BAZNAS Microfinance Desa Sukses Kembangkan Usaha Tempe Mustahik Binaan di Jateng

ANP • Tuesday, 22 Sep 2026 - 21:53 WIB

DEMAK - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melalui Program BAZNAS Microfinance Desa (BMD) berhasil mengembangkan usaha tempe milik Nadriyatul, mustahik binaan di Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng), hingga mampu meraup omzet Rp550 ribu per hari.

Pimpinan Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan BAZNAS RI H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si. menyampaikan apresiasi atas perkembangan usaha yang dijalankan mustahik binaan di Jateng tersebut. Menurutnya, perkembangan usaha itu menunjukkan program pemberdayaan ekonomi BAZNAS memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi mustahik.

"Alhamdulillah, inilah tujuan Program BAZNAS Microfinance, yakni mendorong kemandirian mustahik dengan menyalurkan bantuan modal usaha tanpa bunga untuk mengembangkan usaha mustahik. Program BMD ini juga menghadirkan pelatihan dan pendampingan mustahik sehingga usaha yang dikelola mustahik bisa terus berkelanjutan," kata Idy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Lebih lanjut, Idy menyampaikan, pemanfaatan zakat akan terus BAZNAS optimalkan melalui berbagai program strategis. Saat ini, BAZNAS mengubah proporsi distribusi dan pemberdayaan yang sebelumnya 70 persen berbanding 30 persen menjadi 50 persen berbanding 50 persen agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan.

"BAZNAS akan terus mengoptimalkan pemanfaatan ZIS untuk kesejahteraan umat, termasuk pada program pemberdayaan ekonomi, yakni BMD di seluruh daerah Indonesia, sehingga akan menjangkau lebih luas lagi mustahik yang perlu dibantu," ujarnya.

Sementara itu, Nadriyatul menyampaikan rasa syukurnya karena mendapat bantuan melalui Program BMD. Ia mengatakan banyak perkembangan yang dirasakan setelah mendapat bantuan BAZNAS, termasuk dalam pengembangan usaha tempe yang kini mampu memproduksi sekitar 25 kilogram kedelai setiap hari. 

Nadriyatul mengatakan, terus menjaga kualitas produk dengan memastikan sekitar 90 persen kulit kedelai terlepas dalam proses produksi. Menurutnya, proses tersebut membuat tempe memiliki kualitas yang lebih baik dan dapat bertahan lebih lama tanpa menggunakan bahan pengawet.

"Alhamdulillah, omzet sekitar Rp550 ribu per hari. Untuk penjualannya, saya mengandalkan pelanggan tetap di Desa Rejosari dan juga dititipkan di sejumlah warung di sekitar desa untuk memperluas pemasaran. Terima kasih BAZNAS dan para muzaki yang telah membantu mengembangkan usaha saya lewat zakatnya," ujarnya.