
DEPOK – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyoroti ketimpangan di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menilai peningkatan produk domestik bruto (PDB) belum sepenuhnya diikuti perbaikan kondisi ekonomi seluruh lapisan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Brian dalam Indonesia Future Leaders Summit (FLS) 2026 di Depok, Kamis (8/10). Dalam kegiatan yang diikuti para pengurus organisasi mahasiswa itu, ia mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan analisis, kepemimpinan, dan pemikiran berbasis data untuk merespons persoalan nasional.
Brian memaparkan, PDB Indonesia meningkat dari sekitar 1,02 triliun dolar AS pada 2017 menjadi 1,48 triliun dolar AS pada 2024. Namun, berdasarkan data Bank Dunia yang dipaparkannya, jumlah penduduk miskin dan rentan miskin pada periode yang sama naik dari 46,1 juta menjadi 49,5 juta orang.
Sementara itu, jumlah penduduk kelas menengah disebut turun dari 22,1 juta menjadi 17,4 juta orang. Brian juga menyoroti peningkatan kekayaan kelompok terkaya, termasuk kenaikan kekayaan 10 orang terkaya yang disebut mencapai 153 persen.
Menurut Brian, data tersebut perlu menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas.
“Pertumbuhan ekonomi kita bagus, tapi kemudian angka kemiskinan naik dan penduduk kelas menengah menurun,” kata Brian.
Ia menekankan pentingnya penggunaan data dalam menyusun argumentasi dan merumuskan solusi. Mahasiswa, menurutnya, perlu mampu mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan penanganan serta menentukan kontribusi yang dapat diberikan sesuai bidang masing-masing.
Brian juga meminta generasi muda tidak memandang tantangan pembangunan sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Ia menilai perubahan ekonomi membutuhkan proses panjang, ketekunan, dan keterlibatan berbagai pihak.
Dalam diskusi bersama peserta, Brian turut menyoroti peran perguruan tinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu upaya yang dinilai penting ialah memperkuat keterkaitan antara riset kampus, kebutuhan industri, dan persoalan masyarakat.
Ia menyebut sekitar 80 persen dari 50 klaster pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia berada di sekitar perguruan tinggi. Data tersebut, menurutnya, menunjukkan potensi kampus dalam membangun pusat pertumbuhan melalui riset dan inovasi.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan industri agar hasil penelitian dapat dikembangkan serta dimanfaatkan. Pengembangan pusat keunggulan atau center of excellence di berbagai daerah juga diarahkan untuk mendukung hubungan antara riset, inovasi, dan kebutuhan pembangunan.
FLS 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Future Leaders Camp (FLC), program pembelajaran kepemimpinan bagi mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Beny Bandanadjaja, mengatakan FLS menjadi kelanjutan dari proses pembelajaran yang telah diikuti mahasiswa melalui FLC.
Menurut Beny, kegiatan tersebut mencakup pembekalan, diskusi, kerja kelompok, serta pertukaran gagasan antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan wilayah.
Pada 2025, FLC diselenggarakan di lima wilayah dengan melibatkan 295 mahasiswa. Adapun FLS 2026 diarahkan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, memperluas jejaring, dan mempresentasikan hasil pembelajaran peserta.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengembangkan kemampuan berorganisasi, tetapi juga mampu menghubungkan gagasan dengan persoalan nyata di masyarakat.