Karya Fotografi Jadi Produk Ekonomi, Angkat Kisah Pemulihan Bencana Sumatra

AKM • Saturday, 10 Oct 2026 - 04:20 WIB
Kemenekraf menghadirkan karya hasil Pelatihan Fotografi dan Storytelling bertajuk Cerita Pulih: Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatra.

JAKARTA – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendorong karya fotografi tidak berhenti sebagai dokumentasi visual, tetapi berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar. Salah satu upayanya dilakukan melalui kolaborasi subsektor fotografi, penerbitan, dan industri percetakan dalam All Print Indonesia Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 7–10 Oktober 2026.

Dalam pameran tersebut, Kemenekraf menghadirkan karya hasil Pelatihan Fotografi dan Storytelling bertajuk Cerita Pulih: Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatra. Pelatihan ini berlangsung di tiga lokasi, yakni Aceh Tamiang, Tapanuli Selatan, dan Padang Pariaman.

Karya-karya tersebut merekam proses pemulihan masyarakat dan wilayah terdampak bencana melalui perspektif fotografi. Selain menjadi dokumentasi, foto-foto itu dihadirkan sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman masyarakat, membangun empati, dan menjangkau khalayak yang lebih luas.

Kemenekraf menilai, pengembangan karya melalui proses kurasi, desain, penerbitan, hingga produksi cetak dapat membuka peluang pemanfaatan karya fotografi menjadi produk kreatif dengan nilai ekonomi.

Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan penguatan hubungan antarsubsektor menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai ekonomi kreatif, mulai dari penciptaan karya hingga distribusi dan pemasaran.

“Ekonomi kreatif harus kita dorong tidak hanya pada penciptaan karya, tetapi juga pada bagaimana karya tersebut dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang ekonomi,” ujarnya dalam siaran pers Kemenekraf, Jakarta, 7 Oktober 2026.

Menurut Teuku Riefky, kolaborasi tersebut diharapkan memperluas akses pasar, meningkatkan peluang pengembangan usaha, dan memperkuat daya saing pelaku ekonomi kreatif Indonesia.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenekraf, Cecep Rukendi, menambahkan bahwa karya fotografi dapat diolah menjadi beragam media publikasi melalui kolaborasi dengan penerbit dan industri percetakan.

Salah satu format yang diperkenalkan adalah zine, publikasi kreatif yang memadukan fotografi, narasi, desain, dan teknik produksi cetak. Format ini memberi ruang bagi fotografer dan pelaku kreatif untuk mengembangkan karya dengan karakter serta identitas tersendiri.

Kemenekraf juga menjadwalkan talkshow bertema zine bersama fotografer Marrysa Tunjung Sari pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 17.00–17.45 WIB di Main Stage Hall A, JIExpo Kemayoran.

Melalui kolaborasi tersebut, Kemenekraf mendorong terbentuknya ekosistem yang menghubungkan fotografer, penerbit, desainer, industri percetakan, dan pelaku usaha kreatif.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana karya yang telah dihasilkan dapat dikembangkan menjadi produk yang berkelanjutan, memiliki pasar, dan memberikan manfaat ekonomi bagi para kreatornya. Penguatan rantai nilai dari penciptaan hingga pemasaran menjadi salah satu kunci agar potensi fotografi dan penerbitan dapat berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian kreatif nasional.