
Jakarta - Penanganan kanker payudara tidak berhenti pada diagnosis dan pengobatan, tetapi juga mencakup pemulihan serta kualitas hidup pasien. Karena setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda, pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai spesialisasi medis dan berpusat pada pasien menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan kanker.
Pesan tersebut diangkat MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters”, dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara di Jakarta, Rabu (28/10).
Berdasarkan data GLOBOCAN 2024, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit ini. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia. Tingginya angka kasus tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan yang sesuai karakteristik penyakit.
Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kemenkes RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, menekankan bahwa keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia.
“Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun,” ujarnya. Ia mengimbau perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara dan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia.
Pendekatan Multidisiplin untuk Setiap Pasien
Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, menyampaikan bahwa setiap pasien kanker memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda, sehingga penanganannya memerlukan kolaborasi dari berbagai spesialisasi medis.
“Setiap pasien memiliki perjalanan perawatan yang berbeda. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi multidisiplin agar setiap pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, tidak hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga kualitas hidupnya,” ujarnya.
Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin memungkinkan para dokter dari berbagai spesialisasi untuk bersama-sama mempertimbangkan pilihan terapi berdasarkan karakteristik penyakit, kondisi kesehatan, dan kebutuhan masing-masing pasien. Pertimbangan tersebut menjadi dasar dalam menyusun rencana perawatan, termasuk menentukan tindakan medis dan dukungan pemulihan yang diperlukan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa kanker payudara memiliki beberapa subtipe, antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple negative. Karakteristik tumor tersebut, bersama stadium penyakit, menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan terapi.
“Biopsi dan pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui karakteristik tumor sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai,” jelasnya.
Dari sisi bedah onkologi, Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk, menjelaskan bahwa tindakan operasi disesuaikan dengan kondisi pasien. Pilihannya antara lain mastektomi, yaitu pengangkatan seluruh jaringan payudara, dan breast-conserving surgery, yaitu operasi yang mempertahankan sebagian jaringan payudara.
“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujarnya.
Selain pengobatan, proses pemulihan juga menjadi perhatian. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Subspesialis Kardiorespirasi) MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menyampaikan bahwa rehabilitasi setelah operasi kanker payudara perlu disesuaikan dengan kondisi pasien agar fungsi tubuh dapat pulih secara bertahap.
Rehabilitasi medik dapat mencakup latihan rentang gerak bahu untuk mengurangi kekakuan, penguatan otot, serta penilaian dan penanganan pembengkakan lengan (limfedema) bila diperlukan. Tujuannya adalah mendukung pemulihan fungsi dan kemandirian pasien dalam aktivitas sehari-hari.
Memperkuat Kesadaran dan Akses Deteksi Dini Kanker Payudara
Melalui momentum Bulan Kesadaran Kanker Payudara, MRCCC Siloam Semanggi mengajak perempuan untuk lebih memperhatikan kesehatan payudara, termasuk memahami kapan dan bagaimana pemeriksaan perlu dilakukan. Komitmen ini juga diwujudkan melalui dukungan nyata untuk memperluas kesempatan mengakses deteksi dini.
Upaya tersebut melengkapi pendekatan multidisiplin yang telah dijalankan MRCCC Siloam Semanggi, agar setiap pasien memperoleh penanganan yang mempertimbangkan karakteristik penyakit, kebutuhan individu, serta kualitas hidup sepanjang proses perawatan.