
Bojonegoro — Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang dioperasikan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) di Bojonegoro, Jawa Timur, membuktikan peran strategisnya sebagai salah satu pemasok utama kebutuhan gas nasional. Saat ini, produksi gas Lapangan JTB telah mencapai 192 juta standar kaki kubik per hari atau Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).
Angka itu menegaskan optimalnya performa operasional fasilitas yang dibangun. Field Manager Lapangan Gas JTB, Sujianto, menjelaskan capaian ini merupakan bentuk keandalan infrastruktur yang ada. Lapangan JTB disokong oleh dua wellpad dengan total enam sumur—empat sumur berlokasi di Jambaran Central dan dua sumur lainnya di Jambaran East.
Masing-masing sumur memiliki kapasitas mengesankan, sekitar 60–70 MMSCFD, sehingga mampu menghasilkan pasokan gas dalam jumlah besar secara stabil. "Jambaran-Tiung Biru menjadi salah satu penghasil gas terbesar di Jawa Timur, yaitu 192 (Mmscfd). Ini sesuai dengan desain," ujar Sujianto, saat menerima Media Field Trip SKK Migas - KKKS di lapangan Jambaran-Tiung Biru, Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (21/9/2026).
Untuk memastikan kualitas energi terbaik sampai ke tangan konsumen, gas yang dihasilkan tidak langsung disalurkan begitu saja. Seluruh hasil produksi terlebih dahulu diproses secara cermat di Gas Processing Facility (GPF) melalui sejumlah tahapan pengolahan hingga memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.
BACA JUGA: PetroChina Bantu Padamkan Karhutla di Jambi
Setelah dari GPF, gas dialirkan menuju fasilitas pengukuran sebelum terhubung ke jaringan pipa transportasi gas. Infrastruktur terintegrasi ini memungkinkan jangkauan distribusi JTB yang sangat luas—mulai dari Jawa Timur, tersambung ke Jawa Tengah, dan kini siap menopang wilayah Jawa Barat.
"Untuk memenuhi kebutuhan di Jawa Timur, sebagian untuk Jawa Tengah dan kini telah terhubung jaringan ke Cirebon, maka ini bisa digunakan untuk kebutuhan di Jawa Barat," terang Sujianto.
Menopang Industri dan Kebutuhan Masyarakat
Pemanfaatan gas dari JTB telah tersalurkan secara optimal melalui berbagai komitmen dan alokasi kontrak strategis. Kehadirannya menjadi penggerak roda ekonomi, mulai dari sektor industri skala besar hingga pemenuhan energi primer masyarakat.
"Kita sudah punya kontrak yang 172 MM (juta kaki kubik per hari) itu di PGN, kemudian Jargas untuk kepentingan masyarakat ada 0,2 MM, untuk bahan bakar gas 1,3 MM, untuk ke Petro Kimia Gresik MM," tambah Sujianto.
Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020, Lapangan JTB tidak hanya menjadi kebanggaan Jawa Timur, tapi juga menjelma sebagai tulang punggung ketahanan energi di Pulau Jawa.