
JAKARTA — Sweden–Indonesia Sustainability Partnership (SISP) Business Forum 2026 mengalami penyesuaian setelah Putri Mahkota Swedia, Crown Princess Victoria, dan Wakil Menteri Kerja Sama Pembangunan Internasional dan Perdagangan Luar Negeri Swedia, Diana Janse, tidak dapat melakukan perjalanan ke Jakarta sesuai rencana.
Kedutaan Besar Swedia di Jakarta bersama Business Sweden menyampaikan perubahan tersebut pada Senin (7/9/2026). Gangguan perjalanan udara yang masih berlangsung setelah letusan gunung berapi dan dampak sebaran abu vulkanik menjadi alasan utama perubahan agenda tersebut.
Meski kehadiran pejabat tinggi Swedia di Jakarta dibatalkan, sejumlah sesi khusus sektor dalam rangkaian SISP tetap dilaksanakan. Sesi-sesi tersebut mempertemukan pelaku usaha, institusi, serta pemangku kepentingan dari Swedia dan Indonesia untuk melanjutkan dialog, berbagi pengetahuan dan pengalaman, memperluas jejaring, serta menjajaki peluang kerja sama.
“Situasi ini memang disayangkan, namun tidak mengubah kemitraan yang kuat dan terus berkembang antara Swedia dan Indonesia,” demikian keterangan Kedutaan Besar Swedia dan Business Sweden.
Kerja sama melalui SISP akan tetap dilanjutkan, terutama dalam bidang ekonomi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan. Kedua negara juga tetap mendorong kolaborasi pada sektor-sektor strategis, termasuk teknologi, kesehatan, dan transformasi digital.
*Tetap Dorong Perdagangan dan Investasi*
SISP menjadi salah satu platform yang digunakan Swedia dan Indonesia untuk memperkuat hubungan ekonomi sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan dan inovasi.
Business Sweden bersama Kedutaan Besar Swedia di Indonesia telah mengembangkan SISP sebagai wadah kolaborasi antara pemangku kepentingan kedua negara. Fokusnya mencakup perdagangan, investasi, serta pertukaran pengetahuan di bidang-bidang yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Rangkaian SISP tahun ini sebelumnya menjadi bagian penting dari kunjungan delegasi bisnis Swedia ke Indonesia pada 7–10 September 2026. Business Sweden membawa lebih dari 50 perusahaan dan organisasi Team Sweden dengan jumlah peserta lebih dari 100 delegasi.
Delegasi tersebut dirancang untuk memperdalam kerja sama di sejumlah sektor, antara lain digitalisasi, energi, pertambangan, kesehatan, kehutanan, dan transportasi.
Sebelum agenda mengalami perubahan, SISP Conference 2026 juga direncanakan menjadi momentum peluncuran platform baru di bidang kehutanan yang bertanggung jawab serta penandatanganan sejumlah kesepakatan kerja sama antara pemangku kepentingan Swedia dan Indonesia.
*SISP dan Hubungan Ekonomi Swedia-Indonesia*
Hubungan ekonomi Swedia dan Indonesia telah berkembang dalam berbagai sektor. Menurut Business Sweden, sekitar 80 perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Swedia saat ini beroperasi di Indonesia, antara lain di bidang manufaktur, telekomunikasi, transportasi, energi, kesehatan, dan pertambangan.
Kehadiran delegasi bisnis Swedia dalam jumlah besar tahun ini juga menunjukkan meningkatnya perhatian perusahaan Swedia terhadap peluang pasar Indonesia. Business Sweden menyebut kunjungan tersebut sebagai delegasi bisnis Swedia terbesar yang pernah dibawa ke Indonesia.
Kunjungan itu berlangsung dalam momentum yang dinilai strategis bagi hubungan perdagangan kedua negara, menyusul selesainya negosiasi perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan Indonesia. Business Sweden melihat perkembangan tersebut sebagai peluang untuk menerjemahkan hubungan perdagangan yang semakin erat ke dalam kerja sama bisnis dan investasi yang konkret.
CEO Business Sweden Jan Larsson sebelumnya menyatakan bahwa besarnya delegasi bisnis tersebut mencerminkan minat perusahaan Swedia terhadap potensi pasar Indonesia.
Sementara itu, Trade Commissioner of Sweden to Indonesia Erik Odar menilai perusahaan Swedia dapat menawarkan solusi yang menggabungkan inovasi, keberlanjutan, dan daya saing pada sektor-sektor yang penting bagi pembangunan Indonesia.
*Komitmen Kerja Sama Tetap Berlanjut*
Penyesuaian agenda SISP Business Forum tidak menghentikan kerja sama bilateral kedua negara. Forum-forum sektoral yang tetap berjalan diharapkan menjadi ruang untuk mempertahankan momentum kerja sama dan membuka peluang baru di bidang perdagangan, investasi, teknologi, serta inovasi.
Kedutaan Besar Swedia dan Business Sweden juga menyampaikan apresiasi kepada peserta dan mitra atas pengertian serta fleksibilitas mereka dalam menghadapi gangguan perjalanan tersebut.
Dengan tetap berlangsungnya sejumlah agenda sektoral, SISP 2026 diharapkan tetap menjadi salah satu wadah penting untuk memperkuat hubungan Swedia-Indonesia dan mendorong kolaborasi yang berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan.
Background
Sweden–Indonesia Sustainability Partnership (SISP) merupakan platform kerja sama yang dikembangkan oleh Business Sweden bersama Kedutaan Besar Swedia di Indonesia. Platform ini mempertemukan pemangku kepentingan dari kedua negara untuk mendorong perdagangan, investasi, pertukaran pengetahuan, serta solusi inovatif bagi pembangunan berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama SISP mencakup berbagai sektor, termasuk energi, pertambangan, kesehatan, kehutanan, digitalisasi, dan teknologi. Pada 2026, agenda SISP menjadi bagian dari rangkaian kunjungan delegasi bisnis Swedia terbesar ke Indonesia dengan lebih dari 50 perusahaan dan organisasi Team Sweden serta lebih dari 100 peserta.
Kehadiran Crown Princess Victoria semula dijadwalkan bersamaan dengan kunjungan tersebut. Kunjungan Putri Mahkota Victoria sendiri berlangsung dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador United Nations Development Programme (UNDP), dengan agenda yang juga menyoroti pembangunan berkelanjutan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam Agenda 2030.
Dengan tetap berlangsungnya sesi-sesi sektoral, penyelenggara menegaskan bahwa perubahan agenda akibat gangguan perjalanan tidak mengurangi komitmen Swedia dan Indonesia untuk memperkuat hubungan ekonomi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.