Menuju Indonesia Emas 2045, Didi Irawadi Soroti Sekolah Rusak dan Kesejahteraan Guru

AKM • Friday, 14 Aug 2026 - 15:11 WIB
Ilustrasi Indonesia Emas 2045

JAKARTA — Politisi sekaligus praktisi hukum Didi Irawadi Syamsuddin, menilai cita-cita Indonesia Emas 2045 harus dibangun dari fondasi pendidikan yang kuat. Menurutnya, target menjadi negara maju tidak akan tercapai apabila masih terdapat sekolah yang tidak layak serta guru yang belum memperoleh kesejahteraan memadai.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (14/8), Didi mengatakan pembangunan sumber daya manusia harus menjadi bagian utama dari strategi menuju 2045. Ia menyoroti masih adanya sekolah dengan kondisi bangunan rusak, fasilitas pembelajaran terbatas, serta akses menuju sekolah yang belum sepenuhnya aman di sejumlah daerah.

Menurut Didi, persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan kondisi fisik bangunan, tetapi juga mencerminkan prioritas pembangunan. Anggaran negara, kata dia, menunjukkan pilihan pemerintah dalam menentukan sektor yang dianggap penting.

“Sekolah yang rusak bukan semata persoalan genteng, semen, dan dinding. Ia juga persoalan pilihan,” ujar Didi yang merupakan Anggota DPR RI tiga periode ini.

Ia juga menyoroti kondisi guru yang dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan besarnya tanggung jawab mereka dalam membentuk generasi penerus. Menurutnya, penghargaan secara simbolik kepada guru harus disertai dengan kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan dan memberikan kehidupan yang layak.

Didi menilai pendidikan memiliki peran penting dalam mengurangi ketimpangan sosial. Anak dari keluarga mampu memiliki akses terhadap berbagai fasilitas pendidikan, sementara anak dari keluarga kurang mampu sering kali menghadapi keterbatasan sejak awal.

“Jika masih ada sekolah publik tidak berkualitas, fasilitas timpang, dan guru tidak memperoleh dukungan yang layak, ketidakadilan sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum anak-anak itu memasuki dunia kerja,” katanya.

Karena itu, Didi meminta pemerintah menjadikan perbaikan sarana pendidikan dan peningkatan kesejahteraan guru sebagai prioritas. Perbaikan sekolah rusak, keamanan akses menuju sekolah, ketersediaan perpustakaan, sanitasi, laboratorium, listrik serta akses teknologi dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Ia juga mendorong pemerintah mengevaluasi penggunaan anggaran agar ruang fiskal dapat diarahkan pada kebutuhan yang lebih mendesak. Program yang dinilai kurang memberikan manfaat optimal, menurutnya, perlu dievaluasi dan pemborosan anggaran harus dikurangi.

“Seorang anak tidak dapat menunggu 2045 untuk memperoleh ruang kelas yang layak. Seorang guru tidak harus menunggu Indonesia menjadi negara maju untuk hidup bermartabat,” tegasnya.

Didi menilai pembangunan pendidikan harus dimulai dari kebutuhan nyata di sekolah. Menurutnya, masa depan Indonesia tidak hanya dibentuk melalui kebijakan di tingkat nasional, tetapi juga melalui proses belajar sehari-hari di ruang kelas.

Ia berharap pemerintah menjadikan pemerataan kualitas pendidikan, perbaikan sekolah dan kesejahteraan guru sebagai agenda yang konsisten hingga target Indonesia Emas 2045 tercapai.

“Jika kita sungguh ingin Indonesia Emas 2045, maka fondasinya harus dimulai sekarang—di ruang kelas yang lebih baik, di sekolah yang layak, dan di hati guru yang sejahtera,” pungkas Didi.