
JAKARTA — Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di desa mulai diarahkan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menyambut positif percepatan pengembangan energi surya nasional, termasuk visi pemanfaatan PLTS hingga 100 gigawatt (GW). Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan, percepatan tersebut membutuhkan ekosistem yang kuat, mulai dari rantai pasok, kualitas instalasi hingga tenaga kerja tersertifikasi.
AESI juga mendukung gagasan PLTS berkapasitas 1 MW di setiap desa. Salah satu model yang dikembangkan adalah mengintegrasikan PLTS dengan kegiatan ekonomi lokal melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Model tersebut tengah diterapkan di Pulau Sembur Laut, Kelurahan Galang Baru, Kota Batam, Kepulauan Riau. Deputi Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi Panel Barus mengatakan, listrik dalam proyek tersebut diposisikan sebagai faktor produksi, bukan hanya untuk penerangan.
“Jadi listrik itu menunjang aktivitas-aktivitas bisnis tadi. Bukan semata-mata listrik untuk rumah tangga,” kata Panel.
PLTS 1 MW di Sembur Laut dirancang menopang berbagai kegiatan produktif, seperti pabrik es, cold storage, penyediaan air bersih hingga SPBU nelayan. Seluruh unit usaha disusun berdasarkan kebutuhan dan potensi ekonomi masyarakat setempat.
Proyek yang mulai dibangun pada 20 Desember 2025 itu kini telah mencapai sekitar 97 persen. Produksi es batu sudah berjalan, sementara fasilitas SPBU nelayan masih dalam tahap penyelesaian.
Untuk memastikan pengelolaan berkelanjutan, sekitar 67 anak muda setempat disiapkan melalui pelatihan pengoperasian PLTS dan unit-unit usaha. Sebagian juga diarahkan memperoleh sertifikasi dari Kementerian ESDM.
Menurut Panel, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar pembangunan energi benar-benar meningkatkan kesejahteraan.
“Jangan sampai listrik masuk ke daerah 3T, tapi taraf kehidupannya tidak berubah. Begitu ada listrik, aktivitas produktif harus jalan,” ujarnya.
AESI menilai model Sembur Laut dapat menjadi salah satu rujukan pengembangan PLTS berbasis komunitas. Dengan pola tersebut, keberhasilan energi surya tidak hanya diukur dari kapasitas listrik yang terpasang, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, menggerakkan usaha dan meningkatkan ekonomi masyarakat desa.