
JAKARTA — Pemulihan layanan pendidikan pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menunjukkan perkembangan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat 2.447 satuan pendidikan di wilayah terdampak telah kembali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, meski sebagian masih menggunakan fasilitas darurat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 487 satuan pendidikan telah kembali melakukan pembelajaran secara normal di ruang kelas. Sementara 1.960 satuan pendidikan lainnya masih menggunakan berbagai moda darurat, seperti tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas sementara.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah terus mempercepat pemulihan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan secara optimal di wilayah terdampak bencana.
“Kabar baik tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh pihak yang bergotong royong membantu agar layanan pendidikan di NTT dapat bangkit dan pulih seperti sediakala,” kata Abdul Mu’ti, Senin (14/9/2026).
Dalam proses pemulihan, Kemendikdasmen mulai menyalurkan bantuan revitalisasi tahap pertama kepada 187 satuan pendidikan dengan total anggaran Rp50 miliar. Bantuan tersebut mencakup 140 satuan PAUD, lima SLB, dua PKBM, satu SKB, dan 39 SMK.
Untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, proses verifikasi dan validasi kerusakan telah dilakukan. Pemerintah masih menghitung kebutuhan bantuan untuk satuan pendidikan pada jenjang tersebut.
Selain revitalisasi bangunan, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan untuk pembangunan 672 Ruang Kelas Sementara (RKS) dengan anggaran sekitar Rp3,5 miliar. Fasilitas tersebut terdiri atas 194 RKS PAUD, 12 RKS SLB, 372 RKS SMK, 65 RKS SMP, dan 29 RKS SMA.
Pemulihan juga dilakukan melalui dukungan psikososial bagi warga sekolah. Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Saryadi mengatakan pendampingan telah diberikan kepada 75 sekolah melalui kerja sama dengan sejumlah mitra.
Kemendikdasmen juga menyiapkan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah. Para fasilitator tersebut nantinya akan mendukung pendampingan terhadap sekitar 51 ribu pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak.
“Langkah ini dilakukan untuk kembali membangun mental dan semangat para warga sekolah agar proses pembelajaran kembali pada situasi normal,” ujar Saryadi.
Untuk menunjang kegiatan belajar selama masa darurat, pemerintah juga telah mendistribusikan tenda kelas dengan nilai sekitar Rp5,5 miliar ke tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Sikka, Ngada, dan Ende.
Selain fasilitas pembelajaran, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan awal senilai Rp6 miliar yang terdiri dari 10 ribu paket makanan anak, 1.000 paket sembako, 5.500 school kit, 1.500 family kit, serta 10 ribu buku bacaan.
Pemerintah juga memberikan santunan kepada keluarga warga sekolah yang meninggal atau mengalami luka akibat gempa. Total santunan yang disalurkan mencapai Rp330 juta, dengan besaran berbeda berdasarkan kondisi penerima.
Saryadi mengatakan pemulihan pendidikan membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat. Ia mengajak seluruh pihak memastikan anak-anak di wilayah terdampak tetap memperoleh hak pendidikan meskipun proses pembelajaran masih berlangsung dalam kondisi darurat.
“Melalui gotong royong, kami memastikan hak pendidikan anak-anak NTT tetap terpenuhi, sekalipun dalam kondisi darurat,” tandasnya.