
JAKARTA – Peringatan 100 tahun Frans Seda di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tidak hanya diisi dengan kegiatan mengenang perjalanan hidup tokoh nasional tersebut, tetapi juga penggalangan dana pendidikan sebesar Rp145 juta untuk renovasi sekolah dan asrama di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dana yang dihimpun melalui Gerakan 100 Sahabat untuk Sekolah itu akan digunakan untuk mendukung renovasi SMPS Katolik Ile Bura serta Asrama Putra-Putri San Marco di Kecamatan Ile Bura.
Penggalangan dana tersebut menjadi bagian dari puncak perayaan Frans Seda Centennial Celebration: Empowering the Next Generation yang berlangsung di Kampus Semanggi, Jakarta, Jumat (9/10).
Kegiatan yang diselenggarakan Frans Seda Foundation bersama Yayasan Atma Jaya dan Unika Atma Jaya itu juga menghadirkan dialog lintas generasi, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), pertunjukan drama musikal, serta apresiasi terhadap karya kreatif anak muda.
Frans Seda dikenal sebagai negarawan, tokoh pendidikan, dan salah satu pendiri Unika Atma Jaya pada 1960. Rangkaian peringatan satu abad kelahirannya telah berlangsung sejak September, antara lain melalui pameran sejarah dan kuliah umum mengenai kebijakan ekonomi di masa sulit pada 1 Oktober.
Sosok Panutan
Dalam sambutannya, Managing Director Frans Seda Foundation Stefanus Ginting menyampaikan bahwa Frans Seda merupakan sosok panutan dengan kiprah dan pemikiran yang melampaui zamanny, sebagai negarawan, tokoh keagamaan, dan tokoh pendidikan.
"Bahwa “Empowering the Next Generation” diwujudkan dalam format yang dekat dengan generasi muda, melalui pemanfaatan teknologi AI, musik, dan drama musikal," imbuhnhya.
Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), mengajak hadirin menjadikan Frans Seda sebagai teladan nyata semangat “Untuk Tuhan dan Tanah Air”.
"Peringatan satu abad ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghidupkan kembali semangat pengabdian tersebut dalam pilihan dan tindakan sehari-hari," kata Rektor.
Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo, dalam misa syukur yang mengawali acara, juga mengajak generasi muda merawat dan mengembangkan warisan Frans Seda melalui cara-cara baru tanpa meninggalkan nilai-nilai yang mendasarinya.
“Warisan ini diteruskan kepada kita untuk kita jaga, untuk kita rawat, dan untuk kita kembangkan dengan mencari jalan-jalan yang baru,” ujar Kardinal Suharyo.
Dialog lintas generasi dan karya kreatif
Salah satu agenda perayaan adalah drama musikal yang mengangkat perjalanan hidup Frans Seda, mulai dari masa kecil hingga kiprahnya sebagai menteri. Pertunjukan tersebut melibatkan mahasiswa, alumni, staf Atma Jaya, dan komunitas teater Untuk Tuhan dan Tanah Air.
Acara juga menghadirkan sesi “Bincang Bersama Frans Seda” yang memanfaatkan teknologi untuk mempertemukan pertanyaan dari perwakilan lintas generasi dengan pesan dan pemikiran tokoh tersebut.
Di bidang kreativitas, penyelenggara mengumumkan pemenang kompetisi What Lives On? yang diikuti 85 siswa SMA dan mahasiswa. Peserta menuangkan pemahaman mereka tentang Frans Seda melalui cerita pendek, ilustrasi, dan video pendek atau reels. Penghargaan lomba film vertikal juga diserahkan melalui kolaborasi dengan Institut Media Digital Emtek.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara mengangkat pendidikan, kepemimpinan, dan kreativitas sebagai bagian dari upaya meneruskan pemikiran Frans Seda kepada generasi berikutnya.
Donasi Rp145 juta untuk sekolah dan asrama di Flores Timur menjadi salah satu bentuk konkret kegiatan peringatan tersebut. Penggunaan dana itu diharapkan mendukung perbaikan fasilitas pendidikan bagi masyarakat setempat.