Dari Manggarai ke Musik Multibahasa: Ketika Identitas Lokal Menemukan Wajah Baru

ANP • Thursday, 3 Sep 2026 - 10:23 WIB

 

JAKARTA — Musik Indonesia belakangan semakin menunjukkan keberanian membawa identitas lokal ke ruang populer. Fenomena hipdut, menguatnya musik Indonesia Timur, hingga musisi generasi baru yang memadukan bahasa dan simbol lokal dengan kemasan global menunjukkan bahwa menjadi modern tidak harus berarti menjadi seragam.

Tabola Bale menjadi salah satu contoh paling fenomenal. Karya Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel itu mempertemukan Melayu Indonesia Timur, unsur bahasa daerah Flores, dan bahasa Minang dalam satu lagu. Perbedaan bahasa bukan menjadi penghalang, tetapi justru bagian dari kekuatan karya tersebut. Di jalur berbeda, grup perempuan Indonesia No Na bergerak dalam lanskap pop global dengan bahasa Inggris, tetapi tetap membawa istilah, simbol, dan keseharian Indonesia dalam karya mereka. Fenomena tersebut memperlihatkan kecenderungan menarik: pendengar semakin terbuka terhadap hibriditas baik dalam genre, bahasa, maupun identitas budaya. Namun praktik semacam itu sebenarnya telah lama berlangsung di tingkat musisi daerah.

Perjalanan Panjang Bahasa Manggarai

Di Flores, salah satu perjalanan tersebut dapat ditemukan melalui bahasa Manggarai. Ivan Nestorman menjadi salah satu figur penting yang sejak lama mempertemukan identitas dan unsur musikal Flores dengan musik kontemporer. Perjalanannya menunjukkan bahwa bahasa dan kebudayaan lokal tidak harus berhenti pada kategori musik tradisional untuk tetap memiliki identitas.

Generasi berikutnya kini tumbuh dalam lanskap berbeda: Spotify, YouTube, TikTok, serta kebiasaan mendengarkan musik lintas negara dan bahasa. Salah satu musisi yang bereksperimen dalam ruang tersebut adalah penyanyi dan penulis lagu asal Manggarai, Herto Bastian Abul. Dalam perjalanan bermusiknya, Herto menggunakan bahasa Manggarai, Indonesia, dan Inggris. Namun ketiganya tidak selalu berdiri sendiri. Pada beberapa karya, bahasa-bahasa tersebut justru bertemu dalam lagu yang sama.

Jejak itu dapat ditarik setidaknya hingga Ca Nai pada 2013, ketika bahasa Inggris dan Manggarai hadir dalam satu karya. Album Laboratory (2019) kemudian memperlihatkan spektrum yang lebih luas. Di dalamnya terdapat karya penuh berbahasa Inggris seperti This Is My Now, My Drug My Remedy, dan I Want You with Me, serta lagu-lagu berbahasa Indonesia seperti Percaya Padaku, Bisa-Bisanya, Jadikanlah Aku Pacarmu, dan Tersenyumlah. Sementara Sudah Sudahlah mempertemukan Indonesia dan Inggris dalam satu lagu. Eksperimen bahasa itu semakin terlihat dalam Neka Tombo Ata dari EP Voice Note (2020). Lagu yang membawa nasihat sang ibu agar tidak gemar membicarakan orang lain tersebut bergerak secara cair antara Manggarai, Indonesia, dan Inggris. Ungkapan lokal dapat berdampingan dengan kalimat seperti mind your own business dan karma is real.

Perpindahan tersebut sebenarnya dekat dengan keseharian masyarakat multilingual Indonesia: bahasa ibu digunakan di rumah, bahasa Indonesia di ruang publik, sementara bahasa Inggris semakin sering menyelinap dalam percakapan sehari-hari dan media sosial. Musik kemudian merekam realitas itu. Bagi Herto, semuanya berangkat dari prinsip sederhana: “Kreativitas tanpa identitas adalah hampa.”

Manggarai, Melayu Timur hingga Tobelo

Eksplorasi tersebut tidak berarti setiap lagu harus mencampurkan bahasa. Momangm E memberikan ruang kepada bahasa Manggarai, sementara Ca Ca Laku Lelon (2026) ditulis sepenuhnya dalam bahasa Manggarai. Di sisi lain, You're My God (2020) dan Here I Am (2023) menggunakan bahasa Inggris sepenuhnya. Dalam beberapa karya terbaru, identitas Indonesia Timur semakin terdengar. Sa Minta Maaf (2024), Tuhan Atur Ulang (2025), dan Apa Masalahnya (2026) menggunakan bahasa Indonesia dengan karakter Melayu Indonesia Timur. Pada Tuhan Atur Ulang, misalnya, bahasa menjadi pembawa memori tentang rumah: kue Natal buatan mama, suara bapa, dan kerinduan pada masa kecil menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang iman dan kesempatan memulai kembali.

Sementara Sampe Ancor! (2025) bersama Ary Hehega dan Brenda Croeylin memperluas pertemuan tersebut. Melayu Indonesia Timur menjadi ruang bersama, sementara bahasa Manggarai dan Tobelo hadir berdampingan. Manggarai bertemu Tobelo, dengan Melayu Indonesia Timur menjadi jembatannya. Perjumpaan itu sekaligus mengingatkan bahwa “Indonesia Timur” bukanlah satu identitas tunggal. Di dalamnya terdapat banyak bahasa, suku, tradisi, dan pengalaman yang justru dapat saling memperkaya.

Identitas Bukan Penghalang

Apa yang terjadi hari ini melalui Tabola Bale, hipdut, dan berbagai karya populer berbasis lokal menunjukkan bahwa batas antara “musik daerah” dan “musik nasional” semakin cair. Bahasa daerah tidak harus selalu dipasangkan dengan musik tradisional. Bahasa Inggris tidak otomatis menghilangkan identitas Indonesia. Begitu pula seorang musisi dari daerah tidak harus memilih antara mempertahankan akar atau berbicara kepada pendengar yang lebih luas. Praktik Herto hanyalah salah satu bagian kecil dari perjalanan tersebut.

Dari eksperimen Ivan Nestorman dan generasi musisi Manggarai sebelumnya hingga musisi-musisi yang tumbuh pada era digital, bentuk ekspresinya terus berubah, tetapi ada satu pertanyaan yang tetap relevan: bagaimana membawa sesuatu dari rumah ketika musik bergerak semakin jauh melampaui batas geografis?

Bagi Herto, jawabannya bukan dengan menolak pengaruh baru. Justru sebaliknya: Manggarai dapat bertemu Indonesia, Inggris, bahkan Tobelo. Tradisi dapat berdialog dengan pop kontemporer. Identitas tidak harus dijaga dengan membuatnya berhenti berubah.

Sebab menjadi modern tidak seharusnya menuntut seseorang melupakan dari mana ia berasal “Kreativitas tanpa identitas adalah hampa.” Dan mungkin di tengah semakin terbukanya musik Indonesia terhadap bahasa dan bunyi dari berbagai daerah, prinsip itu menemukan momentumnya: lokalitas bukan lagi sesuatu yang harus disembunyikan untuk menjangkau dunia. Ia justru dapat menjadi alasan dunia mendengarkan.