Bandung — Pemerintah Kota Bandung menyambut kehadiran SDH Global Bandung sebagai bagian dari kolaborasi pemerintah, sekolah, guru, dan keluarga dalam memperkuat ekosistem pendidikan berkualitas.
Perwakilan Dinas Pendidikan Kota Bandung Saeful Kurniawan, M.Pd. mengatakan bertambahnya pilihan pendidikan perlu diikuti kualitas kurikulum, tenaga pendidik, dan infrastruktur yang mampu menjawab kebutuhan tumbuh kembang anak serta perubahan zaman.
“Ketika orang tua memilih sekolah, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu kurikulum, tenaga pendidik, dan infrastrukturnya,” kata Saeful, Pejabat Pelaksana Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kota Bandung, dalam Grand Launching SDH Global Bandung, Sabtu (22/8/2026).
Ia mengapresiasi kontribusi Pelita Harapan Group (PHG) dalam pendidikan. Menurut dia, peran sekolah swasta menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan Bandung yang saat ini memiliki 469 SD, terdiri atas 269 sekolah negeri dan 200 sekolah swasta, serta 267 SMP yang terdiri atas 75 sekolah negeri dan 192 sekolah swasta.
Grand Launching yang melanjutkan rangkaian soft launching sebelumnya itu menandai perjalanan baru SDH Global Bandung sebagai SDH ke-25, sementara layanan SDH kini hadir di 27 lokasi di Indonesia. Sekolah yang berlokasi di kompleks Istana Plaza Bandung tersebut dirancang melayani sekitar 1.000 siswa dengan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, fasilitas olahraga, dan ruang seni sebagai satu kesatuan lingkungan belajar.
School System Coordinator Sekolah Dian Harapan Wilik mengatakan sekolah dirancang bukan semata sebagai tempat mengejar capaian akademik. “SDH adalah sekolah yang bukan saja menekankan akademik, tetapi pendidikan holistik yang mencakup head, heart, dan hand. Kami ingin anak bertumbuh dalam pengetahuan, karakter, sekaligus kemampuan menggunakan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan,” katanya.
Pendekatan tersebut tumbuh dari perjalanan pendidikan Pelita Harapan Group yang telah puluhan tahun dirintis dan kini di bawah kepemimpinan Dr. Stephanie Riady.
Ekosistem tersebut mencakup 69 sekolah dan sebuah universitas, termasuk Sekolah Pelita Harapan (SPH), Sekolah Dian Harapan (SDH), Sekolah Lentera Harapan (SLH), UPH College, HIS, dan HORA Chinese School. Di seluruh ekosistem PHG, lebih dari 2.500 guru tersertifikasi melayani peserta didik, didukung pengembangan profesional berkelanjutan dan Professional Learning Community lintas sekolah. “Kami percaya, ketika guru bertumbuh, murid pun bertumbuh,” ujar Wilik.
Director of Learning Pelita Harapan Group sekaligus Academic Advisor Sekolah Dian Harapan Dr. Barry Shealy mengatakan kekuatan pendidikan pada akhirnya bukan hanya ditentukan kecanggihan fasilitas atau kurikulum, melainkan kualitas manusia yang mendampingi anak setiap hari.
“Dokumen kurikulum tidak mengajar anak, gurulah yang melakukannya. Teknologi tidak mengenal dan tidak dapat memberikan kepedulian kepada anak, gurulah yang melakukannya,” kata Barry.
Menurut dia, guru yang baik bukan hanya menguasai mata pelajaran, tetapi juga mengenali setiap siswa, menantang mereka mencapai kemampuan terbaik, mendampingi ketika mengalami kesulitan, serta membantu anak memahami bahwa kemampuan yang dimiliki dapat digunakan untuk melayani orang lain.
SDH Global Bandung menggunakan kurikulum nasional yang dikembangkan melalui SDH Pathway, diperkaya sumber belajar Cambridge dan tolok ukur internasional serta pendekatan pembelajaran yang terinspirasi praktik International Baccalaureate (IB), seperti pembelajaran berbasis inkuiri, pemahaman konseptual, berpikir kritis, dan penerapan pengetahuan dalam persoalan nyata.
Minat siswa dalam seni, olahraga, robotika, kecerdasan artifisial (AI), dan berbagai bidang lainnya juga dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan holistik. Barry menekankan kesiapan menghadapi masa depan tidak cukup dengan menguasai teknologi, tetapi membutuhkan kemampuan berpikir mendalam, berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan secara bijaksana, dan memiliki karakter yang kuat.
“Kita tidak dapat memprediksi setiap tantangan yang akan dihadapi anak-anak, teknologi apa yang akan mereka gunakan, atau pekerjaan apa yang kelak mereka jalani. Namun, orang tua dan sekolah bersama-sama dapat memberikan akar yang kuat kepada mereka,” kata Barry.
Menurut dia, pendidikan yang kokoh akan membuat generasi muda mampu beradaptasi dengan perkembangan STEM dan AI tanpa kehilangan nilai, karakter, serta tujuan dalam menggunakan pengetahuannya. Karena itu, SDH Global Bandung diarahkan untuk menghadirkan pendidikan yang kuat secara akademik, berakar pada konteks Indonesia, diperkaya praktik internasional, dan berlandaskan visi pendidikan Kristiani.
Barry menegaskan pendidikan terbaik juga tidak dapat dikerjakan sekolah sendirian. “Pendidikan yang paling kuat terjadi ketika orang tua dan sekolah memiliki arah yang sama, berkomunikasi secara terbuka, saling mendukung, dan bekerja bersama untuk pertumbuhan anak,” katanya.
Menurut dia, memilih sekolah pada hakikatnya berarti memilih mitra yang akan menghabiskan ribuan jam bersama anak dan turut membentuk pikiran, kebiasaan, iman, sikap, serta karakternya. Karena itu, kepercayaan keluarga harus dijawab dengan kualitas pembelajaran, guru yang kompeten dan peduli, serta kemitraan yang kuat antara rumah dan sekolah.
Grand Launching SDH Global Bandung yang ditandai dengan pemotongan pita juga menghadirkan kesaksian siswa dan orang tua, pengenalan fasilitas, serta pemaparan akademik. Momentum tersebut membawa satu pesan bahwa ukuran sebuah sekolah bukan sekadar gedung yang berdiri atau teknologi yang dimiliki, tetapi manusia seperti apa yang bertumbuh di dalamnya.
Dengan kolaborasi pemerintah, penyelenggara pendidikan, guru, dan keluarga, kehadiran SDH Global Bandung diharapkan memperkaya pilihan pendidikan sekaligus ikut menyiapkan generasi Bandung yang berpengetahuan, berkarakter, adaptif, dan mampu menggunakan talentanya untuk memberi manfaat bagi masyarakat dan Indonesia.