Dari Sampah Jadi Solar hingga Anggur: Senyum Sendangharjo di Bawah Naungan PEPC

MUS • Wednesday, 23 Sep 2026 - 19:46 WIB
Foto: Istimewa

Bojonegoro - Di tengah keriuhan operasional Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro, Jawa Timur, ada narasi tentang harmoni yang tumbuh pelan tapi pasti. Pertamina EP Cepu (PEPC) memilih untuk tidak "asyik sendiri" memburu target produksi gas. Di balik instalasi pipa dan cerobongnya, PEPC turut memeluk warga sekitar, merawat masa depan sosial dan ekonomi masyarakat Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Semuanya bermula dari kepedulian sederhana pada lingkungan yang perlahan bertransformasi menjadi gerakan ekonomi sirkular yang solid.

Pendampingan yang diinisiasi PEPC sejak 2017 menjadi titik balik bagi Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH) Desa Sendangharjo. Awalnya, mereka hanya sekumpulan warga yang resah dan bermimpi ingin membebaskan desanya dari jeratan sampah. Namun, konsistensi dan sentuhan pemberdayaan mengubah mimpi itu menjadi kenyataan bernilai guna tinggi.

Ketua BSMKH Desa Sendangharjo, Ujang Surya Abdillah, mengenang bagaimana proses pengolahan sampah di desanya kini sudah melangkah sangat jauh.

"Kami didampingi Pertamina sejak 2017 sampai sekarang. Sampah organik kami urai dengan maggot. Untuk sampah anorganik yang masih layak kami jual, yang tidak layak kami olah menjadi BBM alternatif setara solar, kami sebutnya Pertasol untuk operasional bank sampah," kata Ujang kepada tim media yang berkunjung ke BSMKH Desa Sendangharjo, Selasa (22/9). 

Perubahan besar ini tak lepas dari sokongan infrastruktur. Dukungan PEPC mengalir nyata, mulai dari penyediaan armada transportasi, pembangunan gudang, hingga serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas.

"Dukungan Pertamina sangat membantu masyarakat desa, saat ini sudah 450-an KK yang menjadi anggota bank sampah," tambah Ujang.

Buah Manis Kasgot dan Sensasi Wisata Petik Anggur

Inovasi warga Sendangharjo tak berhenti di urusan Pertasol atau maggot. Hasil pengolahan sampah organik berupa kasgot (bekas maggot) mereka manfaatkan sebagai media tanam yang kaya nutrisi. Sejak November 2025, BSMKH memberanikan diri membudidayakan tanaman anggur di tanah Bojonegoro. Siapa sangka, bekas limbah tersebut justru menghasilkan deretan anggur manis berkualitas unggul.

"Jenis anggurnya dari Amerika, Italia, Australia, Rusia. Setahun bisa tiga kali panen. Kita baru panen perdana mendapatkan 120 kilogram dengan harga 110 ribu rupiah per kilo," tutur Ujang penuh syukur.

BACA JUGA: Menyokong Pulau Jawa: Lapangan JTB Jadi Tulang Punggung Ketahanan Energi Nasional

Kini, kebun anggur di Desa Sendangharjo menjelma menjadi destinasi wisata edukatif lewat konsep Wisata Petik Anggur. Uniknya, tiket masuk tidak dijual dengan uang tunai, tapi cukup menukarkan lima botol plastik bekas. Sebuah inovasi berkelanjutan yang tak hanya manis di lidah, tapi juga mendidik warga untuk mencintai lingkungan.

Solusi Terintegrasi: Sampah Lunasi Pajak Bumi dan Bangunan

Di balik sistem operasional BSMKH yang rapi, ada pemikiran terintegrasi dari sang pendiri, Imam Mukhlas. Ia menyadarkan warga bahwa pengelolaan sampah jika disandingkan dengan kewajiban warga negara bisa menjadi solusi finansial yang meringankan.

BSMKH menggulirkan program sosialisasi pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga hingga mencetuskan program unik: Nabung Sampah untuk Bayar Pajak. 

"Kami sosialisasikan ke rumah tangga untuk mulai memilah sampah. Sampah rongsok di sekitar rumah kami manage dan sandingkan dengan Pajak Bumi dan Bangunan di pedesaan," jelas Imam Mukhlas.

"PBB itu kan dibayar setahun sekali dan nilainya relatif rendah, nah kami kombinasikan kedua itu. Tabungan sampah dua bulan sekali, dikali 12 bulan berarti ada enam kali penimbangan. Akumulasi dari tabungan sampah itu kami sandingkan dengan jumlah pajak yang harus dibayar warga. Ternyata hasilnya menyenangkan, dari tabungan sampah mereka, mencukupi untuk bayar PBB selama setahun," tuturnya. 

Bagi PEPC Zona 12, BSMKH bukan sekadar objek penerima bantuan CSR, melainkan mitra sejajar. Head of Communications Relations & CID PEPC Zona 12, Weanny Hikmat, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi media krusial dalam menjaga keterikatan dengan para pemangku kepentingan. 

Di samping memberdayakan para petani dan warga, interaksi rutin ini dimanfaatkan PEPC untuk memberikan pemahaman transparan mengenai dinamika operasional hulu migas.

"Selama berinteraksi dengan para petani, kami juga sekaligus memberikan pemahaman mengenai aktivitas hulu migas, seperti flaring, keselamatan, itu kita sampaikan secara kontinyu ke bapak-bapak ini. Kita sounding misalnya kalau nanti di lapangan dengar suara gemuruh atau api lebih besar, nah bapak-bapak ini juga jadi perpanjangan kami untuk menyampaikan itu ke masyarakat," papar Weanny.

Integrasi antara pemberdayaan ekonomi, kepedulian lingkungan, dan komunikasi dua arah inilah yang menjadi kunci keberhasilan hubungan harmonis antara industri migas dan warga lokal.

"Jadi sebenarnya ini poin penting yang harus digarisbawahi bahwa program-program yang kami lakukan itu tidak hanya untuk peningkatan dan pengembangan masyarakatnya, tapi juga sebagai bentuk pengelolaan hubungan dengan stakeholders," tutup Weanny.