Cerminan Nilai Budaya, Fadli Zon: Si Doel Anak Betawi Bukan Sekadar Hiburan

AKM • Friday, 6 Nov 2026 - 07:31 WIB
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon -Kanan

JAKARTA – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menilai novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo memiliki peran lebih dari sekadar karya hiburan. Novel tersebut dinilai merekam kehidupan sosial masyarakat Betawi sekaligus menyampaikan pesan budaya dan nilai-nilai kehidupan yang relevan untuk dikenalkan kepada generasi mendatang.

Hal itu disampaikan Fadli Zon saat menghadiri kegiatan Mengenang 130 Tahun Aman Datuk Madjoindo di Jakarta, Kamis (5/11/2026). Menurutnya, karya sastra tersebut memiliki perpaduan antara fungsi hiburan dan pendidikan melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Si Doel Anak Betawi menjadi hiburan masyarakat, menjadi tontonan, sekaligus juga tuntunan. Karena banyak sekali pesan-pesan budaya, termasuk budaya Betawi dalam hal ini,” kata Fadli.

Ia menjelaskan, kekuatan novel tersebut terletak pada kemampuannya menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi. Penggunaan dialek lokal, hubungan antara orang tua dan anak, hingga humor khas Betawi menjadi unsur yang membentuk karakter cerita.

Menurut Fadli, pendekatan tersebut membuat Si Doel Anak Betawi tidak hanya dikenal sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi salah satu medium untuk memahami identitas dan kehidupan masyarakat Betawi.

Aman Datuk Madjoindo sendiri merupakan sastrawan Indonesia yang dikenal produktif. Sepanjang perjalanan kepenulisannya, ia menghasilkan sekitar 54 karya sastra, termasuk 20 novel. Di antara karya-karyanya, Si Doel Anak Betawi menjadi salah satu yang paling dikenal masyarakat luas.

Popularitas novel tersebut semakin berkembang setelah diadaptasi ke berbagai media. Pada 1973, sutradara Sjuman Djaja mengangkatnya ke layar lebar. Kisah Si Doel kemudian juga hadir dalam bentuk serial televisi dan lagu yang dikenal masyarakat.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah karya sastra dapat melampaui media penerbitan dan menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas. Bahkan, adaptasi televisinya turut menemani perjalanan sosial masyarakat Indonesia dalam berbagai periode, termasuk masa reformasi.

Harapan 

Fadli berharap, peringatan 130 tahun Aman Datuk Madjoindo tidak hanya menjadi agenda mengenang perjalanan seorang sastrawan. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan menjadi langkah untuk memperluas pengembangan, pelestarian, dan pemanfaatan karya-karya sastra Indonesia.

Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah menjadikan karya sastra klasik sebagai kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) melalui berbagai inovasi dan kreativitas.

“Tidak ingin berhenti di perayaan saja, tapi bagaimana pengembangan dan pemanfaatan karya-karya Aman Datuk Madjoindo ini menjadi lebih luas lagi. Karena dengan kreativitas, inovasi, mungkin menjadi Intellectual Property (IP),” ujarnya.

Selain pengembangan dalam negeri, Fadli juga mendorong penerjemahan karya-karya Aman Datuk Madjoindo ke berbagai bahasa. Upaya tersebut dinilai dapat membuka kesempatan bagi sastra Indonesia untuk dikenal oleh pembaca internasional.

Ia menyebut, pemanfaatan karya sastra melalui penerjemahan dan pengembangan kreatif dapat menjadi bagian dari hilirisasi budaya, sehingga warisan literasi nasional memiliki jangkauan yang lebih luas.

Sementara itu, Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo, Boy Rafli Amar, menekankan pentingnya menjaga warisan pemikiran para sastrawan, khususnya mereka yang berkarya melalui Balai Pustaka.

Menurut Boy, karya sastra memiliki kontribusi dalam membangun literasi sekaligus membentuk karakter anak Indonesia. Karena itu, pemikiran dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya para sastrawan terdahulu perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.

“Kita berharap budaya nasional, budaya hasil pemikiran para sastrawan kita ini bisa tetap membumi di Indonesia. Dan bahkan mendunia,” kata Boy.

Ia menambahkan, Yayasan Aman Datuk Madjoindo berencana menindaklanjuti upaya pelestarian tersebut melalui penerjemahan karya ke sejumlah bahasa, termasuk bahasa Inggris.

Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses pembaca mancanegara terhadap karya Aman Datuk Madjoindo sekaligus memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia kepada dunia.

“Sebagaimana kata Pak Menteri, kita akan menindaklanjuti dengan menerjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris. Karena ini adalah merupakan sharing kita kepada dunia,” ujarnya.

Melalui momentum 130 tahun Aman Datuk Madjoindo, pengembangan karya sastra klasik diharapkan tidak hanya berorientasi pada pelestarian sejarah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, karya sastra Indonesia dapat terus dibaca, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.