Dari Langit ke Lahan, Petani Oeltua Petakan Cadangan Pangan Desa

MUS • Sunday, 23 Aug 2026 - 08:12 WIB

Oeltual — Peta foto udara yang semula hanya memperlihatkan bentang Desa Oeltua dari ketinggian berubah menjadi ruang diskusi bagi para petani untuk menunjukkan sumber pangan mereka sendiri.

Sebanyak 15 anggota Kelompok Tani Nekaf Mese terlibat dalam Focus Group Discussion (FGD) 1 penyusunan Peta Cadangan Pangan Desa Oeltua di Kantor Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Kamis, 20 Agustus 2026.

Di atas peta hasil pemotretan drone, peserta menandai lokasi lahan pertanian, mengenali batas wilayah, menunjukkan jenis komoditas yang dibudidayakan, hingga menelusuri jalur dari bedengan menuju jalan utama. Proses tersebut menjadi langkah awal untuk mengubah pengetahuan lokal petani menjadi informasi spasial yang lebih terstruktur dan dapat digunakan untuk mendukung perencanaan ketahanan pangan desa.

Ketika Pengetahuan Petani Bertemu Teknologi

FGD 1 merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Kupang bertajuk “Penguatan Ketahanan Pangan Desa Oeltua Kabupaten Kupang melalui Penyusunan Peta Cadangan Pangan Berbasis Partisipasi Masyarakat.” 

Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat. 

Ketua Tim Pengabdian, Amandus Jong Tallo, menekankan bahwa teknologi dalam kegiatan tersebut ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat, bukan menggantikan, pengetahuan yang dimiliki masyarakat.

“Drone dapat merekam wilayah dari udara, tetapi petanilah yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di atas lahannya. Mereka mengetahui lokasi tanam, jenis komoditas, akses menuju lahan, dan berbagai kondisi yang dihadapi. Karena itu, peta cadangan pangan ini harus dibangun dengan mempertemukan teknologi dan pengetahuan masyarakat,” ujar Amandus.

Menurutnya, keterlibatan petani sejak awal menjadi penting agar produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai peta teknis.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya menerima peta yang sudah jadi. Mereka harus ikut membaca, mengoreksi, dan menentukan informasi yang masuk ke dalam peta. Ketika masyarakat memahami datanya sendiri, peta dapat benar-benar digunakan sebagai dasar untuk merencanakan pertanian dan memperkuat ketahanan pangan desa,” tambahnya.

Sekitar 60 persen peserta FGD berjenis kelamin perempuan, memperlihatkan kuatnya keterlibatan perempuan dalam aktivitas pertanian dan proses pengelolaan informasi pangan di tingkat kelompok.

Tiga Drone Memotret Lebih dari Seribu Hektare

Peta dasar yang digunakan masyarakat tidak muncul begitu saja. Sebelumnya, pada 3–6 Agustus 2026, tim pengabdian melakukan pemotretan udara menggunakan tiga unit drone untuk menjangkau wilayah Desa Oeltua yang luasnya sekitar 1.036 hektare.

Proses pemetaan menghadapi tantangan berupa kondisi angin yang cukup kuat. Tim menyiasatinya dengan mengutamakan penerbangan pada pagi hari dan menghentikan sementara pengoperasian drone apabila kondisi angin tidak memungkinkan. Sebanyak 10 orang dari tim pengabdian terlibat dalam proses tersebut dengan pendampingan lima anggota Kelompok Tani Nekaf Mese.

Hasil pemotretan kemudian digunakan sebagai peta dasar dalam FGD. Di sinilah teknologi udara bertemu dengan pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam ingatan dan pengalaman petani. 

BACA JUGA: Digitalisasi Posyandu Desa Cibodas: STIKep PPNI Jabar Latih Kader Tingkatkan Sensitivitas Ibu

Peserta terlebih dahulu melakukan identifikasi batas lima dusun di Desa Oeltua. Selanjutnya, mereka menunjukkan lokasi pertanian, jenis tanaman, dan akses dari lokasi produksi menuju jalan utama.

Perbedaan persepsi mengenai beberapa lokasi sempat muncul dalam diskusi. Tim kemudian menampilkan foto udara secara lebih rinci melalui layar laptop dan menggunakan jalan, bangunan, serta landmark yang mudah dikenali sebagai titik referensi. Dengan cara tersebut, lokasi dapat dikonfirmasi secara bersama-sama.

Sawi, Cabai, dan Jagung Mulai Masuk Basis Data

Proses pemetaan juga membuka informasi lebih rinci mengenai kegiatan pertanian Kelompok Tani Nekaf Mese. Komoditas yang dibudidayakan antara lain sawi putih, cabai, dan jagung. Sistem budidaya dilakukan dalam bentuk bedengan dengan luas sekitar 70 meter persegi setiap bedengan, sementara setiap anggota mengusahakan sekitar tiga hingga lima bedengan.

Meski baru terbentuk pada awal 2025, kelompok ini telah menjalankan aktivitas produksi dan pemasaran. Hasil pertanian tidak hanya dipasarkan di wilayah Kecamatan Taebenu, tetapi sebagian telah menjangkau Pasar Oesapa.

Informasi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup dibaca hanya dari luas lahan. Data mengenai komoditas, produksi, waktu panen, akses jalan, harga, hingga tujuan pemasaran sama pentingnya untuk memahami bagaimana sistem pangan lokal bekerja.

Dari Peta Menuju SDG 2: Tanpa Kelaparan

Penguatan data pangan berbasis masyarakat diharapkan mendorong ketahanan pangan desa sekaligus mendukung semangat Sustainable Development Goal 2 (SDG 2): Tanpa Kelaparan.

Keterkaitan tersebut terutama terlihat pada upaya memperkuat kapasitas produsen pangan, mendukung pengelolaan sumber daya pertanian secara lebih terencana, dan membangun sistem pertanian yang semakin berbasis informasi. 

Karena itu, program tidak berhenti pada pembuatan peta. FGD 1 juga digunakan untuk menggali informasi mengenai rantai produksi dan pemasaran, mulai dari bibit, pupuk, pengairan, pemeliharaan, panen, pengemasan, distribusi, hingga pemasaran hasil.

Data tersebut akan dikembangkan menjadi dashboard produksi dan pemasaran berbasis Microsoft Excel 365. Dashboard dirancang untuk membantu kelompok mencatat komoditas, jumlah produksi, waktu panen, volume penjualan, harga, dan tujuan pemasaran. 

Dengan demikian, peta dan dashboard akan bekerja secara saling melengkapi. Peta menunjukkan di mana pangan diproduksi dan potensi lahannya berada, sedangkan dashboard menjelaskan apa yang diproduksi, berapa jumlahnya, kapan dipanen, dan ke mana hasilnya dipasarkan.

Peta Kembali ke Tangan Petani

Peta hasil FGD 1 masih merupakan peta kerja. Tim selanjutnya akan melakukan verifikasi sejumlah lokasi menggunakan Avenza Map untuk memperoleh titik koordinat dan memastikan kesesuaian informasi masyarakat dengan kondisi di lapangan. Data tersebut kemudian akan disempurnakan melalui Sistem Informasi Geografis sebelum ditetapkan sebagai Peta Cadangan Pangan Desa Oeltua.

Tahapan selanjutnya direncanakan melalui FGD 2 pada pertengahan September 2026. Kegiatan akan difokuskan pada finalisasi peta, pelatihan dan finalisasi dashboard produksi-pemasaran, serta evaluasi kemampuan anggota kelompok dalam menggunakan kedua teknologi tersebut. 

Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya ketika sebuah peta berhasil dicetak atau dashboard selesai dibuat. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika petani Oeltua mampu mengenali lahannya, membaca datanya, mencatat produksinya, memahami pasarnya, dan menggunakan informasi tersebut untuk merencanakan masa depan pangan desanya sendiri.