat kebutuhan sekolah tidak lagi sebatas tersedianya sinyal, tetapi juga kapasitas jaringan yang memadai.

“Kami datang dengan harapan besar supaya ada peningkatan kapasitas. Sudah ada di lapangan, tapi ada sesuatu yang harus dibenahi supaya bisa dimaksimalkan,” ujar Konradus.

Informasi Harga Perkuat Posisi Petani

Dampak konektivitas tidak hanya dirasakan dalam bidang pendidikan dan pelayanan publik. Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, internet mulai dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, termasuk harga komoditas pertanian.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Parigi Moutong Khairuddin mengatakan, akses internet membuat masyarakat di sejumlah wilayah dapat memperoleh informasi dari tingkat provinsi hingga kecamatan.

“Dengan adanya bantuan dari BAKTI, masyarakat sudah bisa mengakses informasi, khususnya di provinsi, kabupaten sampai kecamatan,” kata Khairuddin.

Bagi petani, informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan sebelum menjual hasil pertanian. Kepala Desa Baina Barat Yuslan mengatakan masyarakat kini memiliki kesempatan membandingkan harga dan mencari calon pembeli dari wilayah lain.

Perubahan tersebut secara tidak langsung memberikan ruang bagi petani untuk menentukan pilihan dengan informasi yang lebih beragam. Sebelumnya, keterbatasan informasi dapat membuat masyarakat lebih bergantung pada informasi harga yang diberikan pembeli atau tengkulak.

Konektivitas juga mulai dimanfaatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Media sosial digunakan untuk memperkenalkan produk, menerima pesanan hingga menjangkau konsumen di luar wilayah desa.

“Mereka bisa mendapatkan makanan yang dibuat kemudian dijual, diposting di media sosial, kemudian dikirim,” ujar Yuslan.

Pengalaman di Flores Timur dan Parigi Moutong memperlihatkan bahwa pembangunan jaringan telekomunikasi di wilayah terpencil memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar menyediakan akses komunikasi.

Bagi pelajar, konektivitas dapat mendukung kegiatan belajar dan asesmen. Bagi pemerintah serta fasilitas kesehatan, jaringan membantu memperlancar pertukaran informasi dan pelayanan. Sementara bagi petani dan pelaku UMKM, akses internet membuka peluang memperoleh informasi pasar dan memperluas jangkauan usaha.

Meski demikian, hadirnya jaringan belum menjadi akhir dari persoalan konektivitas di wilayah 3T. Ketika masyarakat mulai semakin bergantung pada layanan digital, kebutuhan terhadap kapasitas dan kualitas jaringan juga ikut meningkat.

Karena itu, tantangan berikutnya adalah memastikan infrastruktur yang telah dibangun mampu memberikan layanan secara stabil dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pemerataan konektivitas pada akhirnya bukan hanya soal menghadirkan sinyal di wilayah yang sebelumnya blank spot, tetapi juga memastikan akses tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan publik dan membuka peluang ekonomi masyarakat.