Wamen Viva Yoga: Transmigrasi Berperan dalam Pengentasan Kemiskinan dan Penguatan Pangan

AKM • Thursday, 1 Oct 2026 - 16:46 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi

SURABAYA — Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyebut program transmigrasi tidak hanya berkaitan dengan perpindahan penduduk, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Hal itu disampaikan Viva Yoga saat menjadi narasumber Kuliah Tamu Program Doktor Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur di Surabaya, Rabu (30/9/2026). Kuliah tersebut mengangkat tema “Transformasi Kawasan Transmigrasi sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi dan Lumbung Pangan Nasional.”

Menurut Viva Yoga, menjadi transmigran membutuhkan keberanian karena peserta harus meninggalkan daerah asal dan membangun kehidupan di wilayah baru. Negara, kata dia, memberikan dukungan berupa lahan sekitar dua hektare untuk permukiman, pekarangan, dan lahan usaha, serta jaminan hidup selama 1 hingga 1,5 tahun dengan besaran yang menyesuaikan lokasi penempatan.

“Menjadi transmigran adalah perjuangan hidup. Butuh keberanian untuk mengikuti program transmigrasi,” ujar Viva Yoga.

Ia mengakui pelaksanaan program tidak selalu berjalan mulus. Sebagian transmigran berhasil mengembangkan usaha, sementara sebagian lainnya memilih kembali ke daerah asal. Salah satu contoh keberhasilan, menurut Viva Yoga, terlihat di kawasan transmigrasi Bungo, Jambi, melalui pengembangan perkebunan sawit.

Berkontribusi 

Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kawasan transmigrasi juga dinilai berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Viva Yoga mencontohkan Banyuasin, Sumatera Selatan, yang pada 2025 mencatat produksi gabah kering sekitar 1,2 juta ton dari lahan seluas 189.000 hektare. Sekitar 70 persen lahan tersebut berada di kawasan transmigrasi.

Ia juga menyebut kawasan Muara Telang memiliki areal persawahan sekitar 22.000 hingga 26.000 hektare dengan potensi panen dua hingga tiga kali dalam setahun dan produktivitas sekitar 7–8 ton per hektare.

Menurut Viva Yoga, program transmigrasi yang telah berjalan sejak 1950 turut mendorong terbentuknya berbagai wilayah administratif dan pusat ekonomi. Ia mencatat program tersebut berkontribusi terhadap terbentuknya 1.567 desa definitif, 466 kecamatan, 116 kabupaten/kota, dan tiga provinsi.

Dalam pengembangan kawasan transmigrasi, Kementerian Transmigrasi juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi, termasuk UPN Veteran Jawa Timur. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menghadirkan riset, inovasi, dan teknologi tepat guna dalam mengembangkan potensi lahan dan masyarakat transmigrasi.

"Saya berharap kerja sama antara Kementerian Transmigrasi dan UPN dapat kembali diperkuat pada masa mendatang," tamdasnya.