Hari Santri, Universitas Sunan Gresik Siapkan 25 Beasiswa Kedokteran Gigi bagi Santri

AKM • Thursday, 22 Oct 2026 - 20:11 WIB
Anggota DPR yang Founder Universitas Sunan Gresik, Jazilul Fawaid Berikan Sambutan  dalam Kegaitan Program Akselerasi Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Kedokteran Gigi.

JAKARTA – Universitas Sunan Gresik (USG) menyiapkan 25 beasiswa pendidikan kedokteran gigi bagi santri dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan santri mengakses pendidikan tinggi sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan dokter gigi di Indonesia.

Founder Universitas Sunan Gresik, Jazilul Fawaid, mengatakan beasiswa tersebut akan menyasar santri dari kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur dan sejumlah daerah tertinggal. Para calon penerima tetap diwajibkan mengikuti proses seleksi.

“Kami telah menandatangani pernyataan komitmen untuk memberikan beasiswa kepada 25 santri sebagai kado Hari Santri Nasional. Beasiswa ini akan menyasar dua wilayah, yakni kawasan Pantura Jawa Timur dan daerah-daerah tertinggal,” kata Jazilul yang juga anggota DPR , Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Program Akselerasi Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Kedokteran Gigi yang diselenggarakan di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Jazilul yang juga ketua Fraksi PLB DPR mengapresiasi dukungan kementerian terhadap pendirian Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sunan Gresik. Menurut dia, pembukaan program pendidikan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan kesiapan sarana dan prasarana, tenaga pengajar, fasilitas pendidikan, serta pemenuhan persyaratan dari kementerian terkait.

Ia menegaskan, pengembangan FKG harus diikuti kesiapan institusi dalam menjaga mutu pendidikan dan menghasilkan lulusan sesuai standar yang berlaku.

“Kami tidak ingin mengecewakan kepercayaan dan amanah yang telah diberikan oleh kementerian. Karena itu, kami harus benar-benar siap, baik dari sisi kualitas, mutu pendidikan, maupun sasaran hasil yang ingin dicapai,” ujarnya.

Selain mengembangkan pendidikan kedokteran gigi, Jazilul menyampaikan rencana USG untuk membuka Fakultas Kedokteran pada masa mendatang. Namun, rencana tersebut memerlukan persiapan dan pemenuhan persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.

Pemerataan tenaga dokter gigi

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengatakan percepatan pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi diperlukan untuk menjawab persoalan distribusi tenaga medis yang belum merata di Indonesia.

Menurut Fauzan, pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar masyarakat di berbagai daerah memperoleh akses pelayanan kesehatan yang memadai.

“Karena itu kita perlu mempercepat pendidikan tenaga medis sekaligus memastikan bahwa hasilnya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat dan penyebarannya semakin merata, sehingga masyarakat semakin mudah memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu,” kata Fauzan.

Ia menyebutkan, berdasarkan proyeksi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, kebutuhan dokter gigi pada 2026 mencapai 165.241 orang, sedangkan kebutuhan dokter gigi spesialis sebanyak 13.876 orang. Sementara itu, perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran Gigi tercatat sebanyak 50 institusi yang tersebar di 18 provinsi.

Data tersebut menjadi salah satu gambaran tantangan dalam memperluas akses pendidikan kedokteran gigi, terutama untuk mendukung ketersediaan tenaga medis di wilayah yang belum terlayani secara optimal.

Kemendiktisaintek dorong pengembangan pendidikan

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek, Khairul Munadi, mengapresiasi inisiatif Universitas Sunan Gresik dalam merespons kebutuhan tenaga dokter gigi melalui pengembangan fakultas tersebut.

Khairul menilai, keterlibatan perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat dapat menjadi praktik baik bagi institusi pendidikan lainnya. Meski demikian, pengembangan program studi harus berjalan seiring dengan kesiapan penyelenggaraan dan pemenuhan standar kualitas.

“Kami dari Kemendiktisaintek tentu mengapresiasi upaya dan inisiatif luar biasa yang dilakukan Universitas Sunan Gresik. Tidak banyak perguruan tinggi yang memiliki determinasi kuat untuk melihat dan menjawab kebutuhan yang ada. Saya kira, ini merupakan praktik baik yang bisa ditularkan kepada perguruan tinggi lainnya,” ujar Khairul.

Ia berharap proses pengembangan FKG Universitas Sunan Gresik berjalan lancar sehingga dapat berkontribusi dalam menyiapkan dokter gigi yang kompeten.

"Pengembangan pendidikan juga diharapkan dapat berlanjut hingga jenjang spesialis sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan," tandasnya.

Pemberian beasiswa kepada santri menjadi salah satu upaya memperluas akses pendidikan profesi kesehatan. Keberhasilan program tersebut nantinya tidak hanya ditentukan oleh jumlah penerima beasiswa, tetapi juga kesiapan pendidikan, kualitas lulusan, serta kontribusi mereka dalam menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.