
JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melakukan monitoring dan evaluasi (monev) Program Beasiswa BAZNAS konsentrasi filantropi Islam guna memastikan program pendidikan memberikan dampak dan manfaat yang optimal, termasuk dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola zakat.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) Program Beasiswa BAZNAS konsentrasi filantropi Islam jenjang pendidikan S1 dan S2 yang digelar di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Pada program beasiswa ini, BAZNAS RI bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hingga kini, sebanyak 112 penerima beasiswa yang tersebar di 19 provinsi telah mengikuti program tersebut.
Wakil Ketua BAZNAS RI Dr. H. Zainut Tauhid Sa'adi, M.Si., menyampaikan program tersebut merupakan ikhtiar BAZNAS untuk meningkatkan kualitas pendidikan amil, utamanya yang bergerak di bidang filantropi, guna memperkuat dampak pengelolaan zakat yang lebih baik dengan menghadirkan inovasi-inovasi terbaiknya.
"Jadi untuk ke depan, memang kami (BAZNAS) berharap melalui program beasiswa pendidikan S2 dan S3 ini, zakat itu bisa berkembang dengan baik, yang dikelola oleh tangan-tangan yang terampil, yang profesional. Ini bagian dari investasi jangka panjang," ujar Zainut.
Zainut menyampaikan, penguatan kapasitas amil melalui sertifikasi kompetensi, standardisasi tata kelola, dan pendidikan formal seperti program ini merupakan salah satu bentuk peningkatan kapasitas. Amil yang amanah harus juga amil yang berilmu. Sebab, kepercayaan muzaki dibangun melalui profesionalisme.
"Ketika amanah itu kita kembalikan kepada umat dalam bentuk ilmu dan manusia, sesungguhnya kita sedang menanam untuk jangka panjang. Amil BAZNAS dan LAZ yang saat ini sebagai penerima manfaat beasiswa ke depan adalah wajah pengelolaan zakat nasional sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan," ujar Zainut.
Sementara itu, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Prof. Dr. Zulkifli, M.A., mengapresiasi Program Beasiswa BAZNAS konsentrasi filantropi Islam. Ia berharap agar program pendidikan tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi peningkatan kapasitas para amil.
Zulkifli menjelaskan, mahasiswa penerima beasiswa menjalani sejumlah tahapan akademik selama menempuh pendidikan. Tahapan itu antara lain publikasi karya ilmiah pada jurnal terindeks Sinta maupun Scopus serta kolokium atau konferensi internasional.
"Tahapan tersebut menjadi bentuk uji publik untuk mengukur kemampuan dan kompetensi peserta, dengan penilaian yang dilakukan oleh reviewer dan pengelola jurnal maupun forum akademik terkait. Alhamdulillah, sejauh ini, menurut pemantauan kami, secara umum berjalan baik dan berjalan lancar," ujarnya.
Salah satu penerima manfaat Program Beasiswa BAZNAS konsentrasi filantropi Islam, Arif Budiman, yang merupakan amil BAZNAS, menyampaikan kebahagiaannya karena mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan S2.
“Alhamdulillah, saya merasa sekolah pascasarjana ini adalah sarana belajar yang baik, dan bagi saya ini merupakan privilege yang diberikan kepada saya untuk belajar. Ini merupakan lingkungan yang sangat tepat untuk belajar. Dengan segala fasilitas belajar yang sangat memadai dan juga lingkungannya, dosen-dosennya juga sangat support,” ujar Arif.
Ia berharap, program beasiswa BAZNAS ini bisa terus berlanjut dan dikembangkan sehingga akan semakin banyak para amil yang berkesempatan melanjutkan pendidikan, sekaligus mencetak lebih banyak amil yang berkualitas.
"Mudah-mudahan kesempatan belajar ini juga bisa terus-menerus menjadi kesempatan dan momen belajar amil, sehingga tidak hanya mahir di dalam dunia praktis atau sebagai praktisi, tetapi juga bisa melihat dunia pendidikan ini lebih dalam dan juga lebih menyeluruh lagi dan memunculkan inovasi-inovasi yang membantu lembaga filantropi di Indonesia maju dan lebih dipercaya umat," ujarnya.