Lima Jilid Sejarah Indonesia Diluncurkan, Kemenbud Dorong Cara Pandang yang Lebih Kritis

AKM • Tuesday, 1 Sep 2026 - 07:18 WIB
Kementerian Kebudayaan RI meluncurkan lima jilid buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global.

JAKARTA — Kementerian Kebudayaan RI meluncurkan lima jilid buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global sebagai bagian dari upaya memperkaya referensi sejarah nasional sekaligus mendorong masyarakat memahami perjalanan Indonesia secara lebih kritis.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan penyusunan buku tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan karya sejarah nasional yang disusun dengan melibatkan para akademisi dan peneliti dari berbagai latar belakang.

“Karya ini menjadi jawaban atas inspirasi panjang, terutama para sejarawan dan organisasi, untuk menghadirkan penulisan sejarah nasional,” ujar Fadli Zon dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8).

Menurut Fadli, pemerintah dalam proses penyusunan buku tersebut berupaya memberikan ruang yang cukup luas kepada tim penulis untuk menentukan materi dan substansi. Kementerian Kebudayaan, kata dia, lebih banyak menjalankan fungsi konsultatif tanpa melakukan intervensi terhadap isi tulisan.

“Sejak awal proses penyusunan, Kementerian Kebudayaan secara konsisten menempatkan diri sebagai konsultator substansi, ideologi, dan narasi. Tim penulis diberikan ruang secara independen untuk menjaga kreativitas dan kebebasan akademik,” katanya.

Ia menjelaskan, buku tersebut membawa misi untuk mengubah cara pandang terhadap pembelajaran sejarah. Sejarah tidak semestinya hanya dipahami sebagai rangkaian tanggal dan peristiwa yang harus dihafalkan, tetapi juga dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memahami perjalanan masyarakat.

Dalam penulisan buku tersebut, Indonesia ditempatkan sebagai subjek yang aktif dalam perjalanan sejarah. Pendekatan yang digunakan diharapkan tidak semata-mata melihat sejarah Indonesia dari sudut pandang kolonial.

“Buku ini menempatkan Indonesia sebagai subyek aktif, Indonesia-sentris, perspektif Indonesia, bukan perspektif kolonial,” tegas Fadli.

Melibatkan 123 Penulis

Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global disusun dengan melibatkan 123 penulis. Mereka berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, antara lain sejarawan, arkeolog, filolog, epigraf, serta peneliti.

Para penulis tersebut berasal dari 34 universitas dan 11 lembaga nonperguruan tinggi. Keterlibatan berbagai disiplin ilmu tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang digunakan dalam menyusun narasi sejarah Indonesia.

Secara keseluruhan, karya tersebut dirancang dalam 11 jilid. Lima jilid telah diluncurkan, sementara enam jilid lainnya dijadwalkan menyusul pada September 2026.

Lima jilid yang telah diluncurkan masing-masing berjudul Akar Peradaban NusantaraNusantara dalam Jaringan GlobalNusantara Dalam Jaringan Global: Timur TengahInteraksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi, serta Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial.

Fadli mengakui proses penyusunan buku membutuhkan waktu cukup panjang. Durasi pengerjaan tidak hanya berkaitan dengan penulisan materi, tetapi juga mencakup sejumlah pekerjaan pendukung, seperti pengurusan hak cipta foto, penyuntingan, hingga desain dan tata letak buku.

Bisa Diakses Secara Digital

Selain diterbitkan sebagai buku, karya sejarah tersebut juga dapat diakses masyarakat melalui laman pustakabudaya.id. Penyediaan dalam format digital diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap referensi sejarah, termasuk bagi mereka yang berada di luar pusat-pusat pendidikan dan penelitian.

Fadli berharap buku tersebut dapat dimanfaatkan secara luas, termasuk menjadi salah satu rujukan dalam berbagai kegiatan penelitian mengenai sejarah Indonesia.

Di sisi lain, Kementerian Kebudayaan juga menaruh perhatian terhadap keamanan versi digital buku tersebut. Pemerintah akan memastikan naskah yang tersedia secara daring mendapat perlindungan untuk mengantisipasi potensi penyalahgunaan, manipulasi, maupun peretasan.

Dengan peluncuran lima jilid pertama ini, rangkaian penyusunan sejarah nasional tersebut masih akan berlanjut hingga seluruh 11 jilid rampung. Kehadiran karya tersebut diharapkan dapat menambah pilihan referensi sejarah sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat perjalanan Indonesia dari perspektif yang lebih luas dan kritis.