21 Tahun Bertugas, Asep Saksikan Perubahan Wajah Pemasyarakatan

AKM • Monday, 24 Aug 2026 - 13:27 WIB
Dua puluh satu tahun bekerja di Lapas Kelas IIA Garut Asep Supriatna (Kanan)

GARUT — Dua puluh satu tahun bekerja di Lapas Kelas IIA Garut membuat Asep Supriatna melihat perubahan pemasyarakatan secara langsung. Berawal sebagai perawat pada 2005, Asep kini menjabat Kepala Seksi Kegiatan Kerja dan menyaksikan pergeseran pendekatan dari dominasi pengamanan menuju pembinaan yang lebih menekankan kemandirian.

“Yang saya tahu Pemasyarakatan saat itu hanya berfokus pada pengamanan warga binaan. Kalau untuk kemandiriannya seperti sekarang tidak terlalu menonjol,” kata Asep di Lapas Garut, Rabu (19/8/2026).

Saat masih bertugas di bidang kesehatan, Asep merasakan perbaikan layanan mulai sekitar 2010. Ketersediaan tenaga kesehatan meningkat, sementara akses warga binaan terhadap layanan rumah sakit juga semakin baik. Lapas Garut kemudian memiliki dokter sendiri sekitar 2022.

Selama sekitar 15 tahun menjadi perawat, Asep kemudian beralih ke bidang kegiatan kerja. Ia melihat pembinaan kemandirian kini berkembang lebih luas dibanding masa sebelumnya yang banyak berfokus pada pelatihan.

Lapas Garut saat ini memiliki 24 kegiatan kemandirian. Menurut Asep, lebih dari 30 persen warga binaan terlibat dalam kegiatan kerja, sementara lainnya mengikuti berbagai program seperti kebersihan, pembinaan kepribadian, kepramukaan dan pesantren.

Pemetaan minat dan bakat dilakukan sejak warga binaan masuk. Mereka yang belum memiliki keterampilan diarahkan ke kegiatan yang relatif mudah dipelajari, termasuk produksi coir sheet berbahan serat sabut kelapa.

“Harapannya ketika dia turun ke blok sudah siap bekerja dan sudah bisa,” ujarnya.

Selain keterampilan, kegiatan kerja juga memberikan premi kepada warga binaan. Bagi Asep, pengalaman tersebut penting sebagai bekal ketika mereka kembali ke masyarakkat.

Interkasi demgan Warga Binaan

Perubahan juga terjadi dalam cara petugas berinteraksi dengan warga binaan. Menurut Asep, pendekatan yang dulu lebih menempatkan petugas sebagai penjaga kini semakin mengedepankan hubungan yang humanis.

“Kalau sekarang yang saya rasakan kita sebagai orang tua warga binaan, kadang menempatkan diri sebagai saudara mereka dan bahkan sebagai teman mereka,” katanya.

Salah satu pengalaman yang diingatnya adalah ketika menangani warga binaan bernama Jefri asal Aceh yang kerap datang ke klinik dengan berbagai keluhan. Setelah diajak berbicara, Asep mengetahui bahwa kunjungan tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan psikologis dan keinginan mencari suasana berbeda.

Jefri kemudian diarahkan mengikuti kegiatan keagamaan. Perlahan, kunjungannya ke klinik berkurang dan ia lebih aktif di masjid. Menurut Asep, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembinaan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada aturan.

Meski demikian, Asep menilai tantangan terbesar justru muncul ketika warga binaan bebas. Stigma terhadap mantan narapidana masih membuat sebagian dari mereka kesulitan memperoleh pekerjaan dan diterima kembali di lingkungan sosial.

“Harapan saya itu ada wadah kerja untuk mereka setelah pulang dari sini,” ujarnya.

Karena itu, Asep mendorong pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha dan organisasi sosial ikut terlibat dalam proses pembinaan. Menurutnya, warga binaan tetap memiliki hak atas pendidikan, kesehatan dan keterampilan.

Setelah 21 tahun bertugas, Asep melihat pemasyarakatan bukan hanya soal menjaga warga binaan selama menjalani hukuman.

"Tetapi juga mempersiapkan mereka agar memiliki keterampilan dan kesempatan untuk kembali hidup produktif setelah bebas,"'pungkasnya.