Wärtsilä: Fleksibilitas Listrik Jadi Kunci Hadapi Ledakan EBT dan Pusat Data AI

ANP • Wednesday, 23 Sep 2026 - 15:57 WIB

JAKARTA — Indonesia tengah memasuki fase baru transisi energi. Ekspansi energi terbarukan, industrialisasi, elektrifikasi, dan pesatnya pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong kebutuhan listrik melonjak. Di tengah perubahan itu, fleksibilitas jaringan dinilai menjadi kunci untuk menjaga keandalan pasokan sekaligus menekan emisi.

Kelompok teknologi global Wärtsilä menyoroti kebutuhan tersebut seiring target dalam RUPTL 2025–2034 untuk menambah kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034, terdiri atas 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW kapasitas gas baru.

Meningkatnya porsi pembangkit surya dan angin membuat sistem kelistrikan membutuhkan sumber daya yang mampu merespons cepat perubahan pasokan. Kebutuhan ini semakin penting karena permintaan listrik dari industri dan infrastruktur digital terus tumbuh.

“Ketahanan energi pada akhirnya berarti memiliki sistem tenaga listrik yang mampu beradaptasi,” ujar Ossi Ylinen, Managing Director PT Wärtsilä Indonesia.

Menurut Wärtsilä, ambisi Indonesia mengembangkan 100 GW tenaga surya akan meningkatkan kebutuhan terhadap kapasitas pembangkit yang fleksibel. Pembangkit berbasis mesin dengan kemampuan start-up cepat dapat membantu menjaga pasokan ketika produksi energi surya berfluktuasi atau berhenti setelah matahari terbenam.

Mesin Wärtsilä dapat menyala dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit, sementara output-nya dapat disesuaikan dengan cepat mengikuti kebutuhan jaringan.

“Pembangkit listrik berbasis mesin Wärtsilä dirancang untuk melengkapi pembangkit energi terbarukan yang bersifat variabel,” kata Frederic Carron, Vice President, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy.

*Lombok Jadi Contoh Fleksibilitas*

Kebutuhan fleksibilitas juga terlihat dari kondisi geografis Indonesia yang memiliki sistem kelistrikan sangat beragam, mulai dari jaringan interkoneksi besar hingga pulau-pulau dengan sistem terisolasi.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pembangkit listrik berkapasitas 135 MW dengan 13 mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF memasok hampir 40% kebutuhan listrik pulau tersebut. Sebagian kapasitasnya digunakan untuk menyeimbangkan jaringan dan membantu sistem mengintegrasikan 20 MW PLTS.

“Perencanaan sistem tenaga yang lebih fleksibel sejak saat ini dapat membantu Indonesia menghindari tantangan keandalan dan stabilitas ketika penetrasi energi terbarukan semakin tinggi,” ujar Febron Siregar, Energy Solutions Director PT Wärtsilä Indonesia.

Wärtsilä menilai dekarbonisasi tidak cukup dilakukan dengan mengganti satu sumber pembangkit dengan sumber lainnya. Energi terbarukan, penyimpanan energi, transmisi, dan pembangkit yang dapat dioperasikan sesuai kebutuhan harus bekerja sebagai satu sistem.

Banyak orang bertanya, apakah keandalan, keterjangkauan, dan keberlanjutan dapat dicapai dalam sistem kelistrikan off-grid?

"Jawabannya, bisa. Namun, solusinya bukan sekadar menambahkan tenaga surya dan baterai pada pembangkit berbasis mesin. Untuk mencapai ketiganya, dibutuhkan sistem manajemen energi yang canggih, seperti yang kami miliki, yang mampu mengintegrasikan seluruh aset pembangkitan dan mengoptimalkan sistem kelistrikan sebagai satu kesatuan,” ujar Christoffer Ek, Director, Decarbonisation Services.

Wärtsilä juga menyediakan layanan siklus hidup (lifecycle services) untuk membantu utilitas, produsen listrik independen, dan pelanggan industri mengoptimalkan aset yang ada sekaligus mengembangkan jalur menuju emisi yang lebih rendah. Layanan tersebut mencakup perjanjian layanan jangka panjang pembangkit listrik, peningkatan siklus hidup aset, layanan dekarbonisasi, penyediaan suku cadang, dan layanan lapangan. 

*Ledakan AI Dorong Kebutuhan Listrik Onsite*

Selain transisi energi, AI dan pusat data kini menjadi sumber permintaan listrik baru yang semakin besar. Pusat data membutuhkan daya dalam jumlah besar dan terkonsentrasi, sementara keterbatasan jaringan dan lamanya proses koneksi listrik dapat menghambat jadwal operasi proyek.

Kondisi tersebut mendorong minat terhadap onsite generation, yakni pembangkitan listrik langsung di lokasi pusat data.

Wärtsilä melihat peluang solusi ini di Asia, termasuk Indonesia. Pembangkit listrik modular berbasis mesin gas yang fleksibel dapat menyediakan pasokan utama ketika kapasitas jaringan belum mencukupi. Kapasitasnya pun dapat ditambah bertahap mengikuti pertumbuhan pusat data.

Ketika koneksi jaringan sudah tersedia, aset tersebut tidak harus menjadi sia-sia. Pembangkit dapat dialihkan menjadi kapasitas penyeimbang atau pembangkit beban puncak (peaking plant) untuk membantu mengelola perubahan pasokan dan permintaan listrik serta mendukung integrasi energi terbarukan.

“Bagi pusat data, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik itu sendiri,” ujar Patrik Farkas, General Manager, Market Development, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy.

Secara global, Wärtsilä telah menjual proyek terkait pusat data dengan total kapasitas lebih dari 2,4 GW di Amerika Serikat dan Eropa. Perusahaan mengidentifikasi Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Australia sebagai pasar yang menawarkan peluang jangka menengah hingga panjang.

“Transisi energi dan pertumbuhan digital Indonesia sedang berlangsung secara bersamaan. Peluangnya terletak pada pengembangan infrastruktur yang mampu mendukung keduanya,” kata Patrik.

*Dibahas di Enlit Asia 2026*

Isu fleksibilitas dan ketahanan sistem tenaga tersebut menjadi bagian dari tema Enlit Asia 2026 x MKI Electricity Connect, “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience”, yang digelar 22–24 September 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Jakarta Raya.

Ajang tersebut mempertemukan lebih dari 11.000 profesional dan lebih dari 280 peserta pameran internasional untuk membahas ketahanan energi, percepatan dekarbonisasi, serta sumber-sumber baru permintaan listrik di Asia Tenggara.

Wärtsilä akan menampilkan teknologi sistem tenaga, solusi penyeimbang jaringan, dan layanan siklus hidup yang ditujukan untuk membantu Indonesia mengintegrasikan lebih banyak energi terbarukan, memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik, dan membangun sistem tenaga yang adaptif menghadapi masa depan.