
JAKARTA – Indonesia dinilai perlu memperkuat kemampuan menciptakan dan memproduksi teknologi sendiri agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk asing. Penguatan sumber daya manusia, kapasitas manufaktur, riset, serta rantai pasok dalam negeri menjadi bagian penting untuk mendorong industri teknologi nasional bersaing di pasar global.
CEO SofLogic Indonesia, Stanley Lawrence, mengatakan besarnya pasar domestik perlu diimbangi dengan kemampuan menghasilkan produk yang kompetitif dan sesuai kebutuhan konsumen.
“Indonesia jangan hanya menjadi pasar bagi produk teknologi. Kita memiliki talenta, kreativitas, dan potensi industri untuk menghasilkan produk sendiri. Tantangannya adalah bagaimana membangun produk yang benar-benar kompetitif, memenuhi kebutuhan konsumen, dan mampu bersaing di pasar global,” ujar Stanley dalam peresmian kantor pusat SofLogic Indonesia di JB Tower, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Menurut Stanley, membangun merek teknologi nasional tidak cukup hanya dengan mencantumkan identitas Indonesia pada produk. Perusahaan harus mampu membuktikan kualitas, keandalan, manfaat, serta daya saing harga agar mendapat kepercayaan konsumen di tengah persaingan dengan merek-merek internasional.
“Label Indonesia saja tidak cukup. Produk harus mampu membuktikan kualitas, keandalan, dan manfaatnya bagi konsumen. Kami harus memberikan alasan yang kuat bagi masyarakat untuk memilih produk yang dikembangkan dan diproduksi di Indonesia,” katanya.
Stanley juga menekankan pentingnya memaknai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai bagian dari pembangunan kemampuan industri, bukan sekadar pemenuhan persyaratan administratif.
“TKDN tidak seharusnya berhenti sebagai angka atau kewajiban administratif. Yang perlu dibangun adalah kemampuan industri di baliknya, termasuk sumber daya manusia, manufaktur, dan rantai pasok dalam negeri. Dengan begitu, pengembangan produk lokal dapat memberikan nilai tambah yang lebih luas bagi Indonesia,” ujarnya.
Ia menilai penguatan produksi dalam negeri perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja dan pengembangan teknologi. Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan pasar domestik turut mendorong penciptaan nilai tambah di Indonesia.
SofLogic menyatakan produk-produknya dirancang dan diproduksi di Indonesia dengan memperhatikan ketentuan TKDN. Dalam keterangannya, perusahaan menyebut kandungan lokal produknya telah melampaui 40 persen. Klaim tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dilihat bersama dengan kemampuan produksi, kualitas, dan konsistensi produk di pasar.
Dalam pengembangan bisnisnya, perusahaan menyasar sejumlah segmen, antara lain teknologi informasi dan komunikasi, perangkat display dan kiosk digital, perangkat perkantoran, serta elektronik konsumen. SofLogic juga berencana mengembangkan pusat pengalaman produk atau experience centre di kawasan Jalan Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan, serta fungsi riset dan pengembangan di Tanah Abang.
Target Konsumen
Sementara itu, Chief Operating Officer SofLogic Indonesia, Ivan Werdoyo, mengatakan perusahaan yang mulai berdiri sekitar 2023 tersebut menyasar konsumen individu maupun korporasi.
"Dalam waktu dekat, perusahaan memprioritaskan pengembangan laptop, PC all-in-one, dan printer," ungkap Ivan.
Ivan mengatakan perusahaan tidak menargetkan penguasaan pasar secara instan karena persaingan industri teknologi telah diisi banyak pemain.
"SofLogic berharap dapat berkembang menjadi merek teknologi Indonesia yang mampu bersaing di tingkat regional dan internasional," tegasnya.
Stanley juga menegaskan, ambisi membawa produk buatan Indonesia ke pasar dunia harus disertai kesiapan menghadapi persaingan secara terbuka. Menurut dia, kepercayaan pasar tidak bisa dibangun hanya melalui narasi kebanggaan nasional, tetapi harus dibuktikan melalui kinerja produk dan kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan konsumen.
“Harapan kami, karya anak bangsa tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga bisa dikenal dan dipercaya di negara lain. Untuk mencapai itu, kita harus terus meningkatkan kualitas, memperkuat kemampuan produksi, dan membangun kepercayaan pasar. Inilah tantangan yang harus dijawab bersama,” kata Stanley.
Upaya memperkuat industri teknologi nasional pada akhirnya membutuhkan pembuktian berkelanjutan. Bagi SofLogic, tantangannya adalah menerjemahkan ambisi tersebut menjadi produk yang kompetitif, memperkuat kemampuan produksi dalam negeri, serta membangun kepercayaan konsumen di tengah dominasi merek global.