Akademisi UKI Laksanakan Psikoedukasi Pubertas pada Remaja di Kampus Diakoneia Modern

ANP • Thursday, 11 Jul 2024 - 12:14 WIB

Oleh Renatha Ernawati MPd., Kons (Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Indonesia)

Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Indonesia (UKI) bekerjasama dengan Kampus Diakoneia Modern (KDM)  menggelar pengabdian kepada masyarakat ‘Psikoedukasi Pubertas pada Remaja’ yang berjudul "Ketika Tubuhku Tak Lagi Sama.”

Kegiatan yang dilaksanakan di Yayasan Kampus Diakoneia Modern, Jatisampurna Bekasi, bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada remaja tentang perubahan fisik dan emosional selama masa pubertas. 

Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 2 Maret 2023 dibuka dengan sambutan dari pihak KDM dan UKI. Narasumber dalam pengabdian kepada masyarakat ini ialah Dosen Program studi Bimbingan dan Konseling UKI, Renatha Ernawati yang merupakan seorang konselor dan Evi Deliviana seorang psikolog. Disini yang menjadi sasaran kegiatan adalah remaja. Dalam sambutannya, menekankan pentingnya pendidikan tentang pubertas untuk membantu remaja menghadapi masa transisi ini dengan lebih baik. 

"Pubertas merupakan waktu yang penuh tantangan bagi remaja, baik dari segi fisik maupun psikologis. Melalui edukasi yang tepat, kita dapat membantu mereka memahami dan mengelola perubahan yang mereka alami," ujar Renatha dan Evi. 

Selama acara psikoedukasi, para peserta dibimbing untuk memahami berbagai perubahan yang terjadi pada tubuh mereka selama masa pubertas, seperti pertumbuhan fisik, perubahan hormonal, dan perubahan emosional. Mereka juga diajarkan strategi untuk mengelola stres dan perubahan mood yang seringkali muncul pada masa ini. 

Pemahaman akan Perubahan Fisik dan Emosi pada Remaja

Acara bertajuk "Ketika Tubuhku Tak Lagi Sama" ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada siswa-siswi tentang perubahan fisik dan emosional yang terjadi selama masa pubertas. Sesi psikoedukasi ini dipandu oleh ahli yang berpengalaman dalam bidangnya. Mereka membahas berbagai topik edukasi tentang perubahan fisik. 

Renatha Ernawati dan Evi Deliviana memberikan pemahaman yang jelas kepada remaja mengenai perubahan fisik yang terjadi selama masa pubertas. Ini meliputi pertumbuhan tubuh, perubahan pada organ reproduksi, serta perubahan hormonal yang dapat mempengaruhi emosi dan perilaku mereka. 

Workshop dan diskusi kelompok untuk remaja ini dilaksanakan dengan berbagi pengalaman, kekhawatiran, dan pengetahuan mereka tentang masa pubertas. Remaja sering mengalami kegelisahan ketika mereka merasakan perubahan yang signifikan pada tubuh mereka. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan fisik yang sangat cepat dan tidak terduga. 

Pada masa remaja, hormon tubuh berubah secara drastis, menyebabkan pertumbuhan yang pesat dan perkembangan organ reproduksi, serta perubahan dalam bentuk tubuh secara keseluruhan. Hal ini bisa membuat remaja merasa cemas karena mereka harus beradaptasi dengan tubuh baru mereka yang mungkin terasa asing atau sulit untuk diterima.

Selain perubahan fisik, tekanan sosial juga merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap kegelisahan remaja terkait dengan penampilan mereka. Di tengah budaya yang sering kali mengidealkan standar kecantikan tertentu, remaja mungkin merasa tertekan untuk mencocokkan diri dengan citra yang sering dipromosikan di media sosial, iklan, dan media lainnya. Perasaan tidak percaya diri atau tidak puas dengan penampilan mereka dapat memperburuk kecemasan mereka terhadap perubahan fisik yang sedang mereka alami.

Tak hanya itu, kurangnya pengetahuan tentang perubahan tubuh yang normal juga dapat memperbesar kecemasan remaja. Banyak remaja tidak sepenuhnya memahami bahwa perubahan fisik yang mereka alami merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang. Ketidakpastian tentang apakah perubahan tersebut normal atau tidak dapat menimbulkan kecemasan yang lebih besar, terutama jika mereka merasa tidak dapat berbicara atau berbagi pengalaman mereka dengan orang lain.

Terakhir, faktor psikologis seperti kebutuhan untuk diterima dan diakui oleh teman sebaya juga dapat mempengaruhi tingkat kecemasan remaja terkait dengan perubahan tubuh. Remaja sering kali ingin merasa diterima dan dianggap menarik oleh teman-teman mereka. Jika mereka merasa bahwa perubahan fisik mereka dapat mempengaruhi cara orang lain memandang mereka, hal ini dapat memicu kecemasan sosial yang signifikan.

Dalam menghadapi kecemasan ini, penting bagi remaja untuk mendapatkan dukungan dari orang dewasa yang dapat mereka percayai, seperti orang tua atau seorang konselor. Komunikasi terbuka tentang perubahan tubuh yang normal dan membangun rasa percaya diri yang positif juga merupakan langkah-langkah penting dalam membantu remaja mengatasi kecemasan mereka dan merasa lebih nyaman dengan tubuh mereka yang sedang berkembang. 

Dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan juga Evaluasi dan Umpan Balik terhadap kegiatan untuk mengevaluasi dampaknya terhadap pemahaman dan kesiapan remaja dalam menghadapi pubertas. Mengumpulkan umpan balik dari peserta. Kegiatan psikoedukasi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber, di mana para siswa dan siswi aktif bertanya tentang berbagai hal yang mereka alami atau khawatirkan seputar pubertas. 

Acara ini dihadiri dengan antusias oleh para siswa-siswi KDM, yang aktif bertanya dan berdiskusi mengenai topik-topik yang diangkat. Mereka juga diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pertanyaan pribadi mereka, sehingga suasana menjadi lebih terbuka dan mendukung. 

Psikoedukasi Pubertas pada Remaja

Pengabdian kepada masyarakat dengan tema "Psikoedukasi Pubertas pada Remaja: Ketika Tubuhku Tak Lagi Sama" sangat relevan dan bermanfaat bagi remaja. Ada beberapa hal yang bisa menjadi fokus dan kegiatan dalam pengabdian tersebut diantaranya memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat mengajarkan pentingnya perawatan diri dan kesehatan reproduksi selama masa pubertas. Hal ini meliputi informasi tentang menstruasi pada perempuan, pengelolaan emosi, dan perubahan psikologis yang terjadi. Keterampilan mengelola perubahan, melatih remaja dengan keterampilan untuk mengelola stres dan perubahan emosional yang mungkin terjadi selama masa pubertas. Ini dapat meliputi teknik relaksasi, keterampilan komunikasi, dan cara mengatasi tekanan sosial.

Pengabdian kepada masyarakat ini tidak hanya memberikan informasi praktis kepada remaja, tetapi juga membantu mereka merasa lebih siap dan nyaman menghadapi perubahan yang terjadi pada diri mereka selama masa pubertas. 

“Harapan dari kegiatan seperti ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada remaja tentang perubahan yang mereka alami selama masa pubertas. Kami ingin siswa-siswi merasa nyaman dan siap menghadapi masa transisi ini dengan percaya diri dan pengetahuan yang memadai," kata salah satu pengurus acara dari Kampus Diakonia Modern. 

Sesi psikoedukasi ini merupakan bagian dari upaya terus-menerus Kampus Diakoneia Modern dalam memberikan pendidikan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada kesehatan mental dan fisik siswa-siswinya. 

Di tengah dinamika perkembangan remaja yang semakin kompleks, pentingnya pendekatan psikoedukasi terhadap pubertas menjadi sorotan utama. Pubertas merupakan masa transisi yang signifikan dalam kehidupan setiap individu, di mana perubahan fisik dan emosional dapat menimbulkan tantangan tersendiri. Psikoedukasi tentang pubertas tidak hanya berkutat pada aspek fisik semata, tetapi juga melibatkan pemahaman tentang perubahan psikologis dan sosial yang dialami remaja. Hal ini menjadi krusial karena mampu membantu mereka menghadapi perubahan-perubahan tersebut dengan lebih baik.

Renatha Ernawati seorang konselor yang juga aktif dalam melakukan psikoedukasi pubertas di sekolah-sekolah, mengungkapkan, "Pubertas seringkali dianggap sebagai masa yang membingungkan bagi remaja. Mereka sering merasa 'tubuhku tak lagi sama', dan hal ini dapat memengaruhi harga diri dan persepsi diri mereka."

Lebih lanjut Renatha menyoroti pentingnya mendidik remaja tentang perkembangan normal tubuh dan perasaan-perasaan yang mungkin muncul selama masa pubertas. "Dengan pemahaman yang baik, mereka dapat mengelola perubahan ini dengan lebih positif dan mengurangi risiko masalah psikologis seperti depresi atau gangguan makan," tambahnya. 

Psikoedukasi pubertas tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga perlu didukung oleh peran orang tua. Melalui dialog terbuka dan edukasi yang tepat. Selain itu, program-program seperti konseling remaja dan dukungan psikologis di sekolah juga membantu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan holistik para remaja. 

Secara keseluruhan, pendekatan psikoedukasi yang komprehensif terhadap pubertas bukan hanya tentang menjelaskan fakta biologis, tetapi juga memberdayakan remaja dengan ketrampilan emosional dan sosial yang diperlukan untuk menghadapi masa transisi ini dengan percaya diri dan kesehatan mental yang baik. Dengan terus ditingkatkannya pemahaman dan dukungan terhadap proses pubertas, diharapkan remaja dapat meraih potensi mereka secara optimal dan berkembang menjadi individu yang tangguh dan seimbang.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga ruang bagi para remaja untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan dari teman sebaya dan ahli di bidangnya. Sesi psikoedukasi penting untuk remaja mengenai pubertas.