
JAKARTA — Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Gerindra, Kamrussamad, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026 menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan efektivitas berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap tumbuh positif.
Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (7/8), Kamrussamad yang juga Juru Bicara Partai Gerindra mengatakan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 menjadi yang tertinggi untuk periode yang sama sejak 2022. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen, sedikit melampaui target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
"Pertumbuhan ekonomi yang kuat ini menunjukkan kebijakan pemerintah berada pada jalur yang tepat di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan eskalasi geopolitik," ujar Kamrussamad.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sejumlah sektor utama, seperti industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), disertai peningkatan konsumsi pemerintah.
"Lembaga program prioritas pemerintah serta realisasi belanja negara turut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi. Hingga semester I 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN, sementara penerimaan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target, sehingga defisit anggaran tetap terkendali pada 0,76 persen terhadap PDB," ungkapnya.
Kamrussamad juga menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah dinamika nilai tukar dan pasar keuangan global. Ia mengutip data BPS yang mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dengan kontribusi 53,32 persen terhadap PDB, sedangkan investasi tumbuh 6,87 persen dengan kontribusi 29,36 persen. Sementara itu, realisasi investasi pada triwulan II 2026 mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, ia menyoroti pemerataan pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan. Menurutnya, pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi juga terjadi di Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, serta Maluku dan Papua. Pemerataan tersebut, kata dia, didukung oleh penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang telah terealisasi sebesar Rp357,4 triliun hingga akhir Juni 2026.
Pertumbuham Ekonomi
Kamrussamad juga menilai pertumbuhan ekonomi mulai tercermin pada sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,65 persen, angka kemiskinan menjadi 8,07 persen, dan rasio gini berada pada level 0,368.
"Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi tidak hanya meningkat secara kuantitatif, tetapi juga memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat," imbuhnya.
Menanggapi berbagai narasi mengenai kondisi ekonomi nasional, Kamrussamad berpendapat sejumlah indikator menunjukkan stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga, termasuk harga beberapa komoditas strategis yang relatif terkendali dibandingkan sejumlah negara lain. Ia juga menilai informasi mengenai pelepasan kewarganegaraan Indonesia perlu dipahami secara utuh berdasarkan data resmi agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru.
Ke depan, Kamrussamad mendorong pemerintah mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi melalui penguatan daya beli masyarakat, percepatan hilirisasi industri, peningkatan kemudahan investasi, serta penguatan koordinasi antarotoritas yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
," Sinerg kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan investasi diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif,"' katanya.