Bukan Cuma Mengajar Matematika, Guru Sekolah Rakyat Ini Punya Tugas Lain yang Tak Kalah Penting

ANP • Sunday, 18 Oct 2026 - 19:17 WIB

BEKASI – Menjadi guru di Sekolah Rakyat bukan sekadar mengajarkan materi pelajaran di dalam kelas. Para pendidik juga dituntut mendampingi siswa di luar jam belajar, membentuk karakter, serta membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari di lingkungan asrama.

Hal itu disampaikan Yumar Dwi Pralita, guru matematika di Sekolah Rakyat Negeri di Bekasi. Selain mengajar, Yumar juga menjadi bagian dari tim kesiswaan dan pembina organisasi siswa intra sekolah (OSIS).

Menurut Yumar, peran guru di Sekolah Rakyat tidak berhenti ketika bel pelajaran berakhir. Para pendidik turut terlibat dalam berbagai kegiatan siswa, termasuk membantu mempersiapkan penampilan untuk acara atau kegiatan sekolah.

“Seorang guru itu tidak hanya mengajar di kelas, tetapi sudah ditekankan bahwa guru juga harus memiliki rasa untuk membimbing anak-anak di luar jam sekolah,” ujar Yumar saat menceritakan pengalamannya mengajar di Sekolah Rakyat.

Ia menjelaskan, dirinya saat ini mengajar satu kelas, yakni kelas VII A. Sebagai guru yang masih relatif baru, ia mulai mengenali kemampuan belajar dan karakteristik para siswa yang didampinginya.

Dalam pembelajaran matematika, salah satu materi yang diajarkannya adalah bilangan bulat. Ia menilai siswa mulai menunjukkan pemahaman ketika materi disampaikan menggunakan metode konkret, seperti garis bilangan.

Meski demikian, pembelajaran tetap perlu dilakukan secara bertahap. Yumar memulai materi dari tingkat paling dasar, seperti bilangan satuan, kemudian berlanjut ke bilangan puluhan sebelum masuk ke soal yang lebih kompleks.

“Ketika saya memasuki kelas, alhamdulillah siswanya itu ketika diajari materi bilangan bulat, mereka sudah mulai paham. Ketika melakukan pembelajaran secara konkret menggunakan garis bilangan, mereka sudah bisa memahami, tetapi memang harus dibimbing dari tingkat dasar terlebih dahulu,” tuturnya.

Bagi Yumar, memahami kemampuan awal siswa menjadi bagian penting dalam proses belajar. Dengan pendekatan bertahap, siswa diharapkan dapat mengikuti materi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Di Sekolah Rakyat, pendampingan terhadap siswa juga dilakukan melalui kehidupan di asrama. Yumar mengatakan, dirinya tinggal di asrama sehingga dapat melihat secara langsung aktivitas siswa di luar kelas.

Dalam sistem pendampingan tersebut, terdapat wali asuh dan wali asrama yang turut membimbing siswa. Pendampingan mencakup pembiasaan perilaku, kedisiplinan, hingga pengaturan kegiatan harian.
Salah satu kebiasaan yang diterapkan adalah jadwal makan yang teratur. Siswa mendapatkan makan pagi, waktu kudapan atau snack time di sekolah, makan siang, serta makan malam setelah Magrib.

Menurut Yumar, pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kedisiplinan siswa. Pendidikan karakter tidak hanya diberikan melalui penjelasan di kelas, tetapi juga diterapkan dalam rutinitas sehari-hari.

Ia juga mengingat pengalaman ketika pertama kali datang ke lingkungan Sekolah Rakyat. Saat itu, ia ingin melihat bagaimana siswa menjalankan salat berjamaah.

Dalam pengamatannya, masih ada sejumlah siswa yang perlu diarahkan agar lebih tertib. Bersama tenaga pendidik lainnya, ia ikut membantu memberikan arahan agar kegiatan ibadah dapat berlangsung lebih teratur.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa mendampingi siswa membutuhkan keterlibatan langsung dan kesabaran. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu membangun kebiasaan positif melalui kegiatan sehari-hari.

Yumar menambahkan, pembekalan bagi guru baru dari Kementerian Sosial masih dilakukan melalui pertemuan daring atau Zoom. Dalam pembekalan tersebut, para guru mendapatkan gambaran mengenai sistem pendidikan Sekolah Rakyat dan tanggung jawab pendidik dalam mendampingi siswa, termasuk di luar jam pelajaran.

Terkait kesejahteraan tenaga pendidik, Yumar menilai Kementerian Sosial telah memberikan penjelasan mengenai ketentuan kerja bagi guru. Ia menyebut para guru baru telah mendapatkan sosialisasi mengenai kontrak kerja, penggajian, dan tunjangan yang diterima.

“Kami mendapatkan sosialisasi dari Bu Lina, pihak Kemensos, yang menjelaskan terkait bagaimana penggajian guru. Kami juga sudah jelas dikontrak kerja, jadi saat ini guru-guru baru sudah mulai melaksanakan tanda tangan kontrak kerja,” ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan data yang disampaikan Yumar, jumlah siswa Sekolah Rakyat di lokasi tersebut mencapai sekitar 99 siswa untuk jenjang SMP dan sekitar 170 siswa untuk jenjang SMA.

Di tengah jumlah siswa yang cukup besar, peran guru menjadi penting untuk memastikan proses pembelajaran berjalan sekaligus mendukung perkembangan karakter anak.

Pengalaman Yumar menunjukkan bahwa mengajar di Sekolah Rakyat memiliki tantangan tersendiri. Di balik pelajaran matematika dan aktivitas akademik, terdapat tanggung jawab untuk mendampingi siswa belajar disiplin, membangun kebiasaan baik, dan beradaptasi dengan kehidupan di asrama.

Dengan demikian, tugas guru Sekolah Rakyat tidak hanya mengantarkan siswa memahami pelajaran, tetapi juga mendukung mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.